SAMARINDA – Kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin pemerintahan mengalami penurunan. Mengutip rilis salah satu lembaga survei beberapa waktu lalu, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat ini memengaruhi kondisi perpolitikan nasional yang disebut berada dalam kondisi terpuruk.
“Kondisi politik nasional saat ini mengalami keterpurukan. Ditandai dengan hanya 20,9 persen responden menyatakan situasi perpolitikan di Indonesia berada dalam kondisi yang baik. Sedangkan 2,0 persen lainnya menilai sangat baik, dan 34,2 persen menyatakan sangsi atau normatif,” beber Awang Faroek beberapa waktu lalu.
Kata dia, penyebab terjadinya hal ini ternyata dipengaruhi banyak faktor. Namun begitu penyebab yang sangat mendasar yaitu tingkat kepercayaan masyarakat kepada kepala daerah dan anggota DPR/DPRD atau legislatif mulai menurun. Faktor-faktor yang terdiri dari penyalahgunaan kewenangan menjadi alasan kenapa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan menurun.
“Lebih jelas lagi yaitu faktor kolusi, korupsi, nepotisme dan suap yang dilakukan dan melibatkan beberapa kepala daerah dan anggota legislatif. Baik di tingkat pusat maupun yang ada di daerah,” terangnya.
Hal ini tentu berdampak pada memburuknya citra pemerintah dan partai politik dalam pandangan masyarakat. Akibat adanya kasus-kasus yang jelas merugikan negara di antaranya korupsi dan suap tersebut. Karena itu Faroek meminta agar para pejabat dapat menghentikan segala bentuk penyelewengan di lingkungannya masing-masing.
“Mari ciptakan pemerintahan yang bersih dan perang terhadap korupsi,” tambah Faroek.
Kata dia, pemprov sudah bertekad menjadikan Kaltim sebagai islands of integrity. Dalam hal ini dia menyebut pemerintah bersama aparat hukum, dalam hal ini tim saber pungli telah bekerja dengan baik. Sehingga berhasil didapatkan satu kasus penyelewengan, korupsi, dan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan langsung oleh Mabes Polri di Samarinda.
“Saya mohon itu (OTT) yang pertama dan terakhir yang terjadi di Kaltim,” sambungnya. Lebih lanjut Faroek menyebut, masyarakat merindukan sosok-sosok pemimpin yang bersih. Yaitu yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, melainkan mengutamakan kepentingan negara. Sosok-sosok seperti ini diharapkan dapat muncul dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018.
Menghadapi momen pilgub, Faroek juga mengimbau masyarakat dan semua pihak untuk menghentikan aksi saling menghasut satu sama lain. Khususnya yang belakangan marak ditemukan di media-media sosial. “Sudah banyak usaha-usaha adu domba yang dilakukan. Saya minta stop itu semua. Supaya tidak ada lagi hasut-menghasut di antara kita,” pungkasnya. (luk)







