SANGATTA – Bupati Kutai Kutai Timur (Kutim) Ismunandar menyatakan, salah satu penyebab cepat rusaknya jalan lintas provinsi dikarenakan berat muatan kendaraan yang melintas diatas kemampuan jalan.
Sementara, pembatasan kendaraan pun sulit dilakukan, karena belum adanya jembatan timbang di pintu masuk Kutim. Oleh karena itu, untuk menyikapi masalah ini, dirinya meminta Bagian Ekonomi Sekretariat Kabupaten (Setkab) kembali melakukan kajian terkait pembangunan jembatan timbang.
“Jalan kita ini rusak karena yang melewatinya diatas standar yang disarankan. Makanya, untuk membatasinya, perlu ada pengaturan salah satunya dengan membangun jembatan timbang,” ucap Ismu.
Dia mengatakan, dengan status jalan kelas IIIB, seharusnya hanya bisa dilalui kendaraan termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton. Namun, fakta dilapangan justru yang melintas rata-rata diatas 10 ton. \
Sementara setiap tahun, tidak ada penambahan kualitas jalan. Itu sebabnya, jalan menjadi cepat rusak.
“Dengan adanya jembatan timbang, paling tidak bisa ada kontrol. Jadi kendaraan yang melintas di jalan poros sesuai dengan kemampuan jalan,” ujarnya.
Ismu juga menambahkan, Pemkab pun terus berkoordinasi dengan provinsi untuk melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan negara yang rusak. Sebab, kondisi jalan yang rusak tentu akan menyulitkan akses transportasi masyarakat.
Selain itu juga akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat, khususnya harga barang kebutuhan pokok.“Kita terus berkoordinasi dengan Pemprov, supaya perbaikan jalan itu dapat menjadi perhatian. Karena, kita tidak mungkin bisa perbaiki. Sebab statusnya jadi kewenangan provinsi,” kata Ismu. (aj)






