Kabar hamilnya mawar (bukan nama sebenarnya) yang merupakan salah satu satriwati di salah satu pondok pesantren (ponpes) akibat pencabulan oleh pemilik ponpesnya sendiri, menimbulkan pertanyaan dan keraguan di kalangan pengajar di ponpes terkait. Pasalnya menurut pengurus, jika dianalisis lewat beberapa hal, tidak relevan dengan fakta yang menyebut jika mawar telah hamil 6 bulan.
Salah satu pengajar, Adi (bukan nama sebenarnya) mengatakan, Mawar baru masuk ke ponpes tersebut sekira akhir Agustus lalu. Artinya, keberadaan Mawar di ponpes tersebut belum genap empat bulan. Hal ini berbanding terbalik dengan informasi yang menyebut Mawar sudah hamil enam bulan.
“Meski mungkin yang bersangkutan (IM, Red.) juga ikut melakukan, namun belum tentu dia sebagai pelakunya sendirian. Bisa jadi sebelum masuk ponpes disini, kondisinya anak itu sudah hamil duluan. Makanya kalau lahir nanti, baiknya anaknya perlu di tes DNA,” tuturnya.
Terlepas dari hal itu semua, Adi pun turut menyesalkan adanya kejadian ini. Bahkan, sebelumnya dia juga tak pernah menyangka jika sosok yang dianggapnya sebagai orang tua sendiri itu sampai tega melakukan perbuatan tak senonoh tersebut. Apalagi IM kesehariannya dikenal sebagi pengasuh yang tegas dan disiplin, serta taat agama.
“Saya mengibaratkan, santriwatinya itu sebagai bunga yang sedang tumbuh. Setiap hari saya siram dan pupuk dengan ilmu agama agar menjadi anak-anak yang sholehah. Namun rupanya, justru penghancur itu datang dari dalam internal ponpes itu sendiri,” bebernya.
Ke depan, Adi mengaku akan lebih intens lagi dalam memberikan pengawasan dan pembinaan sehingga tidak ada lagi kejadian seperti ini di ponpes tempat dia mengabdikan ilmunya. (bbg)







