SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang meninjau beberapa puskesmas Kota Tepian, Kamis (18/1) kemarin. Peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Difteri yang telah dikeluarkan Pemkot Samarinda.
“Tinjauan ini untuk melihat dan mendengar langsung keluhan masyarakat, khususnya terkait isu difteri yang sudah masuk ke Samarinda,” kata Jaang yang juga membagi-bagikan masker kepada para warga yang ada di puskesmas.
Selain itu, dia juga ingin melihat apakah masyarakat sudah mengetahui adanya vaksin gratis di puskesmas atau posyandu yang disediakan pemkot. Dengan adanya vaksin ini, Jaang menyebut dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk datang membawa anak-anaknya agar bisa divaksinasi.
Jaang meminta manajemen puskesmas untuk selalu proaktif salah satunya dalam penanganan difteri ini. Salah satunya dengan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat paham akan penyakit yang dapat mengakibatkan kematian ini.
“Karena kadang hanya tahu namanya saja, tapi tidak tahu bahayanya. Bagaimana cara penanggulangannya dan sebagainya. Tetapi yang lebih bagus lagi adalah cara pencegahannya daripada pengobatan,” jelasnya.

Dalam beberapa hari terakhir, fasilitas-fasilitas kesehatan seperti puskesmas, posyandu, dan klinik memberikan vaksin difteri yang kebanyakan ditujukan pada anak-anak. Sehingga sempat terjadi kekosongan stok vaksin disebabkan membludaknya masyarakat yang ingin melakukan vaksinasi untuk anak sejak status KLB ditetapkan di Samarinda.
Habisnya stok vaksin tersebut terjadi pada hari pertama dan kedua setelah status KLB difteri diumumkan. Namun dalam peninjauan kemarin, kekosongan stok ini sudah mulai terlihat terpenuhi.
“Masyarakat tidak perlu khawatir karena stok masih aman. Tinggal menunggu kiriman dari Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim,” ungkap Jaang. Diakui, memang ada kelompok usia tertentu saja yang mendapat prioritas vaksinasi. Sementara untuk orang dewasa disarankan vaksin secara mandiri.
Kata Jaang, antusias warga untuk vaksinasi terbilang baik sebagai upaya pencegahan. Tetapi di satu sisi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menariknya dalam peninjauan kemarin, yaitu di Puskesmas Palaran, Jaang mendapati laporan pasien suspect difteri bila melihat data medisnya. Sehingga kata dia, perlu segera dilakukan rujukan ke Rumah Sakit IA Moeis. Jaang mengungkap, terdapat 12 tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit pelat merah tersebut.
Jaang berujar, memang ada beberapa puskesmas di Samarinda yang memiliki fasilitas rawat inap. Namun begitu, fasilitasnya penunjangnya terbatas.
“Apabila ada pasien lain ditemukan di puskesmas dengan status suspect, segera dirujuk karena penanganannya bisa semakin cepat,” perintahnya. “Untuk pendanaannya kalau pasien positif akan ditanggung pemkot, karena ada dana KLB,” tambah Jaang.
Kunjungan Jaang kemarin didampingi Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Rustam, Kepala Diskominfo Aji Syarif Hidayatullah serta pejabat terkait lainnya. Ada delapan puskesmas yang dikunjungi yaitu Puskesmas Temindung, Puskesmas Sambutan, Puskesmas Palaran, Puskesmas Mangkupalas, Puskesmas Baka, Puskesmas Trauma Center, Puskesmas Karang Asam serta Puskesmas Segiri. (*/luk/drh)







