• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Dua Korea, Seperti Apa?

by BontangPost
10 Mei 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
NAIK PERAHU: Bersama Robert Lai menyusuri sungai masuk wilayah Korea Utara 2016 silam.(Dahlan Iskan)

NAIK PERAHU: Bersama Robert Lai menyusuri sungai masuk wilayah Korea Utara 2016 silam.(Dahlan Iskan)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Akan menjadi seperti apakah jazirah Korea kelak? Setalah Utara dan Selatan berhenti bermusuhan? Bersatukah mereka? Seperti Jerman? Atau adakah persatuan  model baru?

Belum ada pembicaraan ke arah sana. Tapi minggu lalu sudah mulai ada dua langkah nyata.

  1. Pengeras suara di perbatasan sudah dicopoti.
  2. Waktu Korea Utara sudah disamakan dengan jam di Korea Selatan. Selama ini waktu di Korut lebih cepat dari Korsel. Setengah jam. Seperti asal beda.

Memang lucu sekali. Di perbatasan kedua negara itu, masing-masing pihak pasang pengeras suara. Di sepanjang perbatasan. Berderet sejauh 250 km. Sejak puluhan tahun lalu. Corongnya dihadapkan ke wilayah lawan. Itulah pengeras suara untuk saling promosi. Eh, saling menyerang. Atau saling membalas serangan.

Tapi ada baiknya juga pengeras suara itu. Setidaknya perangnya hanya perang suara. Tidak sampai seperti Julia Perez dan Dewi Persik.

Saya pernah ke perbatasan itu. Di Panmunjom. Dari arah selatan. Banyak yang saya anggap lucu di situ. Perangnya tidak hanya dalam bentuk hallo-hallo. Tapi juga saling sebarkan pamlet. Kadang pakai balon-balon terbang. Disebarkan saat arah angin lagi menuju negara  lawan.

Baca Juga:  Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

Di perbatasan itu juga dibangun satu gedung. Separo memakai tanah Korea Utara. Separonya lagi di atas tanah Korea Selatan. Di dalam gedung itu ada ruang pertemuan. Ada pula meja rapatnya. Letak meja itu harus di tengah persis. Separo meja ada di wilayah utara. Separonya lagi di wilayah Selatan.

Kalau dua pihak lagi baikan mereka bikin rapat. Delegasi Utara duduk di meja bagian utara. Begitu juga sebaliknya.

Saya pernah mengintip ke dalam ruang rapat ini. Saat lagi tidak ada kegiatan. Dan memang selalu tidak ada kegiatan. Mereka gencatan senjata di tahun 1953. Sejak itu baru ada tiga atau empat kali rapat.

Resminya, status kedua negara itu memang masih dalam perang. Hanya saja lagi genjatan senjata. Inilah gencatan senjata terlama: 65 tahun. Perang tidak. Damai pun tak.

Baca Juga:  Profesor Egaliter untuk Yang Tanpa Kasir

Kalau keduanya lagi baikan gedung itu berguna. Tapi ‘wawuhan’ itu  biasanya hanya sebentar. Lalu “jotakan” lagi. Wawuh terlama terjadi 10 tahun lalu. Sampai Korsel diijinkan bangun pabrik-pabrik di wilayah khusus di Korut di dekat perbatasan. Tapi ternyata  jotakan lagi. Pabrik-pabrik pun harus ditutup.

Sampailah Korut tiba-tiba dipimpin anak muda tambun itu: Kim Jong-un. Yang istrinya cantik sekali itu. Dan kelihatan pinter itu. Dan modern modis itu.

Mula-mula si Tambun galak banget. Pamannya sendiri sampai  dieksekusi mati. Kekuatan nuklirnya dibangun. Beberapa kali ujicoba: gagal. Bahkan gunung ujicobanya runtuh. Tamat. Menyerah. Kebetulan ekonomi negaranya kian parah. Rakyatnya sangat miskin. Pekerjaan utamanya  seperti hanya baris-berbaris. Atau kibar-kibarkan bendera. Atau menyeru: Hidup Kim Jong-un! Pemimpin Besar Kita!

Maka adegan di perbatasan 26 April lalu itu sangat mengharukan. Kim Jong-un bertemu langsung Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Dia langkahi garis perbatasan dengan ekspresi damai. Dia salami Presiden Korsel, musuhnya itu. Keduanya berangkulan.

Baca Juga:  Motorway Murah

Presiden Korsel menepuk-nepukkan dua tangannya di bagian belakang pinggang lawannya. Kim Jong-un menepuk-nepukkan kedua tangannya di punggung atas lawannya itu. Lalu mengangkat tangan mereka dalam keadaan saling tergenggam.

Saat berjalan menuju ruang pertemuan pun mereka terus bergandengan tangan. Lalu membicarakan perdamaian abadi. Pembangunan jazirah Korea. Dan merencanakan masa depan yang cerah.

Kim Jong-un sekolah di Perancis. Atau Swiss. Dengan nama yang disamarkan. Dia tahu. Dia mengalami. Dia menghayati. Bertahun-tahun. Bagaimana seharusnya rakyat hidup. Bagaimana negara harus makmur. Gambaran kemakmuran Swiss ada di kepalanya.

Kim Jong-un tampil ke puncak karena terpaksa. Ayahnya meninggal saat umurnya belum 30 tahun. Keadaan negara sudah seperti itu: tahu sendirilah.

Tuluskah rencana damai Kim Jong-un? Setidaknya dia sudah mencopoti pengeras suara itu.(dis)

Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

WADUH!! Permakaman Bontang Sudah Overload

Next Post

Kutim Upayakan Tertib Arsip di Setiap OPD 

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.