SANGATTA – Warga meminta semua RT memantau pendatang baru di lingkungannya masing-masing. Jangan sampai mereka masuk secara ilegal ke Kutim.
Hal ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Seperti halnya sarang narkoba, terorisme, dan kejahatan lainnya.
Sasaran paling utama ialah Indekos, rumah bangsalan. Diyakini, mereka semua berasal dari luar Sangatta. Untuk itu, para RT wajib bergerak demi kenyamanan bersama. “Sedia payung sebelum hujan,” kata Linda warga Sangatta Selatan.
Untuk memastikan warga Kutim atau tidak, harus dibuktikan dengan identitas yakni KTP. Jangan sampai, warga yang memiliki KTP luar, masuk ke Kutim, secara ilegal.
“Nah caranya ialah razia. Saya belum pernah dengar ada razia kos-kosan. Padahal, di sana kita bisa tau mereka warga Kutim atau pendatang. Sudah laporan ke RT atau belum. Punya KTP atau tidak,” katanya.
Tak kalah penting lainnya ialah memastikan indekos tersebut bebas dari perbuatan asusila. Pasalnya, indekos biasanya dijadikan tempat mesum oleh oknum yang tak bertanggungjawab.
“Jangan dibiarkan begitu saja. Kan sudah banyak kejadian. Kos dijadikan tempat mesum, peredaran narkoba, dan teroris. Seharusnya bisa berkaca dari itu, ” katanya.
Benar saja, dari data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kutim, tercatat sejak empat tahun terakhir, mulai 2014-2017, jumlah pendatang di Kutim, sebanyak 18.394 jiwa.
Tiap tahun selalu meningkat. Pada tahun 2014, yang masuk ialah 1.307 jiwa. Pada tahun 2015, sebanyak 2.269 jiwa. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 8.268 jiwa, dan tahun 2017 turun menjadi 6.550 jiwa.
Jumlah ini tak termasuk mereka yang masuk secara ilegal. Mereka semua resmi ke Kutim. Mereka terdaftar di Disdukcapil. Karenanya, diketahui akan lebih banyak lagi dari data yang ada saat ini.
Sedangkan untuk jumlah kedatangan pendatang tahun 2018 ini, belum terdata secara keseluruhan. Pastinya, tak dapat dipungkiri ada pendatang yang masuk ke Kutim. Hanya saja diyakini, tak begitu signifikan dibanding pada tahun-tahun sebelumnya.
Dikatakan Kadisdukcapil, Januar Herlian Putra Lembang Alam ada beberapa Indikator banyaknya warga yang menyambangi Kutim. Pertama, karena mencari kerja. Diketahui, Kutim memiliki sejuta pekerjaan. Mulai dari pertambangan, perkebunan, migas, dan lainnya.
Kemudian, faktor pendidikan. Pendidikan juga merupakan Indikator utama maraknya pendatang ke Kutim. Sebab, diketahui, Kutim merupakan satu-satunya daerah yang menerapkan biaya pendidikan kuliah gratis. Sedikitnya dua perguruan tinggi yang dijamin pemerintah. Pertama, Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta. Begitupun sekolah tingkatan DD-SMA.
Terakhir ialah masalah ikut keluarga dan mutasi pegawai. Mutasi merupakan hal yang lumrah dilakukan. Baik tingkat bawah maupun atas. Terlebih pada saat terjadinya kebijakan baru UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
“Jadi banyak Indikator kenapa mereka datang ke Kutim,” ujar Januar. (dy)







