Kisah Inspiratif Warga Bontang: Andi Bintang Sari Ratni (171)
Menyanyi sudah menjadi bagian kehidupan Andi Bintang Sari Ratni. Melalui prestasinya di berbagai lomba menyanyi, dia bisa membantu kehidupan keluarganya. Sempat menjadi bidan di Balikpapan, perempuan yang akrab dipanggil Bintang ini sekarang mengabdi sebagai pekerja sosial di Kota Taman.
LUKMAN MAULANA, Bontang
Bakat menyanyi Bintang sudah terlihat sejak usia tiga tahun. Sejak itu pula dia sudah lekat mengikuti berbagai lomba menyanyi hingga dewasa. Bukan sekadar meramaikan, Bintang berkali-kali menorehkan prestasi dalam lomba diikutinya dan sering menyabet juara pertama. Tak hanya di Bontang, Bintang sanggup berbicara banyak dalam lomba tingkat provinsi yang diikutinya.
“Sejak SD saya memang sudah sering ikut lomba menyanyi. Sudah tidak terhitung berapa kali ikut lomba, mungkin sudah ratusan lebih,” kenang Bintang saat ditemui Bontang Post, Senin (20/2) kemarin.
Bintang berkisah, kemampuannya dalam olah vokal diwarisinya dari sang ibu yang dulu pernah menjadi biduanita dangdut. Selain Bintang, saudaranya juga ada yang menggeluti dunia tarik suara. Karenanya, keluarganya sangat mendukung kegiatan menyanyi yang dilakukan Bintang. Bahkan Bintang sempat diprotes karena tidak berlatih menjelang lomba yang akan diikutinya.
“Kalau saya memang tidak ada latihan khusus. Jelang lomba hanya menyanyi biasa saja. Makanya ketika malamnya akan ikut lomba sementara sorenya saya masih bersantai, orangtua marah-marah menyuruh saya latihan,” jelasnya.
Dalam melatih kemampuan menyanyi, Bintang mengaku tidak belajar secara khusus. Dia tidak memiliki guru ataupun belajar di tempat kursus. Melainkan, dia belajar secara autodidak dari pengalamannya mengikuti setiap lomba. Dari lomba-lomba itulah dia terus mengasah kemampuannya hingga satu per satu gelar berhasil diraih. Bintang pun bisa membantu ekonomi keluarganya lewat hadiah uang tunai dari setiap lomba yang dimenangkannya.
“Hadiah juara lomba lumayan nilainya. Mulai Rp 2 juta sampai Rp 5 juta. Uangnya langsung saya berikan kepada ibu untuk membantu keluarga. Salah satunya untuk biaya sekolah saya,” kisah Bintang.
Memang, besar keinginan Bintang untuk bisa membantu orangtuanya. Itulah yang menjadi semangatnya dalam mengikuti setiap lomba menyanyi. Mulai genre dangdut dan juga pop melayu, semua diikutinya dengan niat tulus membahagiakan keluarga. Dari situlah kemandirian Bintang terbentuk. Sesuai dengan prinsip hidupnya yang selalu ingin menjadi yang terbaik dan tidak merepotkan orang lain.
Prestasinya tersebut membuat nama Bintang perlahan dikenal di Bontang. Selain tampil dalam lomba, lajang 26 tahun ini juga kerap dipanggil untuk menyanyi di berbagai acara. Mulai dari resepsi pernikahan, acara perusahaan, hingga kampanye pemilihan kepada daerah (Pilkada) pernah diramaikannya. Bahkan dia beberapa kali dipanggil untuk mengisi acara pernikahan di daerah-daerah lain di luar Bontang. Di antaranya ke Sangatta, Muara Badak, dan Samarinda.
“Di antara penampilan menyanyi saya, yang paling berkesan saat mengikuti lomba tingkat Kaltim di Balikpapan. Karena para pesaing saya dari berbagai daerah di Kaltim. Lewat lomba itu saya juga ikut memperkenalkan Bontang. Apalagi saya berhasil menjadi juara 1,” tuturnya.
Dengan bakat dan prestasinya itu, tak heran bila Bintang sempat bermimpi menjadi penyanyi profesional. Namun sayang berbagai audisi yang diikutinya tersebut masih belum membuahkan hasil. Meski begitu dia mulai dikenal di kalangan industri musik nasional. Buktinya, pada 2016 tahun lalu, dia sempat diundang salah satu televisi swasta nasional untuk mengikuti audisi di Jakarta.
“Tapi waktu itu tidak ada biaya. Selain itu saya juga sibuk dengan pekerjaan saya di Bontang. Jadi saya putuskan untuk tidak ikut,” ujar Bintang yang mengaku mengidolakan Krisdayanti dan Rita Sugiarto.
Bungsu dari tujuh bersaudara ini memang lebih mengutamakan pendidikan dan pekerjaan ketimbang hobinya menyanyi. Karenanya walaupun melakoni kegiatan menyanyi, pendidikan maupun pekerjaannya tidak terganggu. Saat masih duduk di bangku sekolah misalnya, meski kerap pulang di waktu Subuh setelah menyanyi di hajatan, di pagi harinya Bintang tetap masuk sekolah. Baru saat pulang sekolah dimanfaatkannya untuk beristirahat.
“Kalau saat kuliah dulu mesti akrab dengan dosennya, agar bisa diizinkan untuk ikut lomba. Saat bekerja juga seperti itu. Apalagi saat saya jadi bidan, waktu kerjanya kan terbilang ketat. Jadi harus pintar-pintar mengatur agar bisa tetap menyanyi namun pekerjaan tidak terganggu,” terangnya.
Saat ditanya tentang cita-cita, Bintang mengaku sebenarnya ingin menjadi dokter. Karenanya selepas SMA dia mendaftar ujian masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda dan D3 Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim. Dia lulus seleksi di kedua kampus tersebut. Bahkan di Politeknik Kesehatan, dia berhasil menyingkirkan sekian ribu pendaftar mengisi kuota 40 orang yang dibutuhkan.
“Saya juga lulus seleksi Unmul. Ayah sebenarnya ingin saya kuliah di kedokteran. Cuman saya bilang kalau kedokteran sangat mahal biayanya. Jadi saya memilih kebidanan karena bisa buka praktik seperti dokter. Saya akhirnya kuliah di politeknik tahun 2008,” cerita Bintang.
Perjalanannya dalam menempuh pendidikan tinggi ini sendiri diwarnai kisah yang sedih. Yaitu ketika dia lulus kuliah dan bakal diwisuda di tahun 2011. Sebelum wisuda, sang ibu tengah dirawat di rumah sakit akibat diabetes. Karena ingin menghadiri wisuda, sang ibu lantas dipulangkan dari rumah sakit. Namun setelah semua keperluan wisuda dipersiapkan, tanpa disangka sang ayah yang mengalami strok tiba-tiba kritis.
“Padahal sebelumnya ayah sudah mempersiapkan semua keperluan wisuda saya. Kondisi ayah kritis, sudah tidak bisa bicara. Sampai menunggui saya mengenakan Toga. Saya sedih, tapi saya tetap berangkat wisuda. Saat wisuda saya hanya mengikuti prosesi wisudanya dan segera pulang ke Bontang. Lima hari setelah wisuda itu, ayah saya meninggal,” kisahnya.
Sepeninggal sang ayah, Bintang memutuskan kembali ke Bontang demi merawat sang ibu yang sakit-sakitan. Bintang pun menemani hari-hari terakhir sang ibu hingga akhirnya perempuan yang telah merawatnya sejak kecil tersebut berpulang menyusul sang ayah, setahun kemudian. Setelah kepergian ibunda tercinta itulah Bintang mulai memikirkan kariernya. Tawaran menjadi bidan di Balikpapan pun langsung diterimanya.
“Saat itu saya memasukkan banyak lamaran di Bontang tapi belum ada yang membuahkan hasil. Makanya ketika ada informasi lowongan dari teman untuk jadi bidan, saya langsung menanggapinya cepat,” sebut Bintang.
Setelah setahun menjadi bidan di Rumah Sakit Tentara Balikpapan, Bintang mendapat tawaran menjadi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Bontang. Sebelumnya dia sempat mengikuti seleksi pendamping PKH namun gagal karena kuotanya sudah tercukupi. Nah, di tahun 2014 dia diminta untuk mengisi posisi kosong yang ditinggalkan pendamping PKH sebelumnya.
“Keinginan saya memang bisa bekerja di Bontang. Karena saya teringat pesan ibu saya agar saya jangan meninggalkan rumah. Karena itu saya menerima tawaran tersebut dan kembali ke Bontang,” kata dia.
Menjadi pendamping PKH sendiri menurut Bintang tidak jauh berbeda dengan menjadi seorang bidan. Apalagi salah satu tugasnya adalah melakukan pendampingan pada ibu hamil dan balita. Pun begitu, Bintang mengaku menyukai pekerjaan sosial di lapangan. Berasal dari keluarga kurang mampu membuatnya bisa merasakan kepedihan yang dirasakan para kliennya, keluarga penerima manfaat (KPM) yang terdaftar dalam PKH.
“Niat saya ingin membantu mereka agar bisa mandiri melalui PKH. Saya senang bisa berkumpul dan berbaur dengan mereka yang sudah saya anggap keluarga saya sendiri,” tandas penggemar bakso ini. (bersambung)
Nama: Andi Bintang Sari Ratni
TTL: Bontang, 14 Juni 1990
Orangtua: Abdul Gani Karim (ayah), Syamsiar (ibu)
Status dalam keluarga: Bungsu dari Tujuh Bersaudara
Pendidikan:
- SD 002 Bontang Selatan (lulus 2002)
- SMP Negeri 3 Bontang (lulus 2005)
- SMA Negeri 2 Bontang (lulus 2008)
- D3 Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim (lulus 2011)
Alamat: Jalan Selat Karimata Nomor 18 RT 9 Tanjung Laut







