• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Buka Klinik Terapung, Berkeliling Kampung ke Kampung

by BontangPost
24 Oktober 2017, 11:31
in Feature
Reading Time: 5 mins read
0
DUKUNGAN KELUARGA: Lamri (duduk, dua dari kiri) bersama istri, anak, menantu, dan cucunya.(DOK PRIBADI)

DUKUNGAN KELUARGA: Lamri (duduk, dua dari kiri) bersama istri, anak, menantu, dan cucunya.(DOK PRIBADI)

Share on FacebookShare on Twitter

Perjalanan Hidup Lamri, Direktur Poltekkes Kaltim (2/Habis)

Nasihat orang tua begitu membekas dalam ingatan Lamri. Hingga dipercaya menjabat Direktur Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kaltim dua periode, pria yang murah senyum ini tetap memegang teguh nilai-nilai keimanan dan kejujuran yang diajarkan sang ayah.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Setelah lulus dari Sekolah Persiapan Rawat (SPR) di tahun 1979, Lamri kembali kampungnya di Muara Enggelam, di kawasan Danau Melintang, Kutai Kartanegara (Kukar). Dia memutuskan untuk mengaplikasikan ilmu dengan membuka klinik dan menjadi mantri di desanya. Bukan klinik biasa, Lamri membuka pelayanan klinik terapung di tahun 1980.

“Saya beli perahu kecil yang dijadikan klinik terapung. Berkeliling ke kampung-kampung. Saya telusuri dari Muara Enggelam, Tanjung Batu, Kampung Melintang, Kampung Semayang, Kampung Jempang, hingga keluar di Muara Pahu,” kenang Lamri.

Dari praktiknya di klinik terapung tersebut, Lamri mendapatkan uang yang tidak sedikit. Meski terbilang menjanjikan, namun profesinya tersebut tidak berlangsung lama. Hal ini karena Lamri berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Profesinya sebagai mantri desa lantas dia tinggalkan dan kembali merantau ke Kota Tepian.

“Uang dari klinik terapung itu lumayan besar dapatnya. Tapi saya pikir kalau saya seperti itu terus, saya tidak bisa kuliah. Memang nikmat punya banyak uang, tapi itu tidak menjadikan saya maju,” tuturnya.

Saat tiba kembali di Samarinda, Lamri diminta menjadi guru di sekolah keperawatan yang kini bernama Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) tempatnya belajar dulu. Lantas di 1982, ada penerimaan pegawai formasi perawat di rumah sakit umum (RSU) Samarinda. Lamri diterima dan sejak itu menjadi perawat sekaligus guru pembimbing di lapangan bagi adik-adik kelasnya.

“Di samping kesibukan mengajar, saya meneruskan kuliah jurusan biologi FKIP Universitas Mulawarman (Unmul). Jurusan saya lebih ke arah materi mikrobiologi. Kuliahnya di tiga tempat, dulu belum banyak bangunan di sana. Masih banyak hutan, kami yang merintis menebang,” ungkap anak keenam dari sembilan bersaudara ini.

Tahun 1984 Lamri lulus dengan titel diploma 3. Dia mulai mengikuti berbagai pelatihan mengenai keperawatan. Dari situ dia melanjutkan pendidikan penyelesaian sarjana di Unmul. Bukan hanya belajar, di kampus Lamri juga tercatat sebagai aktivis. Dia aktif di senat pada bidang kesejahteraan. Saat itulah Lamri membuka klinik di FKIP yang diperuntukkan para dosen.

Baca Juga:  Pemda Diminta Segera Obati Agustania 

“Yang dilayani di klinik mulai dari pemeriksaan tekanan darah, juga mengobati penyakit,” terang Lamri yang menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1989.

Sebagaimana saat menjadi mantri di desa, ilmu keperawatan yang Lamri miliki diterapkan di dunia medis Samarinda. Tahun 1997, dia menjadi dosen di akademi keperawatan (Akper) Samarinda. Di samping itu Lamri tetap terjun ke lapangan sebagai perawat keliling di beberapa rumah sakit, ikut membimbing para perawat yang tengah belajar di SPK.

“Saya diperbantukan di RSI (Rumah Sakit Islam) dan 20 tahun bekerja di sana. Saya sempat menjadi kepala di beberapa ruangan,” beber ayah dari Reza Pahlevi dan Anisa Aqmalia ini.

Saat menjadi perawat itulah, Lamri menyadari keunikan yang ada pada manajemen rumah sakit. Sehingga pada 1994, dia menjajal ikut dalam tes penerimaan manajemen rumah sakit Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Dalam tes yang digelar di Samarinda tersebut, Lamri diterima dan menyelesaikan pendidikan strata 2 tahun 1997.

“Dengan kompleksitas kondisi yang ada, saya melihat perlu ada manajemen berbagai keilmuan yang mumpuni. Mulai dari manajemen klinik, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, sampai dengan pergudangan,” urainya.

Kata Lamri, ada beragam usaha yang hidup dan berkembang di rumah sakit. Dari segi penginapan misalnya, ada jenis usaha perhotelan. Di mana rumah sakit harus memastikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Ada juga usaha poliklinik, bank darah, penatu, hingga restoran. Sekitar 10 sampai 15 perusahaan yang tergabung di dalam rumah sakit tersebut mesti dikoordinasikan dengan sempurna.

“Itu yang saya coba jalankan. Saya sudah mencoba dengan beberapa rumah sakit. Saya berikan pendampingan, beri penjelasan, alhamdulillah para spesialis dan dokter mendukung apa yang saya lakukan,” sebut Lamri.

Dari upayanya tersebut, kini berkembang sistem informasi manajemen rumah sakit. Bukan hanya di Samarinda, Lamri turut Saya mendampingi beberapa rumah sakit di Sangatta, Paser, Tarakan, hingga rumah sakit Pertamedika. Banyak hal yang saya ikut bersama. Pengalaman-pengalaman tersebut meninggalkan kesan baginya karena bisa mengaplikasikan ilmu yang dimiliki.

Baca Juga:  Trayek ke Bandara APT Pranoto Masih Terkendala Izin 

“Tahun 2000 saya mendapat gelar doktor honoris causa. Waktu itu diminta presentasi, kaitannya dengan sistem informasi rumah sakit. Presentasi menekankan bahwa rumah sakit harus memiliki apa yang disebut satu medical record,” paparnya.

Tahun 2001, ketika akper dilebur dengan akademi kebidanan (Akbid) Balikpapan menjadi Poltekkes Kaltim, Lamri dipercaya sebagai pembantu direktur (Pudir) II. Kiprahnya dalam dunia kesehatan Kaltim lantas membuatnya dilirik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Tahun 2008, Lamri diberangkatkan ke India selama 15 hari untuk melihat bagaimana sistem informasi di Institute Human Resources Jaipur.

“Nah di situ saya melihat sistem informasi mereka luar biasa bagus. Lalu saya coba mengembangkan di Kaltim bersama teman-teman IT. Makanya beberapa sistem informasi terbangun di Samarinda dan digunakan beberapa rumah sakit,” kata Lamri yang tengah menempuh S3 Manajemen SDM di Unmul ini.

Tahun 2010, Lamri terpilih menjadi Direktur Poltekkes. Pada periode berikutnya di 2014, dia kembali dipilih untuk masa jabatan kedua. Tahun 2017 ini menandai tahun ketujuhnya sebagai direktur Poltekkes. Selain menjadi orang nomor satu di kampus yang mencetak para tenaga medis ini, Lamri tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang dosen.

Selama kariernya di dunia kesehatan, bagi Lamri bisa bekerja bersama dan membangun kepercayaan merupakan pengalaman yang luar biasa. Misalnya ketika dia ditunjuk sebagai kepala ruangan saat masih di RSI. Sebagai sosok kepala waktu itu, Lamri selalu mengutamakan kejujuran dalam bekerja. Namun terkadang ada pihak-pihak yang berpikiran dirinya menyalahgunakan wewenang.

“Contoh ada anggaran yang dipertahankan untuk menutupi kebutuhan yang lain. Kadang-kadang ada yang mencurigai kalau anggaran itu saya pakai. Nah, di sini kepercayaan itu betul-betul harus diperlihatkan,” ujarnya.

Menurutnya kepercayaan semacam itu harus dimiliki dan dipahami secara bersama-sama. Sehingga nanti orang lain tidak hanya melihat kekurangan-kekurangannya saja. Dalam hal ini, Lamri berpikir ke depan mempersiapkan apabila ada kesulitan-kesulitan yang mungkin ditemukan.

Diakui Lamri, pengalaman saat bekerja di RSI merupakan pengalaman yang begitu berkesan. Karena di sanalah dia belajar banyak hal yang lantas mewarnai karakternya di kemudian hari. Makanya Lamri merasa sedih dengan polemik yang kini menimpa RSI. “Mudah-mudahan ke depan ada jalan keluar buat RSI,” sambung Lamri.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Warga Bontang: Pujo Semedi (235); Merasa Memiliki, Bertekad Kembalikan Kejayaan Bontang FC 

Kesan lain yang dia rasakan yaitu ketika bekerja bersama rekan-rekannya di Poltekkes. Lamri merasakan benar bagaimana suasana kebersamaan, saling percaya, dan semua dukungan dalam membangun Poltekkes. Sehingga dia tidak merasakan tanggung jawabnya saat ini sebagai suatu beban. Kebersamaan inilah yang menurutnya harus terus dipertahankan.

“Harus berkesinambungan. Itu yang ingin saya tanamkan pada teman-teman,” tambah suami dari Salmiah ini.

Lamri mengatakan, apa yang dicapainya saat ini tak terlepas dari peran kedua orang tuanya. Pesan untuk terus menjaga keimanan dan berlaku jujur terpatri dalam di setiap kesehariannya. Namun iman saja belum cukup, harus dilengkapi dengan keilmuan yang mumpuni. Salah satunya ilmu dalam hal berkomunikasi dan berperilaku setiap hari.

“Orang tua saya memberikan motivasi sehingga saya betul-betul ingat. Yang dipesankan yaitu jujur, cerdas, dan peduli. Sehingga dalam hal menjalani kehidupan, seperti apa yang dikehendaki Allah SWT,” pungkas pria kelahiran Muara Muntai yang tahun depan genap berusia enam dekade ini. (***)

TENTANG LAMRI

Nama: Drs H Lamri M Kes (MMR)

TTL: Muara Muntai, 17 November 1958

Istri: Salmiah

Anak:

  1. Reza Pahlevi
  2. Anisa Aqmalia

Pendidikan:

  • SPR lulus 1979 RSU Samarinda
  • D3 Mikrobiologi Unmul Samarinda
  • S1 Biologi Molekuler Unmul
  • Akta IV
  • S2 Manajemen RS UGM 1997
  • S3 Manajemen SDM Unmul

Karier:

  • Perawat RSU (1981-1984)
  • Guru perawat (1983-1997)
  • Dosen Akper (1997-2000)
  • Dosen Poltekkes (2001-sekarang)
  • Bekerja di RSI (1986-2002)
  • Memimpin RS Drajat (2002-2003)
  • Mendampingi RS A Moeis, RS Siaga, RS Taha Bakrie, RS PKBI, RS SMC, RS Pupuk Prima Sangatta, RS Meloy, RS SOHC, RS Asyifa, RS Aulia, RS Anak Sangatta, RS Asih, RS Bunda, RS Sampurna, RS Pertamedika Tarakan.
  • Direktur Poltekkes Kaltim (2009-sekarang)
  • Pengawas Rumah Sakit Pemprov Kaltim (2017-sekarang)

Alamat: Jalan Untung Suropati GTL RT 018, Karang Asam Ulu, Sungai Kunjang, Samarinda

Tags: kisah inspiratifMetro Samarinda
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Dukungan Rusmadi Melesat

Next Post

Besok, Ratusan Perempuan Ikuti IVA Test dan Sadanis 

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10

Terpopuler

  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengakuan Pimpinan Ponpes di Bontang Selatan Terkait Laporan Pelecehan Seksual; Mencuat Sejak 2024, Korban Trauma Berat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fogging Berbayar Muncul di Bontang, Warga Ditagih Rp50 Ribu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Bontang, Korban Disebut Lebih dari Lima Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.