• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Dag-dig-dug Para Ibu Yang Melahirkan di Masa Pandemi

by Redaksi Bontang Post
26 April 2020, 18:00
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Yunnita Setyahati menggendong Kala Jenaka di salah satu rumah bersalin di Depok. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Yunnita Setyahati menggendong Kala Jenaka di salah satu rumah bersalin di Depok. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Share on FacebookShare on Twitter

Pandemi Covid-19 memaksa para ibu hamil menjauh dari rumah sakit, bahkan untuk sekadar kontrol kehamilan. Ada yang sampai ditangani enam bidan sekaligus saat persalinan.

BAYU PUTRA, Sidoarjo-Jakarta, Jawa Pos

KEHAMILAN kali ini begitu membahagiakan Dini Nastiti Wardani. Dia hamil anak kedua dan berjenis kelamin perempuan. Serasa lengkap sudah keluarga kecilnya karena anak pertamanya laki-laki.

Dia dan suami, Achmad Firdaus, pun menyiapkan segalanya. Menjalani kontrol rutin di salah satu RS di bilangan Surabaya Selatan.

Dokternya spesialis obgyn yang dulu menangani dia saat hamil anak pertama. Dia juga sudah memesan tempat di RS tersebut untuk persiapan kelahiran, yang diperkirakan terjadi awal April.

Saat semuanya berjalan seperti yang direncanakan, datanglah si tamu tak diundang bernama virus korona. Melahirkan saja sudah proses mendebarkan. Masih harus ditambah tuntutan berhati-hati dengan virus pemicu penyakit Covid-19 yang telah merenggut banyak nyawa di berbagai negara.

Dini sudah pasti tak sendirian yang khawatir. Puluhan atau ratusan ibu hamil lainnya di penjuru tanah air tentu juga demikian sejak kasus positif pertama Covid-19 diumumkan Presiden Jokon Widodo pada awal Maret lalu.

Apalagi, di sejumlah daerah sempat tercatat pertautan ibu melahirkan dengan kasus Covid-19. Di Ngawi, Jawa Timur, misalnya. Jawa Pos Radar Ngawi melaporkan, dua pekan lalu seorang perempuan yang diindikasi terinfeksi Covid-19 menjalani proses persalinan di RSUD dr Soeroto, Ngawi.

Pasien dalam pengawasan (PDP) berusia 24 tahun asal Kecamatan Karanganyar yang mulai menjalani isolasi sejak Rabu (8/4) itu melahirkan bayi perempuan keesokan harinya (9/4). Di Jogjakarta juga ada bayi PDP yang meninggal. Di sisi lain, di Jogja juga ada bayi 4 bulan positif Covid-19 yang berhasil sembuh.

Sejak kasus positif pertama pada awal Maret, berbagai kebijakan jaga jarak untuk mencegah penularan menyusul dilakukan. Termasuk bekerja di rumah alias work from home.

Baca Juga:  Krisis Listrik di Kota Industri

Dini pun mendengar informasi bahwa RS tempat dia berencana melakukan persalinan digunakan menangani pasien Covid-19 dan sedang kekurangan APD (alat pelindung diri). Konsekuensinya, bila hendak melahirkan, dia pasti akan masuk UGD (unit gawat darurat) terlebih dahulu.

Kecemasannya otomatis bertambah. ”Padahal, di UGD itu yang sakit bukan cuma mau melahirkan aja, tapi ada orang kecelakaan, demam berdarah, macam-macam penyakit,’’ ujar penyiar radio itu saat berbincang dengan Jawa Pos akhir pekan lalu.

Di tengah kegalauan tersebut, sang suami memberikan alternatif untuk melahirkan di rumah bersalin di dekat kediaman mereka di Waru, Sidoarjo. Firdaus beralasan, di rumah bersalin hanya ada ibu yang hendak melahirkan, juga pasien ibu dan anak. Hanya, berbeda dengan RS, kali ini proses bersalin akan ditangani bidan.

Alasan Firdaus masuk akal. Bisa jadi, imun ibu kuat. Namun, bayi adalah kelompok rentan.

Masalahnya, selama ini Dini lebih percaya dokter spesialis untuk urusan anak. Usulan sang suami itu pun sempat menimbulkan perdebatan kecil di antara keduanya.

Dengan sabar, sang suami memberikan gambaran lengkap. Apa saja risiko bersalin di RS dan rumah bersalin. Di RS, dia harus masuk UGD dulu. Di rumah bersalin langsung ditangani bidan.

Di RS pasien beragam, sedangkan di rumah bersalin hanya ibu dan anak dengan keperluan yang terbatas. Risiko terpapar SARS CoV-2, si virus pemicu Covid-19, di RS lebih besar ketimbang di rumah bersalin.

Selain itu, biaya melahirkan di rumah bersalin lebih murah ketimbang RS. Dengan demikian, alokasi dananya bisa digunakan untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan si buah hati pasca melahirkan. Apalagi, jarak dari kediaman lebih dekat ke rumah bersalin ketimbang ke RS.

Dan yang utama, menurut sang suami, yang menentukan kemampuan dalam menangani kelahiran itu bukanlah pendidikan tinggi. Melainkan pengalaman dan jam terbang.

Baca Juga:  Sosok Muhammad Ali, Peraih Kalpataru dari Bontang; Melestarikan Lingkungan, Memberdayakan Masyarakat (2-Habis)

Dengan memantapkan hati, akhirnya dia melahirkan di rumah bersalin. Pada 2 April siang, Dini dan suami tiba di rumah bersalin. Langsung masuk ruang bersalin dalam kondisi bukaan 3.

Diprediksi baru 5–8 jam lagi baru lahir. Tapi, kurang dari satu jam sudah bukaan 6 dan kontraksi setiap 5 menit. Akhirnya bidan langsung ambil tindakan.

Tidak tanggung-tanggung, ada enam bidan yang menangani dia. ”Bagian nyemangatin, ambil kepala bayi, jahit-menjahit, angkat bayi, bersihkan darah, sama bagian rawat bayi,” tutur perempuan kelahiran 10 September 1989 itu.

Akhirnya, pada pukul 14.35, lahirlah putri kecil mereka yang diberi nama Retorika Khanza Falsafani dengan prosedur kelahiran normal. Dini lega sejumlah kekhawatirannya karena melahirkan bukan di RS seperti yang direncanakan akibat pandemi Covid-19 tak terbukti.

Justru banyak pengalaman baru yang dia dapat dari persalinan di tengah pandemi. Mulai profesionalnya para bidan, keintiman dengan sang buah hati, hingga ke hal-hal kecil seperti makanan. ’’Menunya bahkan lebih enak daripada menu di RS,’’ katanya, lantas tertawa.

Bahkan, pihak rumah bersalin menyarankan Dini menggunakan BPJS karena tidak ada tindakan darurat atau ekstra. Namun, yang terpenting, dia mendapati rumah bersalin menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Semua pengunjung juga wajib mengenakan masker. Disediakan wastafel, sabun, dan hand sanitizer. Pengaturan jarak antarmanusia pun dilakukan dengan baik.

’’Semua nakes (tenaga kesehatan) pakai baju lengan panjang dan sarung tangan karet rangkap dua. Lengkap dengan jilbab, masker, kacamata, dan kaus kaki,’’ tambahnya.

Pengalaman sedikit berbeda dialami Yunnita Setyahati. Sejak awal, Yunnita dan suami, Miftahulhayat, memang merencanakan untuk melahirkan di bidan tidak jauh dari kediamannya di Citayam, Depok.

Hanya, untuk kontrol kehamilan, Yunnita memang memilih di RS. Tapi, itu terakhir dia lakukan saat usia kandungannya 36 pekan.

Sebab, pada awal Maret pihak RS sudah memberlakukan protokol ekstra setelah presiden mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Mulai pengecekan suhu tubuh hingga penggunaan hand sanitizer saat akan masuk RS.

Baca Juga:  Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

Karena jumlah pasien makin banyak, pemerintah pun menganjurkan untuk berada di rumah saja. ’’Saya tidak melanjutkan kontrol di rumah sakit dan hanya di bidan saja,’’ terangnya Rabu lalu (22/4).

Yunnita hanya keluar rumah seminggu sekali, itu pun ke bidan untuk kontrol. Dia melakukan berbagai aktivitasnya di rumah untuk menjaga imunitas. Yakni, yoga dan makan makanan sehat. Dia berupaya agar kebutuhan gizinya benar-benar terkontrol selama di rumah.

Selebihnya, bila berbelanja, khususnya kebutuhan bayi, dia memilih secara daring. ’’Banyak sekali perubahan dalam persiapan persalinan,’’ lanjut perempuan kelahiran 29 Juni 1992 itu.

Yunnita memilih untuk melahirkan dengan metode gentle birth. Namun, karena pandemi, klinik bidan tempat Yunnita melahirkan melarang kehadiran pihak lain di ruang bersalin. Hanya suami yang boleh mendampingi. Jadilah tim dokumentasi batal disewa.

Akhirnya, pada 13 April lalu lahirlah putri pertama Yunnita dan Miftahul. Mereka memberi nama sang putri Kala Jenaka.

Pengalaman menjalani kehamilan hingga melahirkan di tengah pandemi memang sempat memunculkan kekhawatiran bagi para ibu. Sejumlah rencana terkait persalinan juga batal terlaksana.

Namun, bagi Yunnita, kekhawatiran itu pupus karena peran sang suami. ’’Suami memberikan energi positif agar saya tidak stres atau terlalu cemas dengan situasi pandemi ini,’’ tutur ibu rumah tangga itu.

Dini dan Yunnita kini menikmati perannya sebagai ibu. Tidak ada kunjungan dari kawan ataupun kerabat karena kondisi pandemi tidak memungkinkan itu terjadi.

Sisi positifnya, itu membuat mereka makin punya banyak waktu untuk intim dengan si kecil. Sembari menyiapkan cerita untuk dikisahkan kepada para upik tersebut kelak tentang bagaimana ibunya melahirkan mereka ke dunia di tengah pandemi mematikan. (jpc)

Print Friendly, PDF & Email
Source: Jawa Pos
Tags: featurekoronapersalinan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tak Ada Diskusi dan Studi Lapangan, Hasil Masterplan IKN Diragukan

Next Post

Hasil Rapid Test, 55 Pegawai RSIB Negatif Corona

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Jatuh Cinta di Desa Pela
Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

28 Oktober 2024, 08:18
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00
Feature

Kisah Warga Kaltim yang Menjalani Puasa di Luar Negeri; Nisa (1)

29 Maret 2023, 21:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Creative Night Market Bontang Kembali Digelar, 100 UMKM Ramaikan Jalan Cut Nyak Dien

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Daftar Tempat Parkir di Bontang yang Wajib Bayar Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean Truk Solar di SPBU Tanjung Laut Bontang Kian Parah, Usaha Warga Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Pengedar di Muara Badak Ditangkap Saat Berboncengan, Polisi Sita 16,55 Gram Sabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.