Sebetulnya ia tak paham betul seluk beluk pohon mangrove. Ketidaktahuan itu lantas berkembang lantaran ia terus disiram rasa ingin tahu dan keinginan belajar.
Fitri Wahyuningsih, BONTANG
Sejak mundur dari perusahaan tambang batu bara, Ali bisa lebih fokus. Pemberdayaan lingkungan yang dipadu dengan pengelolaan bisnis dijalankan. Bibit pohon mangrove meningkat, lantaran konsumen mereka mulai berdatangan. Walau perusahaan, instansi pemerintahan masih mendominasi. Mereka bahkan sudah mengirim bibit mangrove ke luar kota. Semisal Kutim dan Berau.
Kata Ali, ada 28 jenis mangrove yang ada di Bontang. Diantaranya Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata. Bruguiera, Xylocarpus granatum. Namun yang dikembangkan di tempatnya, semua tergantung pesanan. Kendati ia tetap memberi saran pada konsumen, menyesuaikan lokasi penanaman mereka. Kalau di laut atau pesisir, ia akan menyarankan jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata.
“Dua itu juga yang paling laris di sini,” katanya.
Sementara untuk harga pun bervariasi. Tergantung dengan siapa bibit itu dijual. Misal untuk perusahaan yang berbasis di Bontang, dipatok Rp 5000 per bibit. Kalau untuk instansi pemerintahan dari pusat, dihargai Rp 2.600. Dia tak bisa menaikkan lantaran itu sudah jadi harga patokan pemerintah. Pernah juga ia menjual mahal, Rp 9 ribu per bibit pohon ke salah satu perusahaan tambang di Kutim.
“Umumnya sih Rp 5 ribu sampai Rp 28 ribu. Yang paling mahal itu Sonneratia Ovata. Bisa dibuat macam-macam ini. Tapi paling jarang juga dipesan,” bebernya.
Kata Ali, dalam merintis pembudidayaan mangrove macam-macam tantanan sudah dihadapi. Ketika awal ia sering mendapat hinaan lantaran masyarakat memandang pekerjaan itu aneh. Berkubang dengan lumpur, mengurus mangrove, dan terbakar sinar matahari. Sangat khas pekerjaan kasar. Sementara dulunya Ali bekerja di perusahaan tambang.
“Saya dikatain, apa itu dikerjaan Pak Ali,” katanya mengingat cercaan tetangga.
Namun dia tak ambil pusing. Toh akhirnya, masyarakat melihat apa yang dilakukannya berbuah hasil. Bukan lingkungan saja terselamatkan, masyarakat setempat pun ikut diberdayakan.
Untuk belakangan ini, tantangan yang ia temui, lahan yang ditanami mangrove diklaim sepihak beberapa orang. Padahal, kata Ali, bibir pantai dan lautan itu milik pemerintah. Dan setiap aktivitas yang dilakukan pun dipastikan sudah berkoorrdinasi dengan pemda setempat.
“Biar saja itu kami tidak ambil pusing. Kalau salah kan tinggal penegak hukum yang turun,” ujarnya.
Secara terbuka Ali mengakui, pelestarian lingkungan memang jadi misi utama ia menjalankan budidaya mangrove. Namun potensi ekonomi di dalamnya semakin membuat dia bersemangat. Ali meyakini, pelestarian lingkungan yang dibarengi perbaikan ekonomi masyarakat akan membuat gerakan ini makin luas dan masif.
“Susah kalu salah satunya saja,” kata dia.
Ali kali pertama mempekerjakan warga setempat pada 2011. Ada 7 orang direkrut. Pekerjaan mereka dibagi. Ada yang membibit, ada yang menanam bibit pohon di pesisir dan sekitar sentra pembudidayaan. Ketika masuk 2012, ketika buah Sonneratia Ovata diketahui dijadikan sirup dan dodol, Ali kembali menambah personel. Ia tak ingat betul jumlahnya, yang jelas, sebagian besar ibu rumah tangga.
“Jadi berkelompok. Ada yang buat dodol, ada yang buat sirup,” katanya.
Ketika memperoleh pesanan bibit dari perusahaan, organisasi, atau instansi pemerintahan, hampir pasti ia melibatkan warga sekitar. Selama warga tersebut mau, dan tidak risih bekerja sebagai petani mangrove. Sebab pembibit dan penanam mesti rela terjun di paranite yang dipenuhi lumpur rawa yang kehitaman. Atau terbakar sinar matahari ketika menerjang laut di atas ketinting buat menjangkau lokasi penanaman pohon mangrove.
Untuk sistem pengupahan, semua dikembalikan ke pekerja. Apakah mereka ingin digaji bulanan, atau mingguan. Yang jelas, besar kecil upah dihitung dari seberapa banyak bibit yang dimasukkan ke polybag atau bibit yang ditanam. Untuk polybag, dibayar Rp 300 rupiah. Penanaman Rp 700. Ini agak mahal karena butuh kerja ekstra untuk menjangkau lokasi penananaman. Untuk ibu-ibu, mereka lebih banyak dipekerjakan untuk pembuatan sirup, dodol, dan beberapa yang lebih kuat ke pembibitan.
“Bisa sampai 500 bibit pohon ditanam sehari kalau mulai agak pagi,” katanya.
Pada 2020, Ali mulai melirik sektor ekowisata. Sentra pembibitan yang asri dan dikelilingi hutan mangrove dinilai bunya nilai jual kepada wisatawan. Rp 1 miliar rupiah ia gelontorkan untuk membangun Kafe Mangrove atau beken dengan pujasera dan berbagai fasilitas pendukungnya di sana. Namun, tempat ini belum ia buka untuk publik. Pasalnya ketika pembangunan rampung, pandemi melanda. Ia tak mau ambil risiko, tempatnya jadi klaster penyebaran virus penyakit.
“Nanti saja dulu. Yang penting sudah saya siapkan,” katanya.
Kata Ali, Kafe Mangrove itu disiapkan bila kelak seluruh lahan sudah ditanami, dan budidaya ini sudah tak menghidupi lagi. Sehingga ia dan pekerjanya bisa fokus pada pengelolaan kafe. Bentuk kerja samanya belum ia rancang total. Tapi katanya, beberapa pekerja, terutama ibu rumah tangga, nantinya diberikan tempat di pujasera. Di sana nanti mereka jualan makanan dan minuman. Beberapa yang lain jadi penjaga lokasi kafe. Ini perlu penjagaan, mengingat kafe ini terintegrasi dengan hutan mangrove yang luasannya sampai satu hektar menjorok ke laut.
“Jadi kami nanti bisa sama-sama hidup,” katanya.
Sementara lokasi parkir, yang luasnya sekitar 400 meter, juga dimanfaatkan untuk masyarakat. Kelak, ada karcis diberlakukan bagi setiap pengunjung. Namun Ali mengaku tak mau mengambil seperser pun. 50 persen hasil karcis parkir diberikan ke masjid, 25 persen ke pengelola parkir, dan 25 persen sebagai kas warga RT 01 Tanjung Laut Indah.
Belum lama ini, tepatnya Juni lalu, Ali mendapat kontrak pembibitan dan penanaman 2 juta bibit pohon mangrove. Nilainya lebih Rp 6 miliar. Ini merupakan pengerjaan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI.
Sebanyak 2 juta bibit pohon itu nantinya ditanam di dua titik di Bontang. Sebanyak 100 hektar di Segendis, 100 hektar lainnya di Melahing. Target pengerjaan hingga Desember 2021.
Untuk mengerjakan 2 juta bibit pohon itu, Ali mengaku ada ratusan pekerja dilibatkan. Semuanya tenaga kerja lokal. Mulai penyedia bambu untuk penahan bibit pohon mangrove, pembibitan, dan penanaman.
Dia tak bisa memastikan jumlahnya, karena pekerja yang datang keluar masuk. “Ada ratusan pekerja. Untuk di BRGM ini kami ditarget sampai Desember 2021. Bisa sampan 300-an orang,” katanya.
Dalam upayanya merawat lingkungan dan memberdayakan masyarakat setempat, Ali diganjar berbagai pengharagaan. Ia sampai tak ingat sudah berapa banyak penghargaan diterima. Namun yang paling berkesan ialah dari Kemen-LHK periode pada 2011. Itu kali pertama ia mendapat pengharagaan. Diizinkan injak Istana Merdeka, dan mendapat duit Rp 45 juta.
Sementara di tingkat provinsi, suda 3 kali ia menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan. 2 kali ia terima dari Gubernur Kaltim periode 2008-2018, Awang Faroek Ishak. Dan belum lama ini, pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia di Balikpapan, 29 Juni lalu, ia kembali memperoleh penghargaan yang sama dari Gubernur Isran Noor.
Adapun, penghargaan Kalpataru diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat dengan tujuan untuk mendorong peran serta, prakarsa dan keterlibatan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Juga memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah berusaha meningkatkan daya dukung lingkungan
“Kalau saya sih, bukannya tidak senang. Saya senang mendapat penghargaan. Tapi fokus saya adalah memberdayakan masyarakat dan melesatarikan lingkungan,” tandasnya. (*/ak)







