SANGATTA – Setelah hampir sepekan, banjir yang merendam Kutai Timur sejak Jumat (27/4) berangsur pergi. Meski belum sepenuhnya. Pihak pemkab menyatakan, banjir tersebut disebabkan faktor alam, bukan gangguan dari aktivitas perusahaan tambang.
Diketahui, banjir tersebut sempat merendam empat kecamatan, yakni Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Bengalon, dan Rantau Pulung. Tercatat ribuan kepala keluarga (KK) menjadi korban. Tim gabungan sampai mengerahkan banyak bala bantuan untuk mengevakuasi korban yang terjebak banjir.
Terakhir, banjir merendam beberapa tempat di Bengalon dan Rantau Pulung, dua hari lalu. Namun dikabarkan telah surut hingga tingkat kedalaman yang tak lagi membahayakan, kemarin (2/5).
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Andi Palesangi mengatakan penyebab banjir berkepanjangan tersebut adalah faktor alam. Yakni, jadwal pasang air laut, bersamaan dengan hujan deras yang panjang.
“Jadi, banjirnya itu merupakan luapan air pasang dan hujan, yang datang dari hulu sungai Kutim. Makanya banjir sampai merendam banyak tempat,” jelas Andi.
Andi memastikan banjir bukan disebabkan buangan dari lokasi tambang. Perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia yang berada di Kutim, diklaim sudah melakukan kontrol. Debit air yang dibuang bisa diatur karena memiliki pintu air.
“Perusahaan tersebut, bila hujan deras pun tetap mampu dan harus menampung air agar tak banjir,” katanya.
Dari kolam sedimen pond milik perusahaan tersebut, lanjut dia, dikelola lalu dibuang airnya secara perlahan dengan volume tertentu yang sesuai batasan. Sedimen pond merupakan penampung air dari tambang yang dikelola. Kebetulan hanya milik perusahaan tersebut yang mengarah ke Sungai Sangatta.
“Dari tujuh sedimen pond milik perusahan tersebut, batasan Q (debit air) maksimalnya masih pada batasan yang diizinkan,” paparnya. (dy)







