BONTANGPOST.ID, Bontang – RSUD Taman Husada Bontang terus mengedukasi masyarakat mengenai berbagai penyakit kulitt. Salah satunya keloid, yang sering menimbulkan persoalan estetika maupun keluhan fisik.
Keloid adalah pertumbuhan jaringan parut yang berlebihan pada bekas luka, namun kondisi ini tidak terjadi pada semua orang.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Taman Husada Bontang dr Andi Anwar Arsyad, Sp.KK,M.Kes, menjelaskan bahwa keloid lebih sering dialami oleh individu yang memiliki faktor genetika tertentu.
“Tidak semua orang mengalami keloid. Pada kebanyakan orang, luka akan sembuh tanpa bekas yang mencolok. Namun, bagi yang memiliki kecenderungan, bahkan luka kecil dapat berkembang menjadi jaringan parut yang lebih besar dan menonjol,” ujar dr. Anwar, Jumat (1/10/2024).
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan jaringan keloid dapat melampaui ukuran luka awal, tergantung pada respons tubuh saat proses penyembuhan berlangsung.
Meski penyebab pasti keloid belum sepenuhnya diketahui, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya.
“Jika luka mengalami infeksi atau cukup dalam, potensi tumbuhnya keloid akan lebih besar. Kondisi ini terjadi karena jaringan parut yang terbentuk menjadi lebih rentan untuk tumbuh secara berlebihan,” jelasnya lebih lanjut.
Walaupun keloid tidak membahayakan secara medis, beberapa pasien sering mengeluhkan rasa gatal atau nyeri di sekitar area tersebut.
Untuk mengatasi keloid, RSUD Taman Husada menyediakan beberapa pilihan perawatan, di antaranya penggunaan salep, injeksi, hingga tindakan operasi.
Namun, dr. Anwar menegaskan bahwa operasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
“Operasi memang menjadi salah satu opsi, tetapi tidak selalu disarankan. Sebab, bekas operasi dapat memicu munculnya keloid baru di area yang sama, yang justru memperburuk kondisi,” katanya.
Metode injeksi obat menjadi salah satu pilihan yang lebih banyak digunakan. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan obat ke jaringan keloid untuk menghambat pertumbuhannya.
Sementara itu, tindakan operasi biasanya disarankan untuk keloid berukuran kecil atau yang menimbulkan gejala serius, seperti nyeri atau gatal.
“Jika keloid hanya mengganggu secara estetika, kami cenderung merekomendasikan metode yang tidak invasif terlebih dahulu,” ujarnya.
Meskipun sering dianggap hanya sebagai masalah estetika, keloid dapat berdampak serius pada beberapa pasien.
“Dalam beberapa kasus, keloid bisa menyebabkan rasa nyeri atau gatal yang berkelanjutan. Hal ini tentu memengaruhi kualitas hidup pasien dan perlu ditangani,” ungkapnya.
Keloid umumnya muncul di area tubuh yang sering terlihat, seperti tangan atau kaki, sehingga sering membuat pasien merasa tidak nyaman. Namun, dr. Anwar menekankan bahwa kondisi ini tidak bersifat mematikan seperti kanker.
“Walaupun keloid tidak berbahaya, bila ada keluhan nyeri atau gatal, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan,” sarannya.
Banyak pasien mengaku bahwa keloid mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama jika lokasinya sering bersentuhan dengan pakaian atau terkena gesekan.
Untuk itu, dr. Anwar mendorong pasien untuk berkonsultasi agar dapat menentukan langkah perawatan yang sesuai. Dan mengajak masyarakat yang memiliki masalah keloid untuk berkonsultasi dan memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan demi mendapatkan perawatan terbaik.
Walau penanganan keloid belum sepenuhnya ideal, tetapi dengan perawatan yang tepat, kondisi ini dapat dikendalikan.
“Setiap kasus keloid memiliki karakteristik berbeda, sehingga pendekatan perawatannya juga perlu disesuaikan. Prioritas kami adalah mengatasi keluhan seperti nyeri atau gatal, sehingga pasien dapat lebih nyaman,” tuturnya. (*)







