SANGATTA – Gedung Pasar Sangatta Selatan (PSS) yang di bangun era Bupati Isran Noor tak berfungsi baik. Gedungnnya tak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Hanya dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan dan penampungan barang pedagang.
Sebagian pedagang hanya memanfaatkan bagian depan dan samping bangunan. Bangunan di bagian tingkat dan tengah kosong. Tak ada yang berminat.
Saat malam, gedung tersebut gelap gulita. Begitupun siang hari. Seolah tempat tersebut hanya menjadi sarang ‘setan’. Pedagang di sana lebih doyan berjualan di bibir jalan. Mulai dari jalan masuk pasar, hingga ujung gedung anyar tersebut. Semua dipenuhi pedagang. Baik sisi kiri maupun kanan.
Jalan raya yang semestinya enam meter, tinggal menjadi satu meter. Hanya dapat dilalui pejalan kaki. Jikapun ada kendaraan, harus antri beberapa detik. Jalan warga terganggu. Jalan dikuasai pedagang. Tata kelola terbilang amburadul.
“Gedungnya bagus. Fasilitas terpenuhi. Tetapi pedagang tak ada yang mau. Sangat aneh. Malah berjualan di jalan raya. Warga sangat terganggu. Arus lalulintas terganggu,” ujar Ratih salah seorang warga Sangatta Selatan.
Dari kabar sebelumnya, Pemkab Kutim tak dapat berbuat banyak atas ulah pedagang yang berjualan di jalan. Alasannya, infrastruktur masih buruk.
Warga setempat cukup memaklumi. Meskipun sudah melanggar aturan.
“Namun kini, semua sudah tersedia. Gedung baik, jalan mulus. Baru saja dicor. Jadi kami minta pemerintah menertibkan pedagang yang masih jualan di jalan. Warga ingin nyaman melintasi jalan tersebut,” katanya.
Pedagang lanjutnya, kembali diintruksikan untuk memanfaatkan gedung tersebut. Sayang tak difungsikan. Jika digunakan, dirinya yakin pasar Sangatta Selatan akan ramai.
“Jadi untuk sementara, konsumen kalau mau parkir dipanggil jalan atau di halaman parkiran masjid,” katanya.
Karena tak berfungsinya gedung, warga setempat memanfaatkan jalan untuk bisnis. Jalan umum diwakan. Perbulan cukup tinggi. Takkan ada pilihan, pedagang kecil mengaminkan.
“Saya nyawa di sini. Enggak jualan begitu saja. Sudah bayar uang sewa, kami juga bayar pungutan perhari Rp 2 ribu. Cukup berat rasanya,” kata wanita yang biasa di sapa Bude tersebut.
Dirinya tak keberatan jika harus pindah ke dalam gedung. Bahkan sangat senang. Karena tak lagi menyewa bulanan kepada oknum.
“Sangat mau sekali. Saya mau pindah masa sendiri saja. Memang harus ada yang arahkan. Semuanya pindah,” kata penjual sayur-sayuran itu. (dy)







