SAMARINDA – Aksi demo para sopir angkutan kota (Angkot) yang menolak keberadaan ojek online GoJek di Samarinda mendapat perhatian besar dari masyarakat. Hal ini tergambar dari ragam komentar di media sosial (Medsos) seperti facebook sepekan terakhir. Dalam status dan komentar yang diunggah para pengguna facebook, hashtag atau tanda pagar (Tagar) #SaveGojek pun ramai terlihat.
Sebagian besar warga Kota Tepian yang memiliki akun facebook menyesalkan kejadian demo sopir angkot tersebut. Apalagi sampai berujung aksi anarkis yang meresahkan masyarakat. Menurut mereka, aksi demo tersebut tidak perlu dilakukan. Karena baik sopir angkot dan ojek berbasis aplikasi online GoJek sama-sama memiliki pangsa pasar yang berbeda.
Akun bernama Marliana Taha dalam komentarnya di grup Bubuhan Samarinda membandingkan jenis pelayanan yang antara Gojek dan angkot. Dia mengungkapkan bila Gojek lebih fleksibel karena bisa masuk ke dalam gang-gang. Serta bisa mengantarkan makanan ke rumah.
“Angkot gak bisa beliin kita makanan. Angkot gak bisa nganterin barang kita masuk-masuk gang. Angkot gak bisa nalangin dulu kalau kita jual barang. Angkot gak bisa beliin kita pizza atau pecel kalau kita mau pesan. Lah kenapa Gojek yang jadi sasaran? Nyadar dong, kalau memang angkot bisa bekerja seperti Gojek bolehlah biar Gojek dihapuskan, angkot yang bergerak. Gimana bisa nggak? Jangan main anarkis kalau belum mampu seperti di atas,” tulis Marliana panjang.
Sementara itu akun bernama Iyar Edware Edware menulis perbedaan lain antara Gojek dan Angkot. Dalam hal ini dia menyebut pekerjaan angkot lebih mudah ketimbang Gojek. Bahkan kata dia, penghasilan angkot bisa lebih banyak.
“Padahal kalau dihitung-hitung angkot sama Gojek lebih banyak angkot yang dapat penghasilan karena dia bisa bawa lebih banyak penumpang dan bisa lebih banyak bawa barang. Kalau Gojek paling bisa 1 penumpang. Muatan seadanya,” tulis akun Iyar Edware Edware.
“Ya Gojek itu kerjanya tak seenak sopir angkot. Mereka harus mencari lokasi pesanan dulu. Kadang berhenti dulu lihat lokasi yang dituju jadi waktu lebih banyak terbuang. Tapi kalau sopir dia Cuma di jalan-jalan raya. Kadang Gojek itu sampai masuk-masuk gang kecil demi menjemput pelanggannya. Makanya kata pepatah hidup ini keras kawan. Tidak kerja tidak makan,” tambahnya.
Sedangkan beberapa akun lainnya menyarankan para sopir dan pengelola angkot untuk dapat berbenah. Khususnya dalam hal pelayanan dan dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang ada. Sehingga, dapat bersaing dan tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Hal ini yang diungkapkan Ratna Abdi dalam komentarnya menanggapi salah satu kiriman di grup Bubuhan Samarinda.
“Sopir angkot harus berbenah. Sopirnya mendapat penataran sikap dan perilaku dan di beri ID card. Jika terjadi sesuatu mudah dikenalin dari ID cardnya. Jika sopir angkot suka menaikkan tarif seenaknya maka jangan salah jika ditinggalkan penumpangnya yang lebih memilih kenyamanan dan murah,” tulis Ratna.
Beberapa akun mengeluhkan pelayanan angkot yang dinilai tidak aman dan nyaman. Sehingga banyak yang mengaku enggan menggunakan jasa angkot. Evy Rismaya Putri misalnya, akun ini menulis pengalaman buruknya pelayanan yang diberikan angkot. Hal ini membuatnya beralih menggunakan Gojek.
“Saya kapok naik angkot, setiap saya bayar pakai uang besar Rp 20 ribuan gak pernah dbalikin kembaliannya. Terus ugal-ugalan, sempat kelahi di jalanan mau mukul orang pake kunci Inggris. Dan saya penumpang satu-satunya disitu. Terus pernah juga beberapa kali sopirnya lagi mabuk, jadi saya beralih ke gojek. Pelayanannya memuaskan,” tulisnya.
Dari pantauan Metro Samarinda (Bontang Post Group/Kaltim Post Group), sebagian besar kiriman di facebook terkait demo Gojek membela keberadaan layanan ojek online ini. Beberapa kiriman di grup Bubuhan Samarinda yang membahas #SaveGojek mendapatkan ratusan komentar dan puluhan kali dibagikan. Termasuk akun “Kaltim Kece” yang membuat video parodi demo Gojek ini dengan mengambil cuplikan film “Titanic”.
Diberitakan sebelumnya, para sopir angkot melakukan demo di balai kota, Senin (6/3). Mereka meminta aktivitas ojek online berbasis aplikasi GoJek untuk dihentikan. Pasalnya, keberadaan Gojek dinilai menggerus pendapatan mereka. Gojek juga dinilai melanggar Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 31 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Tidak Dalam Trayeknya. Yang disayangkan, aksi demo ini lantas disusul aksi anarkis pengeroyokan salah seorang driver Gojek pada malam harinya. (luk)






