bontangpost.id — Pedagang makanan dan minuman di Komplek Lapangan Bessai Berinta, Bontang, tengah resah. Pasalnya, mereka mendengar isu bila pemerintah berencana menutup kembali kawasan itu. Mengingat perkembangan Covid-19 di Bontang dua minggu belakang tengah meroket.
Seperti diutarakan salah seorang pedagang, Rizky Pratama Putra. Dia mengatakan, isu itu mulai berhembus di kalangan pedagang dalam 2-3 hari ini. Ketika 5 kelurahan di Bontang tiba-tiba berubah zona merah.
Akibat isu itu, dirinya tak berani membeli banyak barang buat keperluan menu makanan dan minuman. Ia hanya membeli sekadarnya. Rizky takut, bila belanja banyak tapi ujungnya Lapangan Bessai Berinta ditutup lagi. Praktis ini bakal membuat ia yang sudah kekurangan modal, jadi semakin buntung saja.
“Takut kalau belanja banyak terus ditutup lagi, kami semakin rugi. Ini baru buka soalnya,” kata Rizky ketika disambangi di kiosnya, Rabu (24/6/2021) siang.
Jualan di Bessai Berinta memang jadi sumber utama Rizky mencari penghasilan. Dulu sebelum pandemi melanda, ia bisa memperoleh Rp 400 – Rp 500 ribu per hari. Bahkan di hari libur, Sabtu dan Minggu, bisa tembus Rp 700 ribu.
Selama Bessai Berinta ditutup, mulai putar haluan. Makanan dijual secara daring. Meski sudah coba beradaptasi dengan kondisi, tetap saja pendapatannya seret. Saban hari, jualan makanan daring hanya bisa mencetak penghasilan Rp 150 – Rp 200 ribu.
“Sangat terjun bebas. Makanya saya secara pribadi berharap sekali Lang-Lang (Bessai Berinta) tidak ditutup lagi. Kasian kami,” harapnya.
Pendapat kurang lebih serupa diutarakan Ike Suhartini. Dia bilang, kendati tak terlalu menggantungkan pendapatan dari jualan di Lapangan Bessai Berinta, tapi itu cukup menopang kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Menu yang ditawarkan Ike hanya minuman blender, mie instan rebus, dan gado-gado. Dari menu ini, dia bisa mendapat Rp 500 ribu per hari. Ini sebelum pandemi. Selama pandemi dia akhirnya jualan keliling buat memastikan dapur terus mengebul.
“Saya sih enggak jualan di sini saja. Namun besar harapan saya, Lang-Lang enggak ditutup. Walau saya yakin, pemerintah pasti tidak setega itulah. Kan kami baru saja buka ini. Masa ditutup lagi. Kayaknya tidak mungkin,” urainya.
Tanggapan Anggota Dewan
Anggota Komisi II DPRD Bontang, Bakhtiar Wakkang mengatakan, sebelum keputusan pembukaan Lapangan Bessai Berinta diambil, mestinya ini didahului dengan kajian matang. Artinya, pemerintah sudah tahu langkah apa mesti diambil buat meminimalisir potensi penyebaran Covid-19 di Lapangan Bessai Berinta. Atau strategi apa apa saja yang mesti diambil ketika tiba-tiba terjadi lonjakan kasus Covid-19 seperti saat ini. Tapi tanpa mengabaikan nasib pedagang di Lapangan Bessai Berinta.
“Kita apresiasi Lang-Lang dibuka. Tapi mestinya ada kajian sebelum pembukaan ini. Bukannya dibuka karena desakan,” kata Bakhtiar ketika dihubungi bontangpost.id, Rabu (23/6/2021) siang.
Bila sudah didahului kajian yang matang, mestinya pemerintah tidak menutup Lapangan Bessai Berinta. Tapi menjalankan protokol kesehatan di lokasi itu. Misalnya, sebelum masuk lapangan Bessai Berinta, ada petugas yang mengecek suhu tubuh pengunjung, dan membatasi jumlah pengunjung. Juga menempatkan beberapa petugas buat memastikan pedagang dan pengunjung disiplin prokes.
“Harapan saya, tempat ini tidak ditutup. Tapi pemerintah kasih solusi,” tegasnya.
Pria yang akrab disapa BW mengatakan, menutup Lapangan Bessai Berinta bukanlah solusi. Ada strategi lain bisa ditempuh pemerintah buat meminilisir potensi penyebaran Covid-19 tanpa mengabaikan nasib pedagang. Dia pun menegaskan, pemerintah wajib memberi kepastian kepada pedagang. Jangan biarkan mereka terus-terusan dirong-rong rasa khawatir.
“Pikirkan itu, kasian sekali mereka. Sekarang buat kue, tapi takut besok ditutup,” tandasnya. (*)







