• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Kisah Gerakan Rakyat Kutai Mempertahankan Kemerdekaan (5); Darah Tertumpah di Sambutan, Hujan Peluru di Samarinda

by BontangPost
23 Agustus 2017, 12:35
in Kaltim
Reading Time: 4 mins read
0
TIDAK GENTAR: Para gerilyawan di Sambutan mengadang patroli Belanda.(REPRO)

TIDAK GENTAR: Para gerilyawan di Sambutan mengadang patroli Belanda.(REPRO)

Share on FacebookShare on Twitter

Penjajah Belanda bergerak cepat menggempur perjuangan Gerakan Rakyat Kutai (GRK). Meski para pemimpin perjuangan ditangkap dan ditahan, nyatanya semangat merah putih terus berkobar. Pertempuran dan konfrontasi langsung pun tak terelakkan terjadi di Kota Tepian.

Penangkapan para tokoh GRK di Samboja membuat rencana pemberontakan terganggu. Salah seorang tokoh pejuang yang selamat yaitu H Damanhuri lantas meninggalkan Samboja menuju Handil. Dia menggabungkan diri dengan kelompok yang dipimpin Mandar, Kepala Kampung Handil.

Tanggal 24 Desember 1946, situasi semakin memanas. Herman Runturambi dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah. Oleh Berahima, kepala kampung di sana, diberitahukan bahwa Abdul Gani beserta pegawai dan polisi serta pimpinan koperasi telah ditahan militer Belanda serta dibawa ke Balikpapan.

“Situasi di Samboja dan Samboja Kuala sedang gawat dan tidak mungkin mereka ke sana. Satu-satunya jalan dengan perahu layar menjauhi pantai langsung menuju Handil,” kisah Hamdani, penyusun Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur yang memuat kisah GRK sebagaimana dikutip Metro Samarinda.

Sementara itu kondisi di Samarinda dan sekitarnya termasuk pedalaman Mahakam sedang memanas. Gerakan anti Belanda tengah bergolak dengan Muara Muntai sebagai pusatnya. Orang-orang Tionghoa pun merasa gelisah. Hal ini sehubungan keamanan yang mulai terganggu. Sehingga secara berangsur-angsur mereka meninggalkan pedalaman menuju Samarinda.

“Anggota GRK yang berada di Samarinda antara lain Djamhar Rosjidi dan S Fachrul Baragbah dan yang lainnya menggabungkan diri dengan gerilyawan yang berada di Sambutan,” terang Hamdani.

Tanggal 26 Desember 1946, Herman Runturambi dan kawan-kawannya tiba di Kampung Handil. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Mandar. Setibanya Herman di sana, para pemuda diberi latihan kemiliteran. Saat itu kondisi Balikpapan bisa dikatakan lumpuh total. Pasalnya kekuatan pejuang di Balikpapan telah hancur. Sehingga membuat para pejuang menyingkir ke berbagai penjuru daerah.

Baca Juga:  Sabu Rp 1,3 Miliar Gagal Edar 

“Ditambah lagi dengan penangkapan beberapa pemimpin masyarakat. Bisa dikatakan Balikpapan dan sekitarnya lumpuh sama sekali,” tambah Hamdani.

Menyebarnya para pejuang ini membuat Belanda semakin gelap mata. Januari 1947, Belanda dengan menggunakan kapal berpatroli di sepanjang Sungai Mahakam. Terutama di pedalaman yang dirasakan kondisinya telah gawat. Dengan membabi buta mereka menembaki perahu-perahu. Akibatnya di Kampung Kelumpang terjadi insiden penembakan yang menewaskan tiga orang sementara tiga orang lainnya luka parah.

Tujuan Belanda dalam patroli itu ialah mengejar dan menewaskan Hasanuddin Saanin yang dianggap sebagai biang keladi kerusuhan. Namun maksud tersebut tidak tercapai. Pada waktu itu, Hasanuddin Saanin memang dalam kondisi bertugas sehingga tidak berada di tempat.

“Sambil berteriak-teriak di sepanjang rantau yang mereka lalui, Belanda menyatakan telah menewaskan Hasanuddin Saanin,” tuturnya.

Tanggal 2 Januari 1947, dengan berjalan kaki Herman bersama Mandar, Marta dan kawan-kawannya berangkat menuju Samarinda dari Handil VI Muara Jawa. Sementara itu BPRI-TRI-Brig S yang bermarkas di Samarinda di bawah pimpinan Djunaid Sanusie mendengar kabar kedatangan Herman dan kawan-kawan. Lantas segera mengadakan rapat.

“Dalam rapat disepakati H Dachlan akan dikirim untuk menyampaikan surat. Surat tersebut berisi agar Herman dan kawan-kawan sebaiknya bertahan dulu di Handil VI. Sebelum berkoordinasi dengan BPRI-TI Brig S Narotama,” ungkap Hamdani.

Baca Juga:  Pengamat: Strategi Kampanye Tentukan Kemenangan

Namun sebelum H Dachlan berangkat melalui jalur sungai, rombongan Herman telah tiba di Sambutan melalui jalur darat tanggal 12 Januari 1947. Di sana rombongan pejuang yang berjumlah 26 orang disambut Djunaid Sanusie, Sulaiman Zakaria, dan La Deni.

Herman didampingi Edje, Asikin, dan Djohan bertukar pikiran dengan Djunaid Sanusie, Sulaiman, dan La Deni. Djunaid Sanusie menyarankan agar pergerakan pejuang di Sanga Sanga, Samarinda, dan Ulu Mahakam dilaksanakan dalam aksi serempak. Tujuannya agar kekuatan Belanda dapat dipecah belah.

“Namun Herman berkeras agar sesegera mungkin melancarkan serangan terhadap objek-objek vital Belanda. Mengingat jauhnya perjalanan yang mereka tempuh dari Balikpapan ke Samarinda,” jelas Hamdani.

Selain itu, pertimbangan lainnya yaitu persediaan bahan makanan masih diragukan apakah terjamin untuk dapat bertahan dalam waktu yang lebih lama. Yang terpenting menurut Herman, para pejuang saat itu berada dalam pengintaian Belanda. Sehingga dianggap tidak perlu menunggu terlalu lama. Dalam pertemuan yang terasa panas itu, pihak Djunaid Sanusie akhirnya mengalah.

“Ini dilakukan demi persatuan dan kesatuan serta solidaritas sesama pejuang,” sambung seniman kelahiran Samarinda, 57 tahun lalu ini.

Setelah pertemuan itu, Djunaid Sanusie dan kawan-kawan sepakat memperkuat pasukan Herman. Dengan menambahkan beberapa pejuang Samarinda. Antara lain Muchran Ismail, Muhammadsjah, Ganie, Alie Loho, beserta anggota sektor bawahannya dan Parhansjah Achmad.

Perkataan Herman yang menyebut para pejuang tengah diintai terbukti benar. Kedatangan para pejuang Balikpapan-Samboja di Sambutan dalam waktu singkat diketahui oleh Belanda yang memiliki banyak kaki tangan. Tanggal 13 Januari 1947, Belanda menyerang Sambutan secara mendadak. Para pejuang pun memberikan perlawanan yang gigih.

Baca Juga:  Rita: Saya Tidak Pernah Merasa Lelah

“Namun lantaran kalah dalam persenjataan, para pejuang terpaksa mundur ke Solong,” cerita Hamdani.

Dalam pertempuran di Sambutan itu, gugur seorang pejuang bernama Tarmidi sebagai kusuma bangsa. Sementara seorang informan Belanda bernama Salman ditangkap dan diserahkan kepada Mandar. Oleh Mandar, Salman dieksekusi dengan tembakan.

Di Solong tanggal 16 Januari 1947, Herman dan kawan-kawan beserta H Damanhuri, Bancet dan Idhan dari Samboja mengadakan perundingan dengan Djunaid Sanusie dan para pejuang lainnya. Ketika perundingan berlangsung, mereka mendapat informasi dari seorang pedagang ikan di Pasar Pagi. Katanya, pasukan Belanda tengah bersiap-siap mengejar dan menyerang para pejuang.

“Ternyata benar, sekira pukul 15.30 Wita, para pejuang mendapat serangan dari dua jurusan. Sehingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang karena persenjataan Belanda lebih lengkap dan modern,” bebernya.

Untuk menghindari jatuhnya korban, para pejuang memutuskan mundur ke daerah yang aman. Di bawah hujan peluru yang ditembakkan Belanda, Herman, Djunaid Sanusie, dan para pejuang lainnya melintasi pematang sawah melewati sungai menuju ke daerah yang lebih aman.

Namun di Teluk Lerong, mereka kembali diadang dan timbullah pertempuran. Para pejuang mengundurkan diri dalam pertempuran tersebut dan berhasil selamat. Lantas diputuskan agar para pejuang saling berpencar. Ini dikarenakan sifat pertempuran hanyalah secara bergerilya. Yaitu tembak dan menyingkir, bila terpojok berpindah tempat.

“Setelah dirundingkan, maka diputuskan agar dibentuk kelompok-kelompok. Sehingga menjadi empat kelompok yang bercampur baur. Masing-masing menurut kemampuan yang dimiliki,” tandas Hamdani. (luk/bersambung)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Metro Samarindasejarah
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Menteri LHK Siap Buka GCF Annual Meeting

Next Post

Kodim 0908/BTG Dukung Swasembada Pangan 

Related Posts

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10
Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat
Kaltim

Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat

22 Desember 2018, 16:00
Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 
Kaltim

Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 

21 Desember 2018, 16:30
2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 
Kaltim

2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 

21 Desember 2018, 16:20

Terpopuler

  • Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Investasi Bodong Rugikan Rp18 Miliar, Istri Anggota DPRD Bontang Ikut Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Bontang Gelar Mutasi Besok, Nama Pejabat Masih Dirahasiakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Bulan, Polisi Ringkus 24 Tersangka Narkoba, Kasus Terbanyak di Bontang Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.