Berkat tekun dan menjalankan tugasnya sesuai peraturan, kini Sukri menjadi salah satu wasit sepak takraw bertaraf nasional yang dimiliki Kota Bontang. Bahkan untuk meningkatkan kualitas perwasitannya, dia ingin mengambil penataran wasit untuk mendapatkan lisensi wasit sepak takraw di tingkat Asean.
Veri Sakal, Bontang
Sukri mengawali profesi perwasitan pertama kali di Bontang menjadi pengadil di lapangan bola voli. Namun seiring berjalannya waktu, dia mencoba menjadi wasit di olahraga sepak takraw pada 2002. Alhasil berkat menekuninya, dia malah berhasil menjadi wasit sepak takraw nasional yang dimiliki Bontang saat ini.
“Meski awalnya susah, karena saya terus mencoba menekuninya dan menjalankan tugas wasit sesuai dengan aturan yang ada. Alhamdulillah saya berhasil menjadi wasit nasional,” ungkapnya, Jumat (5/5) kemarin.
Sebenarnya keberhasilan Sukri menjadi wasit nasional, tak lepas dari salah satu pengurus dari Provinsi Persatuan Sepak Takraw Indoensia (Pengprov PSTI) Kalimantan Timur (Kaltim) kala itu, yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bontang (DPRD) Bontang, yakni Kaharuddin Jafar. Kaharuddin, yang merekomendasikan dirinya menjadi wasit karena bertepatan Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) di Bontang pada 2002.
“Mungkin saat itu Pak Haji Kaharuddin Jafar melihat saya bagus dalam memimpin pertandingan di bola voli, sehingga saya pun direkomendasikan menjadi wasit,” kenangnya.
Berkat direkomendasikan tersebut, Sukri mengaku merasa beruntung. Pasalnya, dia mendapat penataran wasit untuk bisa mendapat lisensi. Namun karena dia tidak memiliki dasar sebagai wasit sepak takraw, dia hanya mendapat sertifikat wasit S2 Daerah kala itu. Namun usai memiliki lisensi tersebut, dia mendapat kepercayaan Pengprov PSTI Kaltim untuk memimpin pertandingan di Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2 Balikpapan 2005.
“Bagusnya para pengurus di Pengprov PSTI Kaltim, mereka selalu mengorbitkan wasit meskipun statusnya masih baru,” ujarnya.
Sukri pun mengisahkan, pernah memiliki pengalaman yang tak terlupakan ketika menjadi wasit sepak takraw. Kala itu, dia yang memimpin pertandingan Pra PON di Palu 2007. Mendapat protes keras dari salah satu manajer kontingen yang mempertanyakan kelisensiannya. Namun dengan kepercayaan diri Sukri memimpin pertandingan itu, ternyata manajer malah berbalik memberikan apresiasi kepadanya karena dapat menyelesaikan pertandingan itu dengan baik.
“Manajer itu pun memeluk saya dan mengucapkan luar biasa kepada kepemimpinan pertandingan yang saya pimpin waktu itu,” tuturnya.
Setelah itu, Sukri terus mendapat kepercayaan dari Pengprov PSTI Kaltim untuk memimpin pertandingan. Bahkan, untuk meningkatkan kulitas perwasitannya dari S2 Daerah, dia memutuskan mengambil lisensi S1 Nasional di Jakarta 2007. Dengan harapan, ketika memiliki lisensi tersebut, dia dapat memimpin pertandingan di even nasional.
“Setelah mendapat lisensi S1 Nasional, saya pun dipercaya memimpin pertandingan di Kartini Cup dan kejurnas, even berskala nasional. Bahkan di PON Jabar tahun lalu saya pun dipercaya memimpin,” paparnya.
Dengan menjadi wasit nasional, menurutnya banyak hal yang bisa didapat. Seperti bisa mengunjungi daerah lain dan bisa mendapat honor lumayan di setiap pertandingan. Namun bukan itu yang ia dicari, sebab menurutnya hal yang paling mendasar diinginkan seorang wasit adalah dapat menyampaikan aturan kepada pemain dengan baik. Sehingga pertandingan pun dapat berjalan sportif dan lancar.
“Untuk meningkatkan kualitas perwasitan saya, rencananya saya akan mengambil penataran wasit lisensi tingkat Asean,” tutupnya. (Bersambung)
Tentang Sukri:
Nama: Sukri
TTL: Parepare, 9 Februari 1972
Orang Tua: Alm Palanyui-Alm Siti Arifa
Istri: Nurhayati Binti H Talebbe
Anak:
1.Alfikri Nur Hidayat
2.Alya Handayani
3.Alifla Assiddiq
4.Al Ghazali Reza Ananda
Alamat: Jalan RE Martadinata RT 27 Kelurahan Loktuan.







