• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Lima Tahun Dipelihara, Regina Sudah Dianggap Anak

by M Zulfikar Akbar
12 Februari 2018, 06:00
in Bontang
Reading Time: 5 mins read
0
SEDIH:  Tangisan Raska tak terbendung ketika orang utan yang diberi nama Regina itu diambil tim BKSDA Kaltim untuk direhabilitasi, Minggu (11/2).  (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

SEDIH: Tangisan Raska tak terbendung ketika orang utan yang diberi nama Regina itu diambil tim BKSDA Kaltim untuk direhabilitasi, Minggu (11/2). (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

Share on FacebookShare on Twitter

Tangis pun pecah dari kedua mata Meysa Riska. Gadis kecil itu seolah sangat tersakiti hatinya ketika melihat orang utan yang dipelihara oleh kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam kandang. Dalam tangisnya, nama Regina terus ia sebut. “Ginaaaa….Ginaaaa…..,” teriak Riska.

Mega Asri, Bontang

REGINA, merupakan nama yang indah untuk seekor orang utan berusia sekitar 5-7 tahun. Suparman dan Intan lah pasangan suami istri yang telah merawat atau memelihara orang utan berjenis kelamin betina itu selama lima tahun lalu. Saat itu, keduanya  kedatangan “tamu” bayi orang utan yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.

Pagi itu, istri dari Suparman yakni Intan Nirmasari masih tertidur di rumahnya, tetapi mendengar suara seperti ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dirinya pun bangun dan langsung membuka pintu rumahnya. Alangkah kagetnya Intan, karena yang dia lihat di luar itu seekor bayi orang utan.

Kala itu, tahun 2013 Regina kemungkinan baru berusia sekira delapan bulan. Dengan bulu yang masih tipis dan pendek, serta badannya yang mungil, Regina belum bisa berjalan sempurna. Sehingga dia berjalan dengan dibantu kedua tangannya. Merasa kasihan, Intan dan Suparman pun memutuskan untuk merawatnya.

“Awalnya sempat ada keinginan merawat orang utan, tetapi ternyata orang utan itu malah datang sendiri ke rumah saya. Saat itu, lagi musim kebakaran lahan, mungkin dia juga coba lari dari bahaya api di lahan,” jelas Intan sambil terisak ketika telah melepaskan Regina ke kandang untuk dibawa ke Samarinda, oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Minggu (11/2) kemarin.

Intan merawat Regina seperti anaknya sendiri. Dia diasuh, diberi makan, serta diajarkan berbagai sikap seperti tertawa dan lainnya. Kedua anak Intan dan Suparman pun menerima Regina seperti saudaranya sendiri. Sehingga mereka tumbuh bersama dan hampir menghabiskan waktu bermain bersama. “Dekat sekali sama anak-anak saya, makanya tadi nangis karena biasa main sama Gina (sapaan Regina, Red),” ujarnya.

TAK INGIN PISAH: Regina memeluk erat Intan seakan tak ingin pisah dengan “keluarga” barunya. (Fahmi Fajri/Bontang Post)

Dia menceritakan saat itu tahun 2013 sekira pertengahan bulan Maret, Regina awal datang ke rumahnya dari kebun belakang rumahnya. Intan yang tinggal di RT 05 Kelurahan Guntung itu merupakan rumah pertama yang berdiri di sekeliling kebun. Hari demi hari, Gina dirawat oleh keluarganya dengan penuh kasih. Intan mengajarinya makan menggunakan tangan kanan atau tangan bagus. Gina juga pandai berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa isyarat. Misalnya meminta makanan, meminta minum, serta lainnya. “Kalau dia lihat saya bawa makanan tangannya langsung diulurkan kaya minta, tapi kalau tidak maka disembunyikan di belakang badannya, kalau mau minum dia menunjuk tenggorokannya, disuruh senyum ngerti, diminta jambak rambut bapaknya (suami Intan, Suparman, Red) dia juga ngerti, pintar pokoknya,”ungkap dia sambil meneteskan air matanya.

Baca Juga:  Soal Penggunaan Senapan Angin, COP Minta Aparat Lebih Ketat

Disinggung mengenai perasaannya ketika Gina diambil oleh BKSDA, Intan mengaku sangat sedih. Kesedihannya ibarat dia ditinggal meninggal oleh orang tuanya. “Sedih kaya ditinggal orang tua, karena kan gak pernah balik lagi,” sebutnya hingga tangisnya pun pecah.

Kalau Gina kehujanan, lanjut Intan, dia pasti menepuk-nepuk kepalanya. Kalau malam hujan dia minta selimut karena kedinginan. Intan menginginkan dirinya bisa merawat Gina sampai ajalnya. Saat ini, Gina masih belajar untuk manjat-manjat. Oleh sebab itu, dirinya dan suaminya mengikat Gina di batang pohon jambu. “Kalau main dilepas gak diikat, tapi kalau malam diikat. Saya tidak pernah menyembunyikan karena tahu kalau orang utan gak boleh dirawat, jadi banyak orang kesini mau lihat ya saya biarkan, mereka banyak bawa makanan untuk Gina,” bebernya.

Gina sendiri sudah terbiasa hidup di antara manusia, sehingga untuk makanan pun Gina memakan apa yang dimakan oleh keluarga Suparman. Intan menyebut Gina bisa makan nasi, makanan ringan, permen, hingga es lilin. Hanya saja, Gina tak bisa makan ikan, karena pernah dirinya memberi Gina nasi padang tetapi bibir orang utan itu langsung memble. “Pokoknya gak bisa makan yang ada ikan-ikannya, tapi paling sering makan buah-buahan,” terangnya.

Kata dia, Gina jika diberi pisang satu sisir tidak dia habiskan langsung. Biasanya, dia gantung di pohon tempatnya hidup. “Kalau ditanya kenapa gak dihabiskan pisangnya, dia jawab dengan membunyikan suaranya seperti di tenggorokannya, jadi saya tanya lagi buat nanti kah? Dia bunyikan lagi hmmm,” ujarnya lagi.

Baca Juga:  Soal Orang Utan, Komisi A DPRD Minta TNK Gencar Sosialisasi 

Selama dirawat oleh keluarga Suparman, pernah satu waktu Gina terkena muntah dan berak (muntaber). Ternyata Intan melihat botol cairan aki yang sudah habis, kemungkinan diminum oleh Gina. “Kami waktu itu pergi semua, tidak ada orang di rumah kenapa pulang Gina mencret-mencret dan muntah, jadi saya bawa masuk ke rumah dikasihkan pampers (popok, Red.) sama oralit, besoknya sudah sembuh,” kenang Intan.

Bertahun-tahun tinggal, hanya itu saja saat Gina sakit. Selebihnya dia selalu sehat dan main bersama anak-anak Intan. “Apalagi jika melihat Raska (anak laki-laki Intan, Red) dicandain sama om-nya, Gina ini sibuk di pohon keliling-keliling kaya mau bantu, pokoknya gak mau betul Raska diganggu orang,” ungkapnya.

PELUK ERAT: Orang utan yang diberi nama Regina oleh Intan (jilbab coklat) tak ingin lepas dari gendongan “sang mama”. (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

Momen kedekatan antara Gina dan keluarga Suparman pun terlihat saat hendak diserahkan ke BKSDA Kaltim. Minggu (11/2) pagi sekira pukul 10.30 Wita, Tim Rescue BKSDA Kaltim yang masuk Wilayah 2 Tenggarong tiba di lokasi. Saat itu, Gina masih terikat di salah satu batang pohon yang sudah ditebas daun-daunnya, dengan leher diikat menggunakan tali tambang dibalut selat dan disambung rantai ke batang pohon.

Melihat banyak orang, Gina seperti ketakutan berputar kesana kemari. Suparman pun lantas menurunkan Gina dari pohon dan menggendongnya. Dari dalam, tiba-tiba Intan keluar menggunakan kerudung berwarna coklat susu dan langsung menggendong Gina. Gina pun enggan turun dari pangkuan “mama” angkatnya. Dia malah semakin erat memeluk Intan yang dikelilingi orang-orang. Intan berjalan menuju mobil Rescue BKSDA, sembari Gina terus memeluk erat mamanya seakan tak ingin lepas. Sambil berjalan, Intan berulang kali mengatakan, “jalan sendiri ya”. “Jalan sendiri ya nak, kan sudah pintar,” kata Intan kepada Gina. “Ayo sama mama dipegang,” lanjut Intan.

Gina seolah tak menghiraukan perintah mamanya. Hendak diturunkan, tangan Gina langsung melingkar lagi di badan Intan dan kakinya enggan diturunkan di tanah. Salah satu anggota Taman Nasional Kutai (TNK) pun berusaha mengajak Gina berjalan, namun orang utan itu tetap tidak mau. Sampai di mobil, kandang sudah terbuka untuk Gina. Melihat ada kandang, Intan mengatakan bahwa Gina mungkin tak akan suka dikurung. Hingga sampai di mobil, Gina enggan diturunkan dari pangkuan Intan. Tangannya malah lebih erat memeluk mama angkatnya. Dengan perasaan sedih, Intan mendorong Gina masuk ke kandang besi berwarna hijau dan berulang kali Gina keluar dari kandang itu. Akhirnya, Suparman memberikan Gina satu buah lontong, Gina pun menerimanya dan petugas BKSDA langsung menutup kandang tersebut.  “Masuk ya nak, itu tanganmu masukkan nanti terjepit,” ujar Parman yang menyayangi primata jenis Morio Pongo Pygmaeus itu.

Baca Juga:  Orang Utan Masuk Kampung Kajang 

Setelah ditutup, Intan langsung kembali ke rumahnya dengan langkah cepat. Tampak dirinya beberapa kali mengusap air mata yang jatuh dari matanya dengan jilbab coklatnya. Sementara anak keduanya, Riska langsung menangis dengan kencang di dekat mobil. Dia terus meneriaki Gina, seperti kehilangan sesuatu yang sangat disayanginya. “Ginaaaa…Ginaa…..,” teriak Riska.

Sesekali, Suparman menyapu air mata Riska sambil menenangkannya. “Sudah jangan menangis, nanti kita jengukin Gina ya di Sangkima,” ujar Parman menenangkan anaknya. Tetapi tangis Riska tak juga reda.

Keharuan tidak sampai disitu saja, di rumah Intan, Raska yang sedang menonton televisi bertanya, “kemana Gina?” Intan pun sambil menangis mengatakan, “dibawa kesana (Samarinda, Red).” Di dalam rumah seperti tak ada perasaan apa-apa. Tetapi Raska akhirnya mendatangi Gina di dalam kandang. Melalui lubang kecil sebesar 10 x 10 cm, Gina mengeluarkan tangannya yang kemudian dipegang oleh Raska. Lagi-lagi, tangisan tak bisa terbendung. Raska pun menangis sedih karena akan ditinggalkan Gina. Mereka sempat bermain sejenak sambil menunggu mobil itu beranjak menuju Samarinda. Sungguh, kedekatan hewan dan manusia akan terjalin setelah menjalani hidup bersama.(***)

Tags: Orang Utan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Pramuka SMP Vidatra Peduli Alam

Next Post

Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

Related Posts

Sering Viral di Medsos, Kemunculan Orangutan di Permukiman Jadi Alarm Ancaman Habitat
Kaltim

Sering Viral di Medsos, Kemunculan Orangutan di Permukiman Jadi Alarm Ancaman Habitat

8 Juli 2026, 11:17
Lindungi Orangutan Morio, BKSDA Kaltim Desak Konsesi Tambang dan Sawit Kutim Masuk Forum Terpadu
Kaltim

Lindungi Orangutan Morio, BKSDA Kaltim Desak Konsesi Tambang dan Sawit Kutim Masuk Forum Terpadu

15 Juni 2026, 14:00
Bukan Sekadar Makan, Orang Utan “Berburu” Ketupat di Hari Lebaran
Kaltim

Bukan Sekadar Makan, Orang Utan “Berburu” Ketupat di Hari Lebaran

26 Maret 2026, 09:00
Orang Utan Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim, BKSDA Lakukan Penelusuran
Kaltim

Orang Utan Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim, BKSDA Lakukan Penelusuran

27 Januari 2026, 15:42
80 Persen Orangutan Tinggal di Luar Area Konservasi
Nasional

Ekspansi Tambang dan Perkebunan, Nasib Orang Utan Kian Mengkhawatirkan

24 April 2025, 15:12
Orang Utan Muncul di Perumahan Badak LNG, Bergelantungan di Pohon dan Naik Atap Rumah
Bontang

Orang Utan Muncul di Perumahan Badak LNG, Bergelantungan di Pohon dan Naik Atap Rumah

19 Maret 2025, 10:56

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.