Tangis pun pecah dari kedua mata Meysa Riska. Gadis kecil itu seolah sangat tersakiti hatinya ketika melihat orang utan yang dipelihara oleh kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam kandang. Dalam tangisnya, nama Regina terus ia sebut. “Ginaaaa….Ginaaaa…..,” teriak Riska.
Mega Asri, Bontang
REGINA, merupakan nama yang indah untuk seekor orang utan berusia sekitar 5-7 tahun. Suparman dan Intan lah pasangan suami istri yang telah merawat atau memelihara orang utan berjenis kelamin betina itu selama lima tahun lalu. Saat itu, keduanya kedatangan “tamu” bayi orang utan yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
Pagi itu, istri dari Suparman yakni Intan Nirmasari masih tertidur di rumahnya, tetapi mendengar suara seperti ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dirinya pun bangun dan langsung membuka pintu rumahnya. Alangkah kagetnya Intan, karena yang dia lihat di luar itu seekor bayi orang utan.
Kala itu, tahun 2013 Regina kemungkinan baru berusia sekira delapan bulan. Dengan bulu yang masih tipis dan pendek, serta badannya yang mungil, Regina belum bisa berjalan sempurna. Sehingga dia berjalan dengan dibantu kedua tangannya. Merasa kasihan, Intan dan Suparman pun memutuskan untuk merawatnya.
“Awalnya sempat ada keinginan merawat orang utan, tetapi ternyata orang utan itu malah datang sendiri ke rumah saya. Saat itu, lagi musim kebakaran lahan, mungkin dia juga coba lari dari bahaya api di lahan,” jelas Intan sambil terisak ketika telah melepaskan Regina ke kandang untuk dibawa ke Samarinda, oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Minggu (11/2) kemarin.
Intan merawat Regina seperti anaknya sendiri. Dia diasuh, diberi makan, serta diajarkan berbagai sikap seperti tertawa dan lainnya. Kedua anak Intan dan Suparman pun menerima Regina seperti saudaranya sendiri. Sehingga mereka tumbuh bersama dan hampir menghabiskan waktu bermain bersama. “Dekat sekali sama anak-anak saya, makanya tadi nangis karena biasa main sama Gina (sapaan Regina, Red),” ujarnya.

Dia menceritakan saat itu tahun 2013 sekira pertengahan bulan Maret, Regina awal datang ke rumahnya dari kebun belakang rumahnya. Intan yang tinggal di RT 05 Kelurahan Guntung itu merupakan rumah pertama yang berdiri di sekeliling kebun. Hari demi hari, Gina dirawat oleh keluarganya dengan penuh kasih. Intan mengajarinya makan menggunakan tangan kanan atau tangan bagus. Gina juga pandai berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa isyarat. Misalnya meminta makanan, meminta minum, serta lainnya. “Kalau dia lihat saya bawa makanan tangannya langsung diulurkan kaya minta, tapi kalau tidak maka disembunyikan di belakang badannya, kalau mau minum dia menunjuk tenggorokannya, disuruh senyum ngerti, diminta jambak rambut bapaknya (suami Intan, Suparman, Red) dia juga ngerti, pintar pokoknya,”ungkap dia sambil meneteskan air matanya.
Disinggung mengenai perasaannya ketika Gina diambil oleh BKSDA, Intan mengaku sangat sedih. Kesedihannya ibarat dia ditinggal meninggal oleh orang tuanya. “Sedih kaya ditinggal orang tua, karena kan gak pernah balik lagi,” sebutnya hingga tangisnya pun pecah.
Kalau Gina kehujanan, lanjut Intan, dia pasti menepuk-nepuk kepalanya. Kalau malam hujan dia minta selimut karena kedinginan. Intan menginginkan dirinya bisa merawat Gina sampai ajalnya. Saat ini, Gina masih belajar untuk manjat-manjat. Oleh sebab itu, dirinya dan suaminya mengikat Gina di batang pohon jambu. “Kalau main dilepas gak diikat, tapi kalau malam diikat. Saya tidak pernah menyembunyikan karena tahu kalau orang utan gak boleh dirawat, jadi banyak orang kesini mau lihat ya saya biarkan, mereka banyak bawa makanan untuk Gina,” bebernya.
Gina sendiri sudah terbiasa hidup di antara manusia, sehingga untuk makanan pun Gina memakan apa yang dimakan oleh keluarga Suparman. Intan menyebut Gina bisa makan nasi, makanan ringan, permen, hingga es lilin. Hanya saja, Gina tak bisa makan ikan, karena pernah dirinya memberi Gina nasi padang tetapi bibir orang utan itu langsung memble. “Pokoknya gak bisa makan yang ada ikan-ikannya, tapi paling sering makan buah-buahan,” terangnya.
Kata dia, Gina jika diberi pisang satu sisir tidak dia habiskan langsung. Biasanya, dia gantung di pohon tempatnya hidup. “Kalau ditanya kenapa gak dihabiskan pisangnya, dia jawab dengan membunyikan suaranya seperti di tenggorokannya, jadi saya tanya lagi buat nanti kah? Dia bunyikan lagi hmmm,” ujarnya lagi.
Selama dirawat oleh keluarga Suparman, pernah satu waktu Gina terkena muntah dan berak (muntaber). Ternyata Intan melihat botol cairan aki yang sudah habis, kemungkinan diminum oleh Gina. “Kami waktu itu pergi semua, tidak ada orang di rumah kenapa pulang Gina mencret-mencret dan muntah, jadi saya bawa masuk ke rumah dikasihkan pampers (popok, Red.) sama oralit, besoknya sudah sembuh,” kenang Intan.
Bertahun-tahun tinggal, hanya itu saja saat Gina sakit. Selebihnya dia selalu sehat dan main bersama anak-anak Intan. “Apalagi jika melihat Raska (anak laki-laki Intan, Red) dicandain sama om-nya, Gina ini sibuk di pohon keliling-keliling kaya mau bantu, pokoknya gak mau betul Raska diganggu orang,” ungkapnya.

Momen kedekatan antara Gina dan keluarga Suparman pun terlihat saat hendak diserahkan ke BKSDA Kaltim. Minggu (11/2) pagi sekira pukul 10.30 Wita, Tim Rescue BKSDA Kaltim yang masuk Wilayah 2 Tenggarong tiba di lokasi. Saat itu, Gina masih terikat di salah satu batang pohon yang sudah ditebas daun-daunnya, dengan leher diikat menggunakan tali tambang dibalut selat dan disambung rantai ke batang pohon.
Melihat banyak orang, Gina seperti ketakutan berputar kesana kemari. Suparman pun lantas menurunkan Gina dari pohon dan menggendongnya. Dari dalam, tiba-tiba Intan keluar menggunakan kerudung berwarna coklat susu dan langsung menggendong Gina. Gina pun enggan turun dari pangkuan “mama” angkatnya. Dia malah semakin erat memeluk Intan yang dikelilingi orang-orang. Intan berjalan menuju mobil Rescue BKSDA, sembari Gina terus memeluk erat mamanya seakan tak ingin lepas. Sambil berjalan, Intan berulang kali mengatakan, “jalan sendiri ya”. “Jalan sendiri ya nak, kan sudah pintar,” kata Intan kepada Gina. “Ayo sama mama dipegang,” lanjut Intan.
Gina seolah tak menghiraukan perintah mamanya. Hendak diturunkan, tangan Gina langsung melingkar lagi di badan Intan dan kakinya enggan diturunkan di tanah. Salah satu anggota Taman Nasional Kutai (TNK) pun berusaha mengajak Gina berjalan, namun orang utan itu tetap tidak mau. Sampai di mobil, kandang sudah terbuka untuk Gina. Melihat ada kandang, Intan mengatakan bahwa Gina mungkin tak akan suka dikurung. Hingga sampai di mobil, Gina enggan diturunkan dari pangkuan Intan. Tangannya malah lebih erat memeluk mama angkatnya. Dengan perasaan sedih, Intan mendorong Gina masuk ke kandang besi berwarna hijau dan berulang kali Gina keluar dari kandang itu. Akhirnya, Suparman memberikan Gina satu buah lontong, Gina pun menerimanya dan petugas BKSDA langsung menutup kandang tersebut. “Masuk ya nak, itu tanganmu masukkan nanti terjepit,” ujar Parman yang menyayangi primata jenis Morio Pongo Pygmaeus itu.
Setelah ditutup, Intan langsung kembali ke rumahnya dengan langkah cepat. Tampak dirinya beberapa kali mengusap air mata yang jatuh dari matanya dengan jilbab coklatnya. Sementara anak keduanya, Riska langsung menangis dengan kencang di dekat mobil. Dia terus meneriaki Gina, seperti kehilangan sesuatu yang sangat disayanginya. “Ginaaaa…Ginaa…..,” teriak Riska.
Sesekali, Suparman menyapu air mata Riska sambil menenangkannya. “Sudah jangan menangis, nanti kita jengukin Gina ya di Sangkima,” ujar Parman menenangkan anaknya. Tetapi tangis Riska tak juga reda.
Keharuan tidak sampai disitu saja, di rumah Intan, Raska yang sedang menonton televisi bertanya, “kemana Gina?” Intan pun sambil menangis mengatakan, “dibawa kesana (Samarinda, Red).” Di dalam rumah seperti tak ada perasaan apa-apa. Tetapi Raska akhirnya mendatangi Gina di dalam kandang. Melalui lubang kecil sebesar 10 x 10 cm, Gina mengeluarkan tangannya yang kemudian dipegang oleh Raska. Lagi-lagi, tangisan tak bisa terbendung. Raska pun menangis sedih karena akan ditinggalkan Gina. Mereka sempat bermain sejenak sambil menunggu mobil itu beranjak menuju Samarinda. Sungguh, kedekatan hewan dan manusia akan terjalin setelah menjalani hidup bersama.(***)







