SAMARINDA – Eks lubang tambang seakan menjadi malaikat maut yang mengintai warga Kaltim. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan nyawa melayang di kolam bekas kegiatan penggalian batu bara tersebut. Ahad (4/11) lalu, Ari Wahyu Utomo (12) salah seorang pelajar di Desa Bukit Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi korban ke-31 eks lubang tambang.
Ardian Bayu Saputra (12), salah seorang teman korban di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Masyuhiriyah menceritakan, kejadian nahas itu berlangsung pada pukul 14.00 Wita. Diceritakan, Ari bermain bersama delapan anak lainnya.
“Kami baru pertama kali mandi di sana. Jumlah kami ada sembilan orang. Tetapi yang berenang hanya enam orang,” ungkapnya.
Ari berenang bersama Ardian, Adit, Fiki, Tola, dan Denis. Sedangkan Agung, Dwi, dan Arman, berdiri di pinggir lubang bekas tambang yang berukuran sekira lima meter itu.
Ari berenang di tengah lubang tambang yang kedalamannya sekira satu meter. Berselang 20 menit setelah berenang, bocah itu meminta tolong kepada temannya. Denis berusaha menyelamatkan pelajar yang duduk di kelas tujuh itu.
“Dia sempat menarik tangannya Denis. Tetapi enggak bisa (diselamatkan). Karena sudah tenggelam,” jelasnya.
Pada pukul 14.30 Wita, delapan orang yang berenang bersama Ari itu berteriak. Meminta tolong pada warga sekitar. Teriakan para remaja tanggung itu didengar penduduk setempat. Tak butuh waktu lama, puluhan orang berdatangan setelah mendengar teriakan itu. Pasalnya, lubang tambang itu hanya berjarak sekira 200 meter dari pemukiman warga.
Beberapa orang turun ke lubang itu menyelamatkan Ari. Hanya berlangsung sekira lima menit, tubuhnya berhasil dibawa keluar dari lubang yang berdekatan dengan lahan pertanian tersebut.
“Setelah dibawa keluar, Ari masih bernapas. Orang-orang berusaha mengeluarkan air di tubuhnya. Digerakkan begitu. Hanya sebentar. Setelah itu meninggal,” jelasnya.
Keluarga Ari yang ditemui Metro Samarinda di kediamannya di RT 09, Desa Bukit Raya, tidak banyak memberikan komentar. Rumah kedua orang tua korban berada sekira 500 meter dari lubang tambang yang merenggut nyawa Ari.
Seorang laki-laki paruh baya yang duduk di depan rumah panggung tersebut, ditanyakan media ini seputar ayah dan ibu Ari. Tetapi yang bersangkutan meminta kasus tersebut tak lagi dipublikasi.
“Ibunya sejak malam menangis. Sekarang masih ada di kamar. Kami minta tolong jangan dibesar-besarkan lagi. Semua keluarga masih sedih. Ayah dan ibu Ari enggak mau dipublikasi,” pintanya.
WARGA INISIATIF TUTUP LUBANG TAMBANG
Warga mengambil inisiatif menutup lubang tambang di Desa Bukit Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang menjadi saksi atas kematian, Ari Wahyu Utomo. Bekas tambang yang berjarak sekira 200 meter dari pemukiman warga, karena warga setempat tak ingin ada lagi korban jiwa yang jatuh.
Berdasarkan keterangan warga yang dihimpun Metro Samarinda, penutupan lubang itu dilakukan setelah penduduk setempat menguburkan jasad almarhum Ari bakda salat magrib, Ahad (4/11) lalu.
AS (35), warga RT 09 Desa Bukit Raya, mengaku penduduk setempat sepakat menutup lubang tersebut. Tujuannya agar tidak ada lagi korban baru yang tenggelam di lubang bekas tambang itu.
“Sebagian sudah kami tutup. Supaya enggak ada lagi anak-anak yang mandi di situ. Tetapi hanya sebagian saja yang kami tutup,” ungkapnya, Senin (5/11) kemarin. (*/um)







