Kisah Inspiratif Warga Bontang: Hendra Pranata Khosasi (167)
Video Blogger atau Vlogger memang masih awam, terutama di telinga masyarakat Bontang. Namun, tren gaul anak muda tersebut sudah sangat populer di kota-kota besar, bahkan menjadi salahsatu mata pencaharian utama. Putra daerah Bontang ini salahsatunya. Menjadi vlogger, membuat dia mengalami perubahan yang besar dalam hidupnya.
Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang
TAK pernah terpikir dalam benak Hendra Pranata Khosasi, pria yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya ke- 25 tahun, 12 Februari lalu untuk menjadi seorang vlogger. Alumnus Universitas Ciputra Surabaya ini sejatinya berprofesi sebagai marketing properti di Surabaya. Keisengan dengan teman semasa kuliahnya lah, yang membuatnya kini menjadi salahsatu vlogger dengan pengikut kurang lebih 3 ribu orang. “Awal kali jadi vlogger sekitar bulan kedua atau ketiga, tahun lalu,” kata Hendra yang saat diwawancara masih berada di Surabaya.
Bersama rekan kuliah yang juga teman nongkrongnya, Hendra kala itu iseng untuk membuat video instagram (vidgram) dan diunggah di akun media sosial instagram. Namun, keterbatasan alat yang dimiliki, membuat Hendra mengurungkan niatnya. Selain itu, baik Hendra dan rekannya tidak menguasai dasar kamera maupun editing video. “Ngambil sudut atau angle-nya pas-pasan, lah,” ujarnya.
Meski serba terbatas, Hendra tak patah arang. Putra sulung dari pasangan Andhi Pranata dan Surati ini mencari referensi berbagai jenis vlogger di dunia maya. Dirinya pun menemukan genre yang masih jarang dibuat di Indonesia, yakni special challenge. “Kalau di Indonesia, yang umum kan beauty vlogger, review barang, komedi, dan lain-lain,” jelasnya.
Setelah memastikan genre video yang akan diambil, Hendra lantas mulai mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan seperti kamera digital untuk mengambil video. Dengan menggunakan kamar tidurnya sebagai studio mini, Hendra dan rekannya mulai beraksi membuat video pertamanya.
Video pertama buatannya berjudul Egg Roulette Challenge. Dengan berbekal sepuluh telur yang empat diantaranya masih mentah, sedangkan sisanya berupa telur matang, Hendra dan rekannya secara acak memilih telur-telur tersebut secara bergantian, kemudian memecahkannya di kepala masing-masing. Yang tidak beruntung, maka telur mentah akan pecah di kepala dan membasahi kepalanya. “Itu video pertama kami, ternyata yang suka di minggu-minggu awal mencapai 100 like. Kaget juga ternyata banyak yang suka,” tutur Hendra.
Berbagai pujian dan semangat untuk membuat video-video tersebut pun muncul dari commenters yang memberikan komentar di videonya. Hingga kini, sekitar 18 video sudah diproduksi oleh Hendra dengan menggunakan nama Dua Banana di channel youtube-nya. Pemilihan nama Dua Banana, kata Hendra karena baik dia dan rekannya sama-sama menyukai pisang. “Awalnya kepikiran dua kuli atau dua tukang, tapi kurang menjual, he he,” kata pria yang gemar running dan hiking ini.
Menjadi vlogger, lanjut Hendra membawa perubahan besar dalam dirinya. Hendra, yang semasa SMA di SMAN 1 Bontang ini terkesan pemalu dan tidak percaya diri di hadapan umum, kini menjadi lebih percaya diri dan justru kerap kali diundang menjadi pembawa acara. Bahkan di suatu kesempatan, Hendra justru di dapuk menjadi pembawa acara ulang tahun seorang anak kelas 5 SD yang menjadi penonton setiap video-videonya di Youtube. “Kaget juga dia suka nonton videonya, padahal dia anaknya yang punya hotel berbintang di Surabaya,” ujar Hendra.
Respon yang positif baik dari keluarga dan teman-temannya membuat Hendra semakin bersemangat memproduksi video-video baru di akun youtube Dua Banana. Jumlah pengikut akunnya yang besar, membuat Hendra dan rekannya pun diundang dalam kegiatan Youtube Creator Surabaya yang mengundang seluruh vlogger di Surabaya saat itu. “Disitu juga dipuji beberapa vlogger yang lebih dulu eksis. Jadi makin semangat lah,” tambahnya.
Namun, di tengah semangat yang menggebu-gebu ini, beberapa minggu terakhir Hendra belum mengunggah video terbarunya karena kesibukannya di pekerjaan. Hal ini pun sempat disesali Hendra kala sudah menjadi vlogger. “Saya menyesal, seharusnya sejak kuliah sudah mengenal dunia youtube, sehingga bisa menekuni menjadi pekerjaan utama. Karena banyak vlogger bisa hidup hanya dari video-video yang diunggahnya di youtube saja,” ujar Hendra.
Meski begitu, Hendra pun tetap optimis. Terlebih, dunia kreatif di Indonesia dipercaya akan terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. “Industri kreatif itu tidak ada matinya, akan terus berkembang. Karena kreatifitas itu nilainya mahal,” ucap Hendra yang bisa meraup penghasilan hingga lebih dari Rp 4 juta keatas dari profesinya sebagai vlogger. Angka tersebut, belum termasuk pendapatan dari iklan yang tertanam di video-videonya.
Melihat peluang yang tak pernah habis, Hendra pun menyarankan terutama pemuda di Bontang untuk mulai memperhatikan peluang usaha ini. Hanya bermodal kamera dan komputer atau laptop untuk editing video, selama video dikemas dengan kreatifitas yang tinggi, maka akan mengasilkan pendapatan untuk hidup. “Selama ada kemauan, pasti ada jalan. Saya yang tidak ada basic di kamera maupun editing, kalau mau belajar juga bisa kok,” katanya.
Hendra pun, lanjutnya tak segan untuk membagi-bagikan ilmunya jika kembali pulang ke Bontang, suatu hari nanti. Bontang, menurut Hendra punya potensi untuk besar dari sisi industri kreatifnya. Sebab, banyak putra daerah Bontang kini yang melanjutkan studi di berbagai kampus seni maupun kreatif, sudah berkarya dan dihargai hingga level internasional. “Saya hanya mengajak untuk berani berkarya, mengasah kreatifitas. Karena dengan kreatifitas, jika ditekuni akan menghasilkan pendapatan,” pungkasnya. (***)
Tentang Hendra
Nama: Hendra Pranata Khosasi
TTL: Bontang, 12 Februari 1992
Alamat: Jl WR Supratman no 4 Tanjung Laut
Nama Ortu: Andhi Pranata dan Surati
Nama Saudara: Sherli Pranata Khosasi
Riwayat Pendidikan: S1 Universitas Ciputra Surabaya
Hobi: Running & Hiking
Motto Hidup: Life by faith not by sight







