SANGATTA – Kasus kekerasan seksual terhadap anak rupanya marak terjadi di kawasan pelosok. Akses informasi yang sulit membuat kasus ini tak muncul ke permukaan.
Hal ini diakui Marniana, salah seorang Pemerhati Perempuan dan Anak di Kutim. Selama ini, sosialisasi penanganan dan pencegahan terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan anak hanya gencar dilakukan di ibu kota. Padahal, banyak kasus terjadi di pedalaman.
“Kekerasan perempuan dan anak justru banyak terjadi di kampung-kampung,” kata Marniana, Minggu (30/4) kemarin.
Dia membeberkan, belum lama ini terjadi tak kurang dari empat kasus kekerasan seksual terhadap anak. Diantaranya terjadi di Rantau Pulung, Muara Bengkal, dan beberapa daerah lain.
“Dua kasus dilakukan oleh ayah kandung. Kemudian ada juga oleh ayah tiri,” jelasnya.
Melihat fenomena ini, pencegahan terhadap kasus tersebut tak bisa lagi dilakukan lewat sosialisasi yang bersifat seremonial belaka. Dia berharap instansi terkait segera turun langsung ke lapangan dan mengambil langkah strategis.
“Sosialisasi jangan hanya di Sangatta saja. Tapi juga perlu ke pedalaman. Kemudian juga perlu dilakukan pendataan terhadap pelaku,” terangnya.
Sebagai volunter bagi korban kekerasan perempuan dan anak, dia juga berharap agar petugas yang berkewajiban mengembalikan psikologis korban bisa turun langsung ke lapangan. Seringkali mental anak yang menjadi korban kekerasan seksual akan jatuh. Belum lagi dengan perlakuan lingkungan yang biasanya tak ramah dengan korban.
“Harus dilakukan pendekatan secara langsung kepada korban. Harus dicarikan solusi, jika memungkinkan anak itu dipindahkan ke daerah yang tidak tahu mengenai kasus korban,” katanya.
Layaknya kasus narkoba, dia berharap kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak bisa menjadi perhatian bersama.
“Dari data Komnas Perlindungan Anak, Kaltim di urutan 13 tertinggi kasus kekerasan terhadap anak. Makanya, persoalan ini tak bisa dianggap remeh dan harus disikapi dengan serius,” pintanya. (hd)







