bontangpost.id – Pemandangan cukup kontras terlihat di Kelurahan Kanaan. Rumah-rumah beton berjejalan. Menandai derasnya pembangunan yang dilakukan warga sekitar sekitar. Namun di antara perkembangan itu, terdapat hamparan hijaunya areal persawahan.
Areal sawah itu digarap seorang pria bernama Bunga Buntu (63). Telah sejak lama dia menanam padi di lahan yang terletak di Jalan Damai itu. Saking lamanya, dia tak ingat pasti kapan persisnya. Yang jelas sejak anak-anaknya duduk di bangku sekolah dasar. Sementara anaknya kini sudah berusia 30 tahun lebih.
Sejatinya luasan lahan yang digarap Bunga tak terlalu luas. Hanya 50 x 70 meter. Pun itu bukan miliknya. Tapi milik seorang kawan. Yang bermukim di Perumahan HOP Bontang. Bunga dipercayakan merawat lahan itu. Dari pada hanya lahan tak terurus dan dipenuhi ilalang.
“Saya dipinjamkan lahan itu. Diminta rawat,” beber pria asal Tana Toraja ini kala disambangi di kediamannya, Jalan Tarakan, Kelurahan Gunung Telihan.
Areal sawah terlihat cukup luas. Bila dipandang dari badan Jalan Damai. Sebab ternyata, di areal itu bukan Bunga seorang yang menggarap sawah. Ada seorang kawannya yang lain. Luasan sawah yang digarap kawannya lebih luas. Sekitar 1 hektar.
Sejak lama lahan itu digarap. Tapi tidak setiap waktu Bunga menanam padi. Ada kalanya dia istirahat barang beberapa waktu. Misalnya ketika musim kemarau. Lantaran potensi gagal panen cukup besar. Hal lain yang jadi pertimbangan ialah kondisi tubuh. Mengingat usianya tak muda lagi, Bunga tak bisa menggarap sawah bila tak ada yang bantu.
“Sudah lama nanam. Tapi jarang-jarang, enggak tiap tahun,” ungkap pria ramah ini.
https://www.instagram.com/tv/CFVvNbxhVXP/?utm_source=ig_web_copy_link
Bersama enam anaknya, nyaris dua tahun ini Bunga konsisten garap sawah. Total sudah tiga kali hasil pertanian dituai. Dia memperoleh padi sekitar 500-600 kilogram.
Untuk seluruh prosenya, mulai penyemaian hingga panen, seluruhnya dikomando Bunga. Tentu dengan bantuan anak-anaknya. Segenap proses ini, sebutnya, berdurasi lebih kurang 3 bulan.
Adapun untuk jenis padi yang ditanam, Bunga tak tahu pasti. Sebab bibit dia peroleh dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang. Dia tinggal aplikasikan, dan syukurnya, menunjukkan hasil.
Lanjut Bunga, menanam padi tepat di tengah permukiman warga bukan tanpa tantangan. Di dekat sawah memang ada sungai kecil. Tapi itu tak cukup untuk mengairi sawah. Sumber pengairan utama berasal dari air hujan.
“Tapi kalau hujan terus tidak bagus juga. Bagusnya ya selang seling. Hujan juga, ada matahari juga,” katanya.
Hal ditekankan Bunga, kualitas panenan padi ‘perkotaan’ seperti ini masih kalah ketimbang padi yang memang ditanam di areal sawah pada umumnya. Baik dari sisi rasa, dan bulir-bulir padi dihasilkan. (*)







