Sampah kerap kali dipandang sebelah mata. Namun siapa sangka, sampah sayur justru membawa keberuntungan bagi Tatik Purwanti. Bersama tiga rekannya, ia menatap kejuaraan Asian Network for Natural and Unnatural Material (ANNUM) VI di Gufu, Jepang, akhir bulan ini.
ADIEL KUNDHARA, Bontang
Bau tak sedap langsung menyengat di hidung. Panorama kotor pun sangat mengganggu pandangan mata. Begitulah gambaran saat melihat tumpukan sampah. Sesuatu hal yang tak berguna namun selalu ada tiap harinya.
Namun, alumni mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul), Tatik Purwanti justru melihat barang buangan itu sebagai kajian penelitian. Proses olahan dilakukan dengan alat pirolisis reaktor. Hasilnya berupa liquid smoke yang dapat dijadikan bahan pupuk dan pestisida. Bahkan kajian penelitian olahan menjadi liquid smoke itu mendapatkan ranking 15 dari 120 tim yang mendaftar.
“Kami menggunakan drum yang dirangkai sendiri,” kata Tatik kepada Bontang Post, Rabu (11/7).
Tawaran mengikuti sebuah kejuaraan diperoleh saat mengikuti penelitian di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di penelitian tersebut seorang tutor membahas masalah kimia lingkungan. Berbekal itulah, perempuan kelahiran Jombang ini mencoba menggali tentang sampah yang dipandang nyentrik.
“Saya langsung umumkan di grup whatsapp alumni kampus, ketemu dengan tiga rekan saya,” ujarnya.
Adapun latar belakang pendidikan ketiganya berbeda. Antara lain teknik sipil, teknik lingkungan, dan kehutanan. Perbedaan inilah yang kerap melahirkan beda pendapat dalam sebuah pengkajian. Apalagi proses melakukan penelitian tidak bisa tatap muka dan hanya melalui alat komunikasi. Ditambah tidak adanya pembimbing yang mengarahkan.
“Beda pendapat pasti, tetapi ketika sudah diarahkan dan dijelaskan tentunya pasti terarah kembali,” ungkap dara berusia 30 tahun ini.
Tim ini sempat menemui kendala saat mengambil sampel data. Pasalnya lokasi pertama yang disasar ialah Samarinda. Namun dikarenakan cakupan wilayah terlalu besar maka tim memutuskan untuk berganti ke Tanah Grogot.
“Kebetulan dua rekan saya berasal dari Tanah Grogot jadi memudahkan untuk mengambil datanya,” ucapnya.
Target tinggi dipatok oleh Tatik, yakni berhasil memenangkan kejuaran tersebut. Segala macam persiapan pun telah dilakukan mulai dari pembuatan media poster untuk sarana publikasi maupun data penelitian yang telah dikirim sejak Januari silam. Justru ia sering mendapat email dari penyelenggara terkait koreksi redaksional penelitian.
“Jepang sangat teliti, kami sering dapat email koreksi terkait konten kajian penelitian. Bahkan koreksi penulisan pun dari sana,” ulas perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Riset Teknologi dan Lingkungan Hidup Bontang Youth Community Energy Research (BYCER).
Dengan memperoleh kemenangan tentunya penerapan di daerah akan semakin lebih mudah. Pasalnya telah mendapat predikat di mata peneliti dunia tentunya akan berpengaruh terhadap publik di Bontang atau Kaltim. “Bisa diakui di Jepang tentunya promosi di daerah sini menambah tingkat kepercayaan. Analoginya masa di negara lain saja dipercayai, sementara di negara sendiri tidak,” jelasnya.
Nantinya, Tatik cs tidak sendirian dari Indonesia. Sebab beberapa kampus seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gajah Mada (UGM) juga mengirimkan wakilnya.
Akan tetapi, Tatik memandang lawan terberat timnya ialah wakil dari negara Australia. Pasalnya objek kajian yang dipilih sangat bagus. Ditambah penguasaan bahasa Inggris yang merupakan bahasa ibu mereka menjadi nilai lebih.
“Sepertinya mereka kimia banget apalagi bahasanya pun juga bahasa Inggris,” tutur alumni SMKN 1 Bontang ini.
Rencananya, Tatik akan berangkat ke Jepang pada tanggal 25 Juli. Kejuaraan bakal diikuti selama dua hari mulai tanggal 27 juli hingga 28 Juli.
Ia berharap selepas dari Negeri Sakura, bahan kajiannya dapat diterapkan di Bontang. Nantinya, ia akan melakukan kajian lanjutan untuk mencari formula agar sampah sayur bisa dijadikan biofuel. Agar dapat langsung digunakan oleh para nelayan Bontang. (***)







