• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan

Mengapa COP21 Lebih Populer dan Pengaruh Kemenangan Donal Trump 

by BontangPost
30 November 2017, 11:50
in Catatan
Reading Time: 2 mins read
0
ABADIKAN MOMEN: Bagi Sofyan Hasdam, COP21 merupakan pertemuan  yang paling populer yang pernah diikutinya. (Dok Pribadi for Bontang Post)

ABADIKAN MOMEN: Bagi Sofyan Hasdam, COP21 merupakan pertemuan  yang paling populer yang pernah diikutinya. (Dok Pribadi for Bontang Post)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak konsep telah dirumuskan di setiap pertemuan COP. Tapi menurut Sofyan Hasdam yang dijabarkan dalam catatannya selama menghadiri COP23 di Bonn, dari sekian banyak pertemuan COP yang telah dilaksanakan, COP 21 di Paris lah yang sangat popular. Mengapa, karena di Paris inilah dicapai hasil lebih maju dan lebih konkrit. Dikenal dengan kesepakatan Paris atau “Paris Agreement”. Kesepakatan Paris juga ikut disetujui Presiden Amerika Obama. Di mana kesepakatan ini meliputi masalah mitigasi, emisi gas rumah kaca dan keuangan.

 

Dalam kesepakatan Paris telah terlihat keinginan Negara-negara maju untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya dalam rangka komitmen bersama   menghadapi ancaman perubahan iklim, dan juga bersama mencapai tujuan untuk melindungi kelompok rentan di dunia. Tujuan tersebut adalah untuk menahan laju peningkatan temperatur global hingga dibawah 2 derajat Celcius dari angka sebelum revolusi industri  atau bahkan 1,5.

Untuk mencapai hal tersebut maka semua negara harus memenuhi komitmen antara lain; Semua negara harus menahan laju kerusakan hutan (deforestrasi), degradasi lahan dan memperbaiki tata kelola lahan. Juga transisi menuju ke penggunaan energi bersih dan terbarukan. Pembangunan harus dilakukan dengan prinsip rendah karbon. Dalam hal ini harus bekerjasama dengan aktor non pemerintah, termasuk bisnis, kota, dan masyarakat luas.

Baca Juga:  Mikrotakaful, Solusi Terbaik Asuransi Kaum Dhuafa?

Kesepakan Paris ini berlaku dan harus dilaksanakan pada tahun 2020, yaitu lima tahun setelah diputuskan pada tahun 2015, dan ditanda tangani di New York pada tanggal 22 April 2016 dan telah diratifikasi oleh 55 negara, dimana 55 negara ini telah mewakili sebesar 55 % emisi gas rumah kaca didunia.

Sofyan Hasdam berpendapat, Jika kesepakatan Paris dapat dilaksanakan, selain dapat menahan laju kenaikan suhu global bumi, juga dapat meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, meningkatkan ketahanan iklim dan melaksanakan pembangunan rendah emisi gas rumah kaca tanpa mengancam produksi pangan.

Dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh negara maju, emisi yang dihasilkan oleh Indonesia tidak sebesar mereka. Namun Indonesia menjadi penting artinya karena jumlah penduduknya yang besar, laju kerusakan hutannya tinggi dan sumber energinya mayoritas masih menggunakan energi fosil yang sumbangannya untuk gas rumah kaca sangat besar.

Baca Juga:  BREAKING NEWS!! Sofyan-Nusyirwan Daftar ke KPU

Menariknya ketika COP21 sementara berlangsung di Paris, isu tentang rencana majunya Donald Trump sebagai kandidat presiden Amerika Serikat menjadi perbincangan yang hangat dan meresahkan pihak COP. Mereka telah mengetahui sifat dan kepribadian Trump yang sering nyeleneh dan aneh-aneh. Mereka khawatir kalau Trump terpilih, bisa membatalkan keikut sertaan Amerika dalam kesepakatan Paris yang telah ditandatangani oleh presiden Obama

Untuk mengantisipasi hal tersebut, dibuatlah aturan yang disepakati bersama bahwa jika ada negara yang akan mundur dari kesepakatan tersebut, baru bisa mereka laksanakan empat tahun terhitung sejak pengajuan pengunduran dirinya. Sehingga jika Trump terpilih dan menyatakan mencabut diri, maka itu baru bisa berlaku efektif empat tahun kemudian. Dengan kata lain itu baru bisa dia lakukan pada akhir masa jabatannya, sehingga jika Trump tidak terpilih lagi, Amerika bisa kembali masuk ke dalam kesepakatan Paris.

Baca Juga:  Darurat Narkoba, Solusinya?

Prediksi itu ternyata benar. Donal Trump terpilih menjadi Presiden Amerika. Begitu terpilih, Trump menyatakan mundur dari “Paris Agreement” yang mewajibkan Amerika menurunkan emisinya sebesar 7 %. Tetapi untungnya bahwa sikap Trump itu tidak serta merta menggambarkan keinginan dari seluruh rakyat Amerika. Mayoritas rakyat Amerika tetap ingin berada bersama masyarakat internasional lainnya untuk memerangi terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Oleh karena itu, dalam arena COP23, Amerika membangun sebuah dome yang besar yang didalamnya sepanjang hari melakukan aktivitas yang menggambarkan bahwa Amerika tetap dalam frame kesepatan Paris. Diluar dome tersebut tertulis “ U.S. Climate Action Center. We Are Still In”. Dalam hal ini mereka mempertegas bahwa mereka masih disini. Ditempat ini sepanjang hari dilakukan dialog, seminar yang pada intinya bahwa rakyat Amerika tetap berada dalam koridor kesepakatan Paris.(andiyusrianto) (Bersambung)

Tags: catatansofyan hasdam
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Nasihat Bagus Yang Disisipi Hoax

Next Post

Hardianto: Pemkot hanya Mendorong Berdirinya Yayasan 

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Kotak Kosong, Pesta para Oligarki
Opini

Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

21 Juli 2024, 13:20
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar
Opini

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar

21 Juli 2024, 12:19
Merokok Bikin Kekasih Cacat
Catatan

Merokok Bikin Kekasih Cacat

16 Desember 2023, 11:27
Kursi vs Nurani
Opini

Kursi vs Nurani

3 Juni 2023, 13:08
Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi
Opini

Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi

30 Agustus 2020, 09:16

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.