BONTANG – Berpuasa di Bulan Ramadan wajib hukumnya, warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Bontang juga melaksanakannya. Bontang Post berkesempatan mengunjungi Blok Nusantara I, melihat segenap aktivitas yang dilakukan para warga binaan.
Blok ini merupakan tempat khusus narapidana yang terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Dari balik jeruji besi, tampak warga binaan sebagian besar tidur pulas saling berdempetan satu sama lain lantaran kondisi ruangan idealnya dihuni 8 orang, malah dihuni sekira 20 orang akibat minimnya ruangan. Ada pula yang mengisi waktunya dengan membaca buku, koran dan mengisi lembaran teka-teki silang.
Semakin dalam menyusuri blok, terdengar lantunan ayat suci Alquran menggema. Sedikitnya ada sekira 4 orang tengah duduk mengenakan kopiah dan sarung seraya membaca Alquran.
Supardi (38) pria asal Kutai Timur tampak lancar membaca Surah Al Baqarah, dia mengaku selama di dalam Lapas selain diajarkan keterampilan, ia juga lebih banyak mendekatakan diri pada sang ilahi. Kala waktunya sedang kosong, ia memanfaatkannya dengan membaca Alquran untuk memperoleh pahala.
“Banyak pelajaran yang saya dapat di sini, yang tadinya saat masih di luar saya malas beribadah seperti salat dan mengaji, disini saya tercerahkan. Dengan mengaji hati saya bisa tenang,” tutur Pardi, sapaan akrabnya.
Selama 2 tahun menjani masa hukuman di dalam Lapas, ia sudah khatam sebanyak 20 kali. Biasanya Pardi mengkhatamkan Alquran 4 hingga 5 hari, dari pagi hingga malam hari. Tak ada kejenuhan dalam dirinya, hal ini ia lakukan demi menebus dosa-dosa yang telah dilakukan di masa lalu.
Terjerat bisnis jual beli barang haram, membuatnya harus dijatuhi hukuman selama 5 tahun. Praktis sudah dua tahun terakhir ia tak berkumpul lagi bersama keluarga tercinta di Sangatta. Rindu berkecamuk dalam hatinya, namun dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Karena saya sudah berbuat, berarti sudah harus menerima vonis yang sudah dijatuhkan walau sangat berat untuk meninggalkan keluarga,” katanya.
Dua tahun berada di Lapas membuatnya mulai sadar arti kehidupan, bahwa hidup tak hanya melulu soal materi. Namun lebih dari itu, ikhtiar dan berusaha perlu dilakukan seorang individu kepada sang pencipta. “Saya dapat semua hikmahnya, semoga orang-orang yang masih menjalani bisnis seperti yang saya lakukan di masa lalu segera sadar dan berhenti. Karena dampaknya bukan hanya kita yang rasakan tapi keluarga,” kata Pardi lirih.
Penyesalan juga sangat dirasakan oleh Baharuddin, sejak dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pria paruh baya ini sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Insaf, hanya itu satu-satunya jalan yang dipilihnya.
“Malu sama umur, kalau saya ingat-ingat kenapa saya sampai sebodoh itu terjerumus. Pelajaran keagamaan yag saya dapatkan di Lapas sangat membantu saya untuk sadar,” akunya.
Ia mengatakan, dirinya yang sebelumnya tak pandai membaca Alquran, diajarkan secara terjadwal di Lapas. Prosesnya pun cukup panjang mulai dari belajar Iqro, Juz Amma hingga Alquran. Sisa masa hukuman 7 tahun akan ia manfaatkan dengan baik untuk selalu beribadah.
“Fokus saya sekarang ibadah, umur saya sudah tidak muda lagi, suatu waktu dipanggil sama yang di atas, kalau tidak ada persiapan dari sekarang kapan lagi. Semoga ini bisa jadi pelajaran buta kami yang sudah terjerumus dan pelajaran untuk yang lain jangan sekali-kali coba-coba main narkoba,” ujarnya.
Sementara, Kalapas Kelas III Bontang Heru Yuswanto mengungkapkan, para warga binaan memang mereka bimbing menjadi pribadi yang lebih baik dengan menyentuh hati dengan perbaikan moral dan akhlaq.
“Orang-orang di dalam Lapas ini bukan penjahat, mereka hanya tersesat dan belum lambat untuk bertobat. Jadi tugas utama yang harus kami lakukan adalah mengembalikan mereka ke jalan yang benar agar tidak kembali terjerumus. Kami berharap agar mereka kembali ke masyarakat tidak dikucilkan tapi dirangkul,” tukasnya. (*/nug)






