BERBAGAI perasaan campur aduk dirasakan oleh korban kebejatan ayah kandungnya sendiri, Bunga (13), bukan nama sebenarnya. Bukannya menikmati masa transisinya dari anak-anak menuju dewasa dengan ceria, Bunga justru sedang menanti kelahiran anak pertamanya, benih dari ayah kandungnya yang juga calon bapak dari anaknya MR (47).
Saat ditemui di kediamannya, Bunga terlihat tegar dan tanpa beban. Dirinya mempersilakan tamu yang berasal dari Polres Bontang untuk masuk ke dalam rumah. Di sana ada ibu Bunga, ES (43), yang juga sedang mengandung dengan usia kehamilan 8 bulan.
Ketika dimintai keterangan, Bunga tampak malu untuk menjawab. Setiap pertanyaan yang diberikan hanya dijawab dengan singkat. Namun dengan dibantu Zaenal, Bunga mengatakan awal dilakukan perbuatan bejat ayahnya itu saat dirinya dan keluarga masih tinggal di Berau. Malam itu saat sedang tidur ayahnya tiba-tiba membuka bajunya, berniat menyalurkan hasratnya. “Namun di kejadian pertama, MR beralibi ingin mengecek keperawanan korban dan dengan pasrah korban pun menurut apa yang dikatakan ayahnya. Langsung dikerjakan (persetubuhan, Red.) tidak ada ancaman,” ujar Zaenal membantu menjelaskan.
Perbuatan itu pun dilakukan terus menerus hingga Bunga mengandung anak benih dari ayahnya sendiri. Bunga mengaku dirinya dan ayahnya melakukan itu di rumahnya. Terkadang juga di rumah kosong tanpa sepengetahuan ibunya. Saat hamil, Bunga merasa mual tetapi dia tahan agar tidak ketahuan ibunya.
Sang ibu mengaku tinggal di Bontang sudah 2 tahun. Sebelumnya dia bersama keluarganya pindahan dari Berau, tinggal di wilayah Kelurahan Belimbing satu tahun dan saat ini pindah ke wilayah Bontang Lestari. ES yang memiliki 7 orang anak, hanya membawa 4 anaknya dari Berau. Mulai nomor 4 hingga 7. Sementara anaknya yang pertama hingga yang ketiga berada di Berau karena sudah menikah.
Dengan keterbatasan ekonomi, 4 anaknya pun tidak ada yang dia sekolahkan. Khusus Bunga, dirinya sempat mengenyam bangku pendidikan hingga kelas 3 SD. Sementara adik-adiknya yang berusia 11 tahun dan 6 tahun tidak ada yang sekolah.
Namun jika ada yang mau menyekolahkan anaknya, ES mempersilakannya karena anak-anaknya ingin bersekolah. “Mau sekolah asal saya antar,” ujar ES singkat.
Sementara Bunga, sekilas tak ada yang berbeda darinya. Hanya saja, tubuhnya tumbuh lebih cepat dari anak seusianya, misalnya dari pinggul dan payudaranya. Sedangkan perutnya, Bunga tutupi dengan menggunakan baju yang longgar.
Disinggung mengenai Bunga, ES mengaku tak tahu. Dirinya hanya sempat curiga beberapa bulan terakhir dengan pertumbuhan tubuh anak ke-4-nya itu. ES mengaku cara berjalan Bunga itu mulai berbeda, apalagi jika dilihat dari belakang. Sementara itu, ES juga sempat bertanya terkait “tamu bulanan” Bunga. “Dia jawab belum haid dalam beberapa bulan ini,” ungkapnya.
Namun, ES juga mengatakan dirinya sulit mendapat keterangan dari Bunga. Mengingat setiap ES bertanya kepada anaknya, Bunga langsung menghindar dengan pergi menjauh dari ES. “Kadang saya tanya dia (Bunga) pergi, jadi belum sempat terjawab sudah pergi lagi,” terang dia.
ES mengaku tak menaruh curiga, mengingat Bunga merupakan anak kandung dari dirinya dan MR. “Kami tidur bersamaan dengan anak-anak dalam satu kamar, saya juga tidak pernah tahu kalau bapaknya ngerjain (setubuhi, Red.) anaknya juga,” ujar ES yang terlihat tegar namun sesekali menitikkan air mata.
Saat suaminya ditangkap polisi pun, ES mengaku kaget dan menyatakan jika polisi salah tangkap. Karena anaknya mengaku hamil oleh kekasihnya yang merupakan orang Balikpapan. Bunga sendiri memang mengakui pernah memiliki hubungan dengan seorang pria di Balikpapan. Saat menjalin hubungan, dirinya juga sempat mengaku melakukan hubungan layaknya suami istri bersama kekasihnya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ES mengaku pasrah dan menyerahkan kasus suaminya ke polisi. “Biar hukum saja yang memproses,” ujarnya pasrah. (mga)







