BONTANGPOST.ID – Memanasnya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap perjalanan ibadah umrah warga Indonesia. Ribuan jemaah dilaporkan berpotensi mengalami kendala kepulangan setelah sejumlah penerbangan internasional dihentikan sementara.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), sedikitnya 58 ribu jemaah asal Indonesia masih berada di Arab Saudi hingga awal Maret 2026.
Penutupan sejumlah jalur udara akibat eskalasi konflik membuat jadwal penerbangan menuju Tanah Air terganggu.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Puji Raharjo, memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi secara intensif. Jemaah diminta tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari penyelenggara perjalanan masing-masing.
Menurutnya, keselamatan jemaah menjadi prioritas utama pemerintah. Koordinasi dilakukan dengan Kantor Urusan Haji, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh guna memastikan kondisi WNI tetap aman.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian memicu serangan balasan di sejumlah negara kawasan Teluk.
Dampaknya, sejumlah maskapai internasional memilih menunda maupun membatalkan penerbangan menuju wilayah Timur Tengah demi alasan keamanan. Kebijakan ini turut memengaruhi jadwal keberangkatan dan kepulangan jemaah umrah dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah mengimbau jemaah dan keluarga di Tanah Air agar tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. Seluruh perkembangan terbaru akan disampaikan melalui jalur resmi. (KP)







