BONTANG – Dalam rangka memberikan pengetahuan tentang pendampingan disabilitas, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) menggelar pelatihan pendampingan anak disabilitas korban kekerasan Tahun 2018, yang dimulai sejak Senin (17/9) hingga Rabu (19/9) kemarin.
Bertempat di Ballroom Hotel Tiara Surya, kegiatan tersebut diikuti 40 peserta. Mulai perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Perwakilan Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bontang, penyandang disabilitas dan lembaga pencegahan penanganan perempuan dan anak yang mengalami trauma dan tindak kekerasan (teripang Laut) di beberapa kelurahan.
Dengan menghadirkan pemateri Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan Psikolog Klinis P2TP2A Provinsi DKI Jakarta.
Kepala Dissos-P3M Abdu Safa Muha menuturkan, dengan pelatihan ini dirinya mengharapkan ilmu yang didapatkan para peserta agar betul-betul diterapkan dalam melakukan pendampingan. Minimal di lingkungan kerjanya bahkan di tempat tinggalnya. Sehingga kata dia, selain berfungsi sebagai fasilitator, para pendamping yang mengikuti pelatihan ini, dapat mengedukasi dan mempromosikan di lingkungan masyarakat terkait pedampingan disabilitas.
“Pelatihan ini akan dapat berkelanjutan. Sehingga para peserta pelatihan ini menjadi relawan atau pelopor sebelum diberikan ke P2TP2A. Kepada masyarakat yang memiliki keluarga penyandang disabilitas, tidak perlu lagi ragu terhadap ancaman-ancaman yang mungkin selama ini terjadi. Karena negara pun akan hadir, yang langkah awalnya ialah para pendamping–pendamping yang mengikuti pelatihan ini,” ungkap Safa.
Dia juga menyampaikan, dengan didapatkan ilmu ini dapat berkembang dan perkembangannya dapat menyesuaikan kondisi kasus yang terjadi di lapangan.
”Harapan kami dengan adanya ilmu dasar ini, dapat memberikan akses pendampingan yang baik untuk korban kekerasan disabilitas,” terang Safa.
Sementara itu, salah satu peserta dari perwakilan Satpol PP, Arman mengatakan, pelatihan ini sangat perlu dilakukan, karena sangat bermanfaat bagi dirinya yang terlibat langsung di lapangan dalam menangani disabilitas. Dia pun berharap pelatihan ini dapat berkelanjutan untuk ke depannya.
“Saya sangat antusias dilaksanakan pelatihan ini. Karena pelatihan ini, kami bisa tau cara menangani disabilitas dan mengetahui hukum–hukumnya dalam melakukan pendampingan,” ungkap Arman. (*/one)







