bontangpost.id – Penanggulangan banjir menjadi program prioritas Pemkot Bontang. Terdekat, upaya penanganan melalui penurapan Sungai Bontang akan dilakukan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Tavip Nugroho mengatakan anggaran program itu mencapai Rp 23 miliar. Proses pelelangan pengerjaan di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) telah mendapatkan pemenang.
Nantinya penurapan ini menyambungkan konstruksi lama. Tepatnya dari jalan Brokoli, samping SDN 010 Bontang Utara hingga jembatan di dekat SD Betlehem. Konstruksinya berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Dinas PUPRK menggunakan gabungan beton dengan batu. Bukan lagi pemancangan seperti proyek sebelumnya.
“Karena lahannya di area itu banyak permukiman sehingga alat pancang tidak bisa masuk. Kali ini kami pakai komposit saja,” ucapnya.
Ia menjelaskan terdapat satu lahan yang cukup digunakan untuk mobilisasi kendaraan alat berat pengangkut material. Dinas PUPRK pun telah meminta izin kepada pemilik lahan dan mendapatkan restu. Total panjang penurapan sebesar 500 meter. Kanan dan kiri sisi sungai. Dengan ketebalan di ujung atas mencapai setengah meter.
“Ke bawah lebih tebal dan mekar hingga 1,5 meter,” tutur dia.
Rencananya, sisi tepi sungai nantinya juga dibangun jalur inspeksi. Dengan lebar maksimal empat meter. Tetapi itu bergantung dengan kondisi lahan di lapangan. Harapannya jalur ini dapat dilalui kendaraan roda empat. Jalur inspeksi ini juga akan terus dijadikan percontohan hingga aspek hilir nantinya.
“Ke depan kalau ada uang rumah yang didekat bantaran sungai dibeli. Nantinya semua rumah di bantaran harus menghadap sungai. Tidak boleh membelakangi,” sebutnya.
Pengerjaan ini membutuhkan waktu lima bulan. Ia merasa durasi ini cukup. Karena volume pengerjaan tidak terlalu besar. Harapannya akhir Desember dapat selesai.
Mengacu LPSE, saat ini masih berada di tahapan evaluasi administrasi. Dijadwalkan penandatangan kontrak baru dilakukan 30 Juli mendatang. Total sebanyak 53 perusahaan ikut dalam proses pelelangan.
Tak hanya itu, penurapan sungai juga menyasar di Kelurahan Gunung Telihan. Bersumber dari dana bagi hasil (DBH) dana reboisasi. Pagu anggarannya sebesar Rp 638 juta. Kegiatan ini juga masih dalam proses pelelangan. Ia menjelaskan program ini dari Bapenas.
Sifat kegiatannya hanya semi permanen. Bentuknya dengan pembronjongan. Gabungan kawat ayaman dengan konstruksi batu. Total panjang penurapan sekira 160 meter. “Lokasinya di dekat jembatan Masdarling. Akan dicari titik mana yang ekstrim,” pungkasnya. (*/ak)






