Menjadi seorang pengawas rupanya sudah menjadi bagian hidup Haerul Akbar. Berbagai kegiatan pengawasan telah dirasakannya sejak menjadi wartawan. Kini ayah lima anak ini aktif melakukan pengawasan dalam kiprahnya sebagai Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kaltim.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Seolah sudah menjadi panggilan hidup, Haerul punya keinginan melakukan fungsi pengawasan dalam berbagai hal. Salah satunya pengawasan terhadap kinerja pemerintah. Dari keinginan tersebut, terbersitlah cita-cita menjadi wartawan.
Karena menurutnya, dengan menjadi seorang kuli tinta, dia bisa melakukan pengawasan terhadap beragam kegiatan yang terjadi di masyarakat.
“Keinginan jadi wartawan sejak duduk di bangku SMA. Saat itu saya sering dengar di siaran berita radio. Di radio, penyiarnya bilang kalau menteri melaporkan kepada wartawan. Pikir saya, keren sekali seorang menteri melapor kepada wartawan,” urai Haerul kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Senin (1/5) kemarin.
Selepas SMA, Haerul lantas mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Hassanuddin (Unhas) Makassar. Selain seleksi di Unhas, Haerul juga mengikuti seleksi masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Hasilnya, sulung dari lima bersaudara ini berhasil lulus di dua seleksi tersebut.
Haerul pun dihadapkan pada keputusan yang sulit. Di satu sisi orang tuanya menaruh harapan agar Haerul kuliah di APDN. Karena kala itu, dengan masa depan yang dijanjikan di APDN, begitu banyak yang berminat menuntut ilmu di sekolah calon camat tersebut. Namun di satu sisi, Haerul memiliki minat dalam ilmu sosial yang bisa mengantarnya menjadi wartawan.
“Akhirnya saya ambil keputusan melanjutkan ke FISIP Unhas. Keputusan ini membuat orang tua saya kecewa. Karena mereka berharap saya bisa bekerja di pemerintahan. Saat itu menjadi camat adalah kebanggaan di masyarakat,” bebernya.
Namun kekecewaan orang tua ini bisa dijawab Haerul dengan prestasi. Dia diterima menjadi wartawan Harian Fajar di Makassar tahun 1990. Saat itu dia masih duduk di bangku kuliah. Melalui pekerjaannya ini, Haerul bisa membiayai kuliahnya sendiri. Bukan hanya itu, dia pun bisa membantu membiayai pendidikan adik-adiknya.
“Saya begitu larut dalam pekerjaan sebagai wartawan. Sampai-sampai kuliah saya tidak terurus. Makanya kuliah saya lama, sampai delapan tahun baru lulus,” tambah Haerul.
Karier Haerul terbilang cemerlang di dunia jurnalistik. Di tahun 1993, dia dipercaya menjadi redaktur pelaksana (Redpel) Kalteng Pos selama setahun. Lantas dipercaya menjadi perwakilan Harian Fajar di Jakarta hingga 1996. Setelah bertugas di Jakarta, Haerul kembali ke Makassar dengan jabatan Redpel Harian Fajar.
Tahun 2000, Haerul dipercaya menjabat pimpinan redaksi (pemred) di Harian Berita Kota yang merupakan grup Fajar. Jabatan ini diembannya hingga tahun 2003, ketika dia dipindahkan ke Balikpapan untuk membuka surat kabar baru di bawah naungan Jawa Pos, Nonstop. Namun karena surat kabar ini batal terbit, Haerul lantas bergabung dengan manajemen Kaltim Post.
“Istilahnya, saya bakar perahu saya dan tetap di Kaltim. Di Kaltim Post waktu itu saya jadi redaktur hukum. Tahun 2006, saya jadi wakil redpel di Kaltim Post Samarinda. Lalu diberi amanah menjadi dewan redaksi,” ujarnya.
Selama berkiprah menjadi wartawan, berbagai liputan telah dialami Haerul. Yang paling berkesan ketika mendapat kesempatan meliput pertemuan para pemimpin Asian Pasific Economic Coorporation (APEC) di Jakarta tahun 1992. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tersebut, dia bisa bertemu 18 kepala negara anggota APEC yang hadir. Termasuk Presiden Amerika Serikat waktu itu, Bill Clinton.
“Sebuah kebanggaan bisa bertemu dan meliput kehadiran Clinton di KTT APEC. Saya juga berkesempatan jumpa pers dengan Presiden Soeharto. Bisa bertemu Pak Harto merupakan hal langka. Karena jangankan bertemu, mendekati saja begitu sulit kala itu,” kata Haerul.
Melalui profesinya sebagai pemburu berita ini pula, Haerul bisa menginjakkan kaki di delapan negara. Termasuk di antaranya Tiongkok dan Hongkong. Prestasi ini sekaligus menjawab kekecewaan orang tuanya yang dulu sempat kecewa karena Haerul tidak menuntut ilmu di APDN.
Meski telah menjalani hari-hari yang berarti sebagai wartawan, keinginan untuk melakukan pengawasan masih begitu kuat dalam diri Haerul. Selain melakukan pengawasan sebagai jurnalis, Haerul mencari pengalaman baru dengan bergabung di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Kaltim. Dia menjabat sebagai unsur pimpinan di KPI Kaltim untuk dua periode, yaitu periode 2006-2009 dan periode 2009-2012.
“Di periode pertama saya menjabat ketua. Di periode berikutnya menjabat wakil ketua. Di KPI, saya melakukan pengawasan terhadap lembaga-lembaga penyiaran seperti televisi dan radio,” terangnya.
Dua periode menjabat KPI, Haerul menatap bentuk pengawasan lainnya yaitu pengawasan pemilu melalui Bawaslu Kaltim. Dia berkisah, awalnya tidak tertarik bergabung menjadi komisioner Bawaslu Kaltim. Keinginan terlibat sebagai pengawas pemilu ini baru muncul ketika salah seorang temannya mengabarkan tentang seleksi penerimaan di Bawaslu Kaltim tahun 2012.
“Teman saya menelepon. Katanya saya cocok menjadi komisioner di Bawaslu. Lalu saya pelajari pengetahuan tentang Bawaslu selama sehari. Dari situ saya putuskan ikut dalam seleksi penerimaannya. Kebetulan waktu itu jabatan saya di KPI juga akan segera berakhir,” ungkap Haerul.
Dalam seleksi, Haerul lolos dan menjadi komisioner Bawaslu koordinator divisi hukum dan penindakan pelanggaran. Setelah berkiprah di Bawaslu, barulah dia menemukan hal yang menarik sebagai seorang pengawas. Karena dia berhadapan dengan orang-orang politik yang berasal dari berbagai latar belakang. Sebagai komisioner Bawaslu, tugasnya mengawasi para peserta dan juga penyelenggara pemilu.
“Saya menemukan ada begitu banyak dinamika di dunia politik khususnya terkait kepemiluan. Misalnya mereka yang tidak puas terhadap hasil pemilu, yang lantas melaporkannya ke Bawaslu karena merasa menemukan pelanggaran,” tandas pria kelahiran Sinjai, 48 tahun lalu ini. (bersambung)







