• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Ratusan Warga Nobar Film Pesta Babi di Kutim, Soroti Ancaman Tambang dan Sawit terhadap Hutan

by Dwi Kurniawan Nugroho
17 Mei 2026, 18:17
in Kaltim
Reading Time: 2 mins read
0
Warga memadati halaman Kantor Kaltim Post Biro Kutim di Sangatta Utara saat nonton bareng film dokumenter Pesta Babi, 16 Mei 2026. (Dwi Kurniawan Nugroho/Bontang Post)

Warga memadati halaman Kantor Kaltim Post Biro Kutim di Sangatta Utara saat nonton bareng film dokumenter Pesta Babi, 16 Mei 2026. (Dwi Kurniawan Nugroho/Bontang Post)

Share on FacebookShare on Twitter

BONTANGPOST.ID, Kutim – Ratusan warga memadati halaman kantor Kaltim Post Biro Kutim di Jalan APT Pranoto, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Sabtu (16/05/2026) malam.

Antusiasme tinggi masyarakat itu untuk nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi. Acara tersebut diinisiasi Jaringan Kerja (Jaker) Masyarakat Sipil Kutai Timur. Sejak pukul 19.00, masyarakat dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga keluarga yang membawa anak-anak tampak menyaksikan film hingga selesai.

Ketua Jaker Masyarakat Sipil Kutai Timur, Jupri, mengaku terkejut dengan membeludaknya penonton. Awalnya, ia memperkirakan pemutaran film dan diskusi tersebut hanya diminati kalangan jurnalis dan mahasiswa.

“Ini menandakan rasa penasaran masyarakat terhadap isu ini sangat besar. Apa yang digambarkan dalam film tentang hilangnya fungsi hutan, nyatanya juga terjadi di Kalimantan, khususnya di Kutai Timur,” ujar Jupri.

Baca Juga:  DLH Kutim Ungkap Modus Laporan Pencemaran Lingkungan Palsu untuk Tekan Perusahaan

Senada dengan itu, jurnalis Kaltim Post, Edwin Agustyan, mengingatkan bahwa Kutai Timur saat ini dikepung industri, pertambangan batu bara, dan perkebunan sawit.

Menurut Edwin, berdasarkan catatan terbaru Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat sembilan perusahaan di Kutai Timur yang mendapat rapor merah dalam pengelolaan lingkungan hidup pada penilaian Proper 2025.

Perusahaan tersebut terdiri dari empat perusahaan sawit, satu perusahaan semen, tiga perusahaan tambang, dan satu kawasan industri.

“Contohnya perusahaan besar KPC yang pada pengumuman 2025 lalu dinilai tidak mengelola lingkungan sesuai ketentuan oleh KLH,” sebutnya.

Ia menilai film dokumenter tersebut menjadi alarm keras bagi masyarakat lokal. Menurutnya, apa yang terjadi di Papua bisa saja terjadi di Kutai Timur apabila eksploitasi alam terus dibiarkan tanpa pengawasan ketat.

“Bukan tidak mungkin dampak kehancuran yang sama akan menimpa kita di sini,” katanya.

Baca Juga:  Avengers: Endgame Dikabarkan Berdurasi 3 Jam

Sementara itu, aktivis lingkungan, Erwin Syuhada, menyoroti minimnya pelibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan hilirisasi industri dan pembukaan lahan.

Akibatnya, kerusakan ekosistem dan konflik sosial dengan masyarakat adat semakin meningkat. Ia mencontohkan kondisi yang dialami masyarakat Dayak Basap di pedalaman Bengalon.

“Masyarakat Dayak Basap membuka lahan saja meminta izin kepada leluhur mereka. Tetapi perusahaan membuka lahan tanpa izin masyarakat adat setempat. Pola penyingkiran ini sama persis,” tegas Erwin.

Konflik lingkungan, lanjut dia, tidak hanya terjadi di kawasan daratan dan hutan, tetapi juga di wilayah pesisir Kutai Timur.

Aktivis Pulau Miang, Sapinah, menceritakan kondisi nelayan lokal yang kini kehilangan ruang tangkap akibat aktivitas kapal-kapal industri.

Dahulu, nelayan di sekitar Pulau Miang dapat memperoleh ikan dalam jumlah banyak tidak jauh dari bibir pantai.

Baca Juga:  Menhut Raja Juli Antoni Minta Maaf Usai Tertangkap Main Domino dengan Bekas Tersangka Pembalakan Liar

Kini wilayah tangkap mereka berubah menjadi jalur logistik dan tempat parkir kapal ponton berukuran besar. Nelayan sekarang katanya harus melaut lebih jauh karena takut tertabrak kapal besar.

“Pulau Miang terlihat cantik dari luar, tapi di dalamnya menyimpan konflik lingkungan yang berat juga,” pungkasnya.

Diketahui, film dokumenter Pesta Babi menyoroti perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan seperti suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu dalam mempertahankan tanah leluhur dan hutan adat mereka dari ekspansi proyek besar pemerintah maupun korporasi, seperti perkebunan sawit, tebu, dan program lumbung pangan (food estate).

Film tersebut menggambarkan bagaimana pembukaan hutan adat untuk proyek transisi energi dan ketahanan pangan skala besar dinilai telah merampas ruang hidup masyarakat lokal. (*)

Tags: FilmKerusakan HutanKerusakan Lingkungan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Vonis Dayang Donna Lebih Ringan dari Tuntutan, Jatam Kaltim Sebut Mafia Tambang Belum Tersentuh

Next Post

Sindikat Narkoba Samarinda Raup Omzet Rp200 Juta per Hari, Bareskrim Tangkap 13 Orang

Related Posts

Pertamina Didesak Buka Penyebab Hujan Abu di Balikpapan, Warga Mengaku Sesak Napas
Kaltim

Pertamina Didesak Buka Penyebab Hujan Abu di Balikpapan, Warga Mengaku Sesak Napas

26 Juni 2026, 21:24
9 Perusahaan Kutim Dapat PROPER Merah, Bupati Pilih Irit Bicara
Lingkungan

9 Perusahaan Kutim Dapat PROPER Merah, Bupati Pilih Irit Bicara

27 Mei 2026, 18:05
Tangis Warga Adat di Tengah Pembangunan IKN, Kini Air Bersih pun Harus Dibeli
Lingkungan

Tangis Warga Adat di Tengah Pembangunan IKN, Kini Air Bersih pun Harus Dibeli

25 Mei 2026, 15:17
Megawati Soekarnoputri Menangis Usai Nonton Film Pesta Babi, Soroti Hutan Berubah Jadi Sawit
Nasional

Megawati Soekarnoputri Menangis Usai Nonton Film Pesta Babi, Soroti Hutan Berubah Jadi Sawit

25 Mei 2026, 14:58
PT KNI dan JO Dahana-BBRI Dapat Rapor Merah KLH, Ini Klaim Kadis Lingkungan Hidup Bontang
Bontang

PT KNI dan JO Dahana-BBRI Dapat Rapor Merah KLH, Ini Klaim Kadis Lingkungan Hidup Bontang

21 Mei 2026, 14:23
Kementerian LH Beri Rapor Merah ke 65 Perusahaan di Kaltim, Terbanyak Sektor Tambang dan Sawit
Kaltim

Kementerian LH Beri Rapor Merah ke 65 Perusahaan di Kaltim, Terbanyak Sektor Tambang dan Sawit

21 Mei 2026, 12:07

Terpopuler

  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.