SAMARINDA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) untuk wilayah Kaltim mencatat pada September ini, Kaltim mengalami deflasi sebesar minus 0,26 persen. Capaian bulan ini lebih rendah dibandingkan inflasi sebesar 0,15 persen pada bulan sebelumnya.
Deflasi Kaltim tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar minus 0,18 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi Kaltim bersumber dari deflasi kelompok bahan makanan dan transportasi.
Masing-masing kelompok tercatat mengalami deflasi sebesar minus 2,33 persen dan minus 0,74 persen. Sementara inflasi tahunan Kaltim pada September 2018 tercatat sebesar 3,61 persen, lebih rendah dibandingkan Agustus 2018. Lebih lanjut, inflasi tahun kalender September 2018 turun menjadi 2,92 persen.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Muhamad Nur menerangkan, berdasarkan komoditasnya, deflasi Kaltim disebabkan oleh angkutan udara yang mengalami deflasi sebesar minus 4.97 persen. Sehingga memberi andil minus 0,14 persen pada inflasi Kaltim September 2018.
Di samping itu, komoditas kelompok bahan makanan juga menunjukkan deflasi antara lain layang atau benggol, bawang merah, daging ayam ras, dan tomat sayur. Andil deflasi total keempat komoditas tersebut mencapai minus 0,30 persen.
“Deflasi bawang merah disebabkan panen raya komoditas ini di sentra produksi sehingga pasokan meningkat. Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mencatatkan inflasi, antara lain tukang bukan mandor sebesar 8,8 persen dan biaya jaringan saluran televisi sebesar 5,54 persen,” ungkap Nur, Selasa (2/10) kemarin.
Disebutkan, berdasarkan kota pembentuknya, Samarinda mengalami deflasi sebesar minus 0,01 persen, disebabkan komoditas layang atau benggol. Di sisi lain, Balikpapan mengalami deflasi sebesar minus 0,60 persen akibat deflasi angkutan udara.
“Kami dan segenap stakeholder terkait yang tergabung dalam TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah, Red.) senantiasa memantau perkembangan pergerakan inflasi secara khusus dan perekonomian secara umum baik domestik maupun eksternal,” tutur Nur.
Tambah dia, sejumlah kegiatan telah dilakukan guna mengantispasi kenaikan harga yang berkelanjutan. Seperti operasi pasar maupun inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional maupun modern serta memantau ketersediaan stok di pasar induk dan distributor utama.
“Ini kami maksudkan untuk memantau pergerakan harga secara langsung dan memastikan ketersediaan stok di masyarakat. Kami akan terus melakukan asesmen terkait perkembangan perekonomian dan inflasi Kaltim terkini guna menuju sasaran inflasi akhir tahun sebesar 3,5 persen,” tandasnya. (drh)







