Jika panas hari terasa menyengat, Mustofa akan memilih duduk di batang sambil membenamkan kaki di aliran air Sungai Karang Mumus. Sesekali kakinya diangkat karena ada sekantong atau sekarung sampah yang hanyut hendak menabrak kakinya.
Sambil duduk, sebuah galah dengan jaring diujungnya ada dalam genggaman tangan. Mustofa akan menjaring botol, kotak dan gelas aneka minuman yang terapung hanyut mengikuti aliran sungai. Dan hari ini Mustofa berhasil mengumpulkan sebanyak :
5 Botol Aqua
3 Kotak Teh Kota
2 Gelas Teh Kita
2 Gelas Okky Jelly Drink
1 Botol Kecil Mogu Mogu
1 Botol Rama (Ranam Mahakam)
2 Botol Fiesta
2 Kotak Juice Buavita
1 Botol Teh Pucuk
2 Botol Teh Botol Sosro
1 Botol Pocari Sweet
Botol, kotak dan gelas itu disusun rapi di belakang rumahnya. Dari kejauhan mirip kios penjual minuman. Mustofa tak perlu melihat iklan di televisi untuk tahu minuman apa yang sedang nge hit di kotanya, cukup dengan memunguti kemasan minuman di sungai apa yang sedang terkenal akan terlihat. Semua minuman kemasan yang dijual di ritel-ritel dan minimarket dengan mudah ditemui mengambang di sungai.
Kaki Mustofa agak dingin karena terendam air, namun kepalanya panas sehingga cepat haus. Saat mau mengambil air minum ternyata air gallon di dispenser telah habis. Mamaknya yang melihat gelas Mustofa kosong langsung ngomel.
“Kamu itu tahu air minum sudah mau habis tidak mau beli, sana pergi beli”
Mustofa mengambil galon kosong itu dan gerobak kecil untuk mengangkutnya dan berjalan ke depan gang menuju depot air isi ulang. Untung air habis ketika hari masih terang, sehingga mudah untuk membeli. Bukan sekali dua kali di tengah malam, ketika tenggorokan tercekat kehausan, Mustofa menemui galon di rumahnya kosong. Sehingga terpaksa semalaman menahan haus dan tidurnya tidak nyenyak.
Ketika pulang dari membeli air minum isi ulang, saat keringat masih membasahi dahinya, Mustofa mengeluhkan keadaan kepada mamaknya.
“Mak, kita ini didekat sungai tapi kok tidak punya air bersih untuk masak dan minum?”
“Dulu masih bisa untuk masak, tapi mesti diendapkan semalaman,” kata mamak Mustofa tak menjawab pertanyaan.
“Mamak ini cerita dulu..dulu terus. Iya dulu banyak ikannya, dulu banyak pohon buah di tepi sungai, dulu banyak udang, dulu banyak perahu lalu lalang, dulu ..dulu ..dulu … apalagi mak,” tiba-tiba saja Mustofa meradang.
“Yang penting itu sekarang mak,”
Mamaknya hanya terdiam, sudah 10 tahunan lebih air Sungai Karang Mumus tak lagi digunakan untuk konsumsi. Setiap tahun hasil pemeriksaan atas kualitas air yang dilakukan instansi terkait menunjukkan kualitas airnya terus memburuk. Sebenarnya jangankan untuk makan minum, mandi atau cuci-cuci, tersentuh kulit saja sudah berdampak tidak baik.
Tapi itu teori, sebab dalam kenyataannya hampir semua warga di tepian Sungai Karang Mumus masih mengantungkan kebutuhan air bersihnya pada air sungai yang kerap dibilang mirip air limbah itu. Memang tidak lagi untuk memasak tapi untuk mandi dan cuci, bukan hanya baju tetapi juga alat dapur dan alat makan bahkan cuci beras.
Mamak Mustofa tahu bahwa banyak orang yang kaget, melihat warga di tepian Sungai Karang Mumus menggunakan air sungainya untuk keperluan sehari-hari.
“Mak …. mak, kok malah melamun”
Mamak Mustofa tersenyum, Mustofa heran sebab jarang mamaknya tersenyum. Senyum mamaknya biasanya mengambang ketika dagangan bapaknya habis terjual dan itupun jarang.
“Iya Mus, kalau dipikir-pikir sekarang ini semakin banyak jenis dan bentuk minuman, tapi kok kita semakin kesulitan air bersih,”
“Itu mak pertanda dunia sudah semakin tua,” (**)
Pondok Wira, 02/09/2016
@yustinus_esha





