Ikut-ikutan trends bike for work, Mustofa dan Bondan bermodal sepeda bututnya tak lagi berjalan kaki menuju sekolah. Kini mereka setiap hari terlihat beriringan pergi dan pulang sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah di tepian sungai mereka melihat ada pemandangan yang berbeda. Area ruang terbuka hijau yang memisahkan sungai dengan permukiman terlihat lebih semarak, seperti hendak ada perayaan disana.
Ada seorang ibu sedang menyapu dedaunan pohon penghijauan serta berbagai sampah yang kerap dibuang oleh mereka yang duduk-duduk di beton sungai atau bermain di rerumputan hijau bawah pepohonan. Terlihat beberapa orang lain juga sibuk, mengangkat meja dan membersihkan kursi serta menarik-narik kabel listrik untuk menghidupkan beberapa peralatan.
“Mumus sepertinya mau ada acara disini,”
Mustofa hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Bondan.
Rasa penasaran Bondan tak tertahankan.
“Wah, Mumus itu gambarnya bagus sekali. Masak itu ada di Sungai Karang Mumus?”
Kali ini Mustofa menanggapi keheranan dan ketidakpercayaan Bondan.
“Kamu kira Karang Mumus itu cuma penuh dengan rumah kanan-kiri. Bukan begitu Bondan,”
“Iya, tapi disebelah mana, masak masih seperti ada hutannya begitu,”
“Nggak jauh kok itu . Diatas Gunung Lingai, setelah perumahan Griya Mukti,” terang Mustofa.
“Kamu kok tahu Mumus?”
“Lah aku kan sering menyusuri sungai sampai atas sana,”
“Oh, iya kamu kan manusia sungai,” akhirnya Bondan tak lagi bertanya.
Di sebuah bangunan yang berlabel Posko Pangkalan Pungut, tergantung back drop besar bergambar sungai yang tenang dan kanan kirinya dipenuhi pohon. Dahan pohon itu saling bertemu di atas badan sungai membentuk peneduh bagi aliran sungai di bawahnya. Pertemuan antara dahan dari pohon terpisah dan membentuk tajuk itu kerap disebut secara populer sebagai kanopi atau peneduh. Di back drop itu tertulis “KETEDUHAN TERAKHIR DI SUNGAI KARANG MUMUS. Akan Hilang Jika Kita Hanya Diam”.
“Mumus, kita mampir dulu kah,” ujar Bondan mengajak Mustofa mampir ke Posko Pangkalan Pungut yang ternyata juga masih ramai ketika mereka pulang sekolah.
“Ngapain?”
“Foto dulu di gambar itu,” kata Bondan sambil menunjuk back drop yang tergantung.
Mustofa pun mengiyakan.
“Sudah pulang sekolah Dik,”
“Eh, iya kak .. sudah,” sahut Mustofa menanggapi pertanyaan seorang kakak yang dikenali olehnya karena pernah memberikan penyuluhan tentang lingkungan hidup di sekolah.
“Acara apa ini kakak … kok ramai dari tadi,”
“Itu kamu lihat kesana,” ujar kakak menunjuk ke meja yang berisi beberapa nampan tumpeng dan kue ulang tahun.
“Wah, banyak yang ulang tahun hari ini ya kak?”
Kakak itu tertawa.
“Bukan, ini ulang tahun pertama dari gerakan memungut sampah,”
Kakak itu menerangkan bahwa gerakan memungut sampah sudah beraktivitas selama satu tahu di Sungai Karang Mumus. Awalnya gerakan ini dibilang sebagai aksi sia-sia, kelakuan orang gila dan banyak sinisme yang lain.
“Jadi intinya apa yang tidak sepantasnya dibuang di sungai harus dipungut dari sungai,”
“Kak, yang membuang kan lebih banyak dari yang memungut. Berarti nggak akan habis dong kak?”
“Iya yang membuang jauh lebih banyak. Makanya yang memungut harus diperbanyak. Kalau yang memungut juga banyak lama-lama yang membuang akan malu kepada yang memungut. Begitu filosofinya,”
Mustofa mengangguk-angguk seperti paham. Di lingkungan tempat dia tinggal hampir tak ada yang memungut sampah dari sungai. Semuanya membuang dan kemudian sering menghanyutkan sampah yang tertahan di tiang-tiang rumah. Prinsipnya bukan membuang sampah di tempat yang benar, tapi menjauhkan sampah dari rumahnya sendiri dan berharap arus sungai membawanya ke arah muara.
“Betul kak, ditempat saya semua dibuang. Yang belum dibuang hanya suami buang istri, atau istri buang suami ke sungai,” ujar Mustofa sambil tertawa.
“Weh, kamu ini ya …..,”
Kakak itu kemudian mengajak Mustofa dan Bondan untuk menikmati santapan yang ada. Mumus melihat ada jajanan pasar dan itu yang diambilnya. Sementara Bondan langsung menyantap nasi kuning, urap, ayam dan tempe bacem.
“Mumus, ini mungkin tempe buatan bapakmu,” seru Bondan pada Mustofa.
Mustofa tersipu. Bapak Mustofa memang ternama sebagai pembuat tempe di pinggiran Sungai karang Mumus. Namun meski berusaha menjaga cara produksi yang higienis tetap sulit bagi bapaknya untuk tidak mencermari sungai. Meski produksi tempe bapaknya Mustofa memakai air PDAM, namun tetap buangan limbah cairnya dibuang langsung ke sungai.
“Bapakku ndak memakai air sungai untuk buat tempenya, Bondan,” ujar Mustofa.
“Iya, tapi kan air rendaman kedelai dibuang ke sungai, kulit arinya juga,” sahut Bondan.
“Iya sih, itu bikin bau, tapi kulit ari kedelai kan bisa jadi makanan ikan di sungai,”
Bondan tertawa dan kemudian berkata “Ikan Cicak nda makan kulit ari kedelai Mumus, kecuali sudah belumut,”
“Ayo ..coba ini minuman bahari, beruap rasa kopi,” ujar kakak menyela perbincangan Mustofa dan Bondan.
Dan setelah mencoba minuman beruap, minuman yang banyak diceritakan oleh orang tua mereka akhirnya Mustofa dan Bondan pamit pulang.
“Kakak, kami pulang dulu. Nanti mamak marah karena pulang sekolah mampir-mampir,” kata Mustofa.
Dalam perjalanan pulang, Bondan dan Mustofa terus membincang gerakan memungut sampah itu. Mereka berdua sepakat kalau gerakan itu hebat karena bisa bertahan selama satu tahun secara mandiri.
“Luar biasa ya Mumus mereka itu,” ujar Bondan.
“Iya tapi mereka tak perlu dipuji, sebab pujian tak akan membuat sampah naik sendiri dari sungai ke TPS,”
“Betul, mereka justru orang yang mengorbankan waktu, pikiran dan juga kesempatan demi sungai yang bersih,”
“Nah, dan orang yang rela berkorban memang tidak butuh pujian,” pungkas Bondan.
Pondok Wiraguna, 26/09/2016 @yustinus_esha







