Penulis:
Nurul Inayah, SEI
Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang
Konflik berdarah di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, masih terus berlanjut. Diduga sekitar 800 warga etnis Muslim minoritas Rohingya tewas dibunuh pasukan pemerintah Myanmar.
Dilansir dari laman Al Jazeera, Senin (28/8), serdadu pemerintah Myanmar semakin ganas menyerang warga Rohingya di daerah Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung di Negara Bagian Rakhine. Mereka tidak pandang bulu melepaskan tembakan. Targetnya mulai dari lelaki, perempuan, lansia, hingga anak-anak. Perkampungan mereka turut dibakar. Namun, pihak pemerintah mengklaim jumlah korban jiwa hanya seratus.
Menurut pegiat Rohingya dan blogger di Eropa, Ro Nay San Lwin, pasukan pemerintah Myanmar juga membakar sejumlah masjid dan madrasah. Sehingga warga Rohingya terpaksa mengungsi tanpa perbekalan dan tempat berlindung.
Ditengah krisis konflik dan kekerasan di negara bagian Rakhine di Myanmar akibat pecahnya bentrokan antara kelompok pemberontak Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) dan militer Myanmar pada Jumat lalu, minoritas Muslim Rohingya mencoba melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Namun hal tersebut tidak dibiarkan oleh serdadu Myanmar. Mereka dengan tega menembaki orang Rohingya tak bersenjata saat hendak mengungsi di perbatasan dengan Bangladesh.
Dilansir dari laman AFP, Minggu (27/8), awak media menyaksikan langsung bagaimana warga Rohingya hendak menyeberang ke pintu perbatasan Ghumdhum di Bangladesh dihujani peluru hingga mortir. Tentara Myanmar bahkan menggunakan senapan mesin diarahkan ke sekelompok pengungsi Rohingya di wilayah perbukitan dekat pintu perbatasan.
Bahkan, para pengungsi Rohingya tidak diizinkan memasuki wilayah Bangladesh yang merupakan Negara tetangganya. Bangladesh menganggap mereka sebagai pendatang gelap. Dan penjaga perbatasan Bangladesh memaksa mereka kembali ke Myanmar.
“Banyak warga Rohingya mencoba menyeberang ke negara kami, tetapi kebijakan kami tidak bisa membolehkan satu pun dari mereka datang,” kata Wakil Komisioner Distrik Cox Bazar, sebuah wilayah Bangladesh di dekat perbatasan, Mohammad Ali Hossain.
Negara Bagian Rakhine merupakan tempat bermukim sekitar 1,1 juta etnis Rohingya. Mereka hidup dalam kondisi miskin dan selalu dipinggirkan oleh penduduk mayoritas Buddha. Bahkan Myanmar enggan mengakui mereka sebagai warga Negara.
Muslimin Rohingnya, sejak tahun 1948 sampai sekarang tidak mendapatkan hak-hak mereka sebagai manusia. Ditahun 1982 ketika pemerintahan Ne Win memberlakukan Undang-Undang Kewarganegaraan, 800.000 orang Rohingya ditolak kewarganegaraannya. Pada tahun 1991-1992, 250 ribu pengungsi Rohingya membanjiri Bangladesh. Pada Tahun 2010 saat Thein Sein berkuasa, pemerintah junta militer menuju transformasi demokrasi, dan menjadikan Myanmar sebagai negara yang dipimpin sipil. Sistem politik dan ekonomi semakin terbuka. Pembatasan penulisan di media sudah makin longgar. Hanya etnis Rohingya yang tidak merasakan perubahan dari keterbukaan Myanmar ini, mereka masih tetap terpinggirkan, miskin dan terlantar.
Allah SWT telah memuliakan umat manusia, dan melebihkan kedudukannya dari makhluk lainnya. Allah telah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada bapak manusia, Adam AS. Dan Allah telah sediakan segala apa yang ada di daratan dan lautan untuk manusia. Serta memilih manusia sebagai pemimpin di bumi ini yang diberi amanah, dibekali dengan akal dan tugas. Namun, bagaimana dengan kondisi muslim Rohingya? Mereka diperlakukan bukan sebagai manusia. Tidak mempunyai tempat tinggal, makanan, pakaian dan tidak mendapat perlindungan, keamanan dan lain sebagainya.
Saat ini, tercatat lebih dari 100.000 muslim Rohingya dibunuh dan mayoritas mereka adalah wanita, anak-anak dan orang tua. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya hilangnya dunia (dan seisinya) benar-benar lebih ringan bagi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim.” (HR at-Tirmidzi).
Maka bagaimana dengan hilangnya ribuan bahkan jutaan jiwa melayang? Lalu, apa yang dilakukan negara-negara tetangga Myanmar? Mereka telah mengusir orang yang lari karena agamanya, dengan alasan tidak ada visa masuk. Padahal membantu mereka dengan memberi makanan, tempat tinggal dan pakaian adalah kewajiban Syar’i.
Begitupula dengan sikap pemerintah Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia. Semestinya Indonesia menghalangi pemerintah Myanmar untuk tidak menakut-nakuti orang Islam, membunuh dan membakar harta-harta mereka, dengan mengirim bala tentara untuk menyelematkan kaum muslimin. Namun pada kenyataannya, pemerintah Indonesia tidak menerima pengungsi yang menjadi saudara mereka sesama muslim.
Sesungguhnya pengkhianatan pemimpin muslim sudah sangat nyata, dan ini terlihat dari lepas tangannya mereka terhadap persoalan umat Islam dan menyerahkannya kepada masyarakat internasional. Padahal organisasi internasional ini tidak pernah menyelesaikan masalah apapun. Sebagai contoh, masalah Palestina masih dalam koridor PBB sejak lima sampai enam puluh tahun lalu. Dan sampai sekarang masih jalan di tempat, bahkan semakin kompleks.
Solusi nyata bagi Muslim di Rohingya adalah dengan mengirimkan tentara ke Myanmar dan menghentikan pembantaian, pemerkosaan dan kedzaliman terhadap kaum muslimin disana. Namun, selama kaum muslimin belum memiliki kekuasaan yang independen, maka selama itu, kaum muslimin dimanapun akan di dzalimi oleh kaum musyrik dan orang-orang kafir yang lainnya.
Inilah perlunya persatuan dan kesatuan kaum muslimin dalam satu kepemimpinan, agar kaum muslimin memiliki kekuatan untuk melawan kedzaliman orang-orang kafir. Bukan menyerahkan urusan kaum muslimin kepada PBB ataupun OKI yang selama ini gagal melindungi nyawa dan harta kaum muslimin di dunia.
Wallahu a’lam bissawab.







