SAMARINDA – Di tengah lesunya ekonomi, pariwisata Kota Tepian terus bergerak. Meski tidak memiliki destinasi wisata yang signifikan, bukan lantas membuat Pemkot Samarinda pasrah. Dalam hal ini, pemkot melalui Dinas Pariwisata mencari celah-celah yang bisa dikembangkan untuk mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Dinas Pariwisata Samarinda Muhammad Faisal mengatakan, Samarinda lebih dikenal sebagai kota industri perdagangan dan juga pendidikan. Sedangkan dari segi destinasi, masih belum begitu kuat. Karenanya, pemkot menyiasati dengan pengembangan sektor-sektor ikutan yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut.
“Ambil contoh di bidang pendidikan. Banyak mahasiswa dan pelajar dari luar Samarinda yang belajar di sini. Nah, pasti ada saat-saat di mana keluarganya datang berkunjung. Keluarganya ini bisa menginap di hotel dan berbelanja di mal yang ada di Samarinda. Pulangnya beli amplang atau roti durian sebagai oleh-oleh,” beber Faisal dalam seminar marketing with empathy, Sabtu (28/8) lalu.
Dari contoh itu, pemkot mendapatkan PAD dari hotel, mal, dan toko oleh-oleh. Itulah yang dia maksud dengan sektor ikutan. Sektor-sektor ini yang sekarang tengah dimaksimalkan untuk menghasilkan PAD. Kata Faisal, setidaknya ada tiga sektor yang menjadi perhatian Dinas Pariwisata yaitu kuliner, perhotelan, dan hiburan.
“Untuk kuliner saja, omzet keseluruhan di Samarinda bisa mencapai Rp 1,2 triliun. Sementara yang menyumbang ke daerah lewat pajak baru sepertiganya,” ungkapnya.
Faisal menyebut, pemanfaatan celah-celah pariwisata melalui sektor ikutan dalam tiga tahun terakhir cukup berhasil. Sepanjang 2016 lalu, pemkot bisa mengumpulkan hingga Rp 85 miliar dari industri pariwisata. Dari pariwisata, bisa menyumbang sebesar 25 persen dari keseluruhan PAD Samarinda. “Dengan pencapaian ini, Samarinda masih menjadi leader di Kaltim,” tambah Faisal.
Lebih lanjut dia mengurai, pencapaian tiga sektor pariwisata yang mewarnai PAD Samarinda terbilang baik. Dari sektor kuliner, sepanjang 2016 terkumpul Rp 40 miliar. Lalu dari sektor perhotelan, meskipun belum kuat, namun mampu menghasilkan PAD mendekati Rp 30 miliar. Pun begitu dengan sektor hiburan yang meliputi karaoke dan tempat hiburan malam (THM), mencapai hampir Rp 20 miliar selama tahun lalu.
“Kami terus mencari celah pariwisata yang bisa dikembangkan. Misalnya dengan menggelar berbagai event di mal. Yang pasti pariwisata itu harus menguntungkan,” pungkasnya. (luk)







