• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Nasional

Tahun Depan UU Pemilu Direvisi

by M Zulfikar Akbar
1 November 2019, 11:30
in Nasional
Reading Time: 2 mins read
0
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Persiapan Pemilu 2019 lalu yang serba mendadak membuat pemerintah melakukan evaluasi. Sejumlah aturan terbukti tidak bisa diimplementasikan dengan maksimal di lapangan. Agar lebih maksimal pada Pemilu 2024 mendatang, revisi undang-undang Pemilu yang menjadi basis aturan penyelenggaraan akan dimulai jauh-jauh hari.

Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan, pemerintah sepakat untuk memulai revisi UU Pemilu lebih cepat. Pihaknya akan mengusulkan agar pembahasannya masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) di tahun 2020. “Awal tahun 2022 diharapkan sudah selesai,” ujarnya usai rapat terbatas tentang program politik hukum dan keamanan di Istana Kepresidenan, Jakarta, (31/10).

Dengan selesai di awal tahun 2022, kata Mahfud, KPU sebagai penyelenggara memiliki kesempatan lebih luas untuk menyiapkan aturan teknisnya. Berbeda dengan pemilu 2019 lalu yang UU-nya baru selesai di akhir tahun 2017.

Selain itu, dengan selesai lebih awal, kesempatan untuk melakukan uji materi bagi masyarakat yang tidak puas juga bisa lebih leluasa. Berbeda dengan pelaksanaan pemilu lalu, di mana uji materi berlangsung di saat tahapan awal pemilu sudah berjalan. “Jangan sudah dimulai baru masuk MK,” tuturnya.

Baca Juga:  DPR Tetapkan Anggota KPU dan Bawaslu Terpilih Periode 2022-2027

Mahfud optimistis pembahasan UU Pemilu tidak akan menamakan waktu lama. Sebab, sifatnya hanya menyempurnakan UU sebelumnya. Soal pasal apa saja yang akan diubah dia belum bisa membeberkan. Saat ini, pihaknya pun sudah meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk menyiapkan drafnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini juga optimistis UU yang terkait hajat politik bisa segera dibahas. Yang penting ada komitmen bersama antara pemerintah dan DPR untuk membahasnya sejak awal. Dimulai dengan memasukkan tiga RUU ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020. Yakni, revisi UU Pemilu, Pilkada dan Parpol.

Salah satu hal yang paling urgent untuk dibahas adalah bab keserentakan pemilu. Saat ini, perkara keserentakan itu sedang diuji materi di Mahkamah Konstitusi. Menurut Titi, tidak masalah bila keduanya berjalan berdampingan. ’’Proses di DPR bisa berangkat dari kondisi objektif yang ada di masyarakat kita,’’ terangnya kemarin.

Baca Juga:  Rekapitulasi Pilpres 2019 Rampung, Jokowi Menang Atas Prabowo

Praktik pemilu serentak dengan lima surat suara terbukti sangat rumit untuk dilaksanakan. Perlu ada rumusan yang mampu menerjemahkan makna keserentakan tersebut. Alternatif yang diusulkan Titi adalah memisahkan pemilu nasional dan daerah. Pemilu nasional memilih Presiden, DPR, dan DPD, sementara pemilu daerah dilaksanakan minimal dua tahun setelah pemilu nasional. Memilih DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, Gubernur, serta Bupati/Wali Kota.

Evaluasi yang dilakukan terhadap pemilu 2019 bisa menjadi pijakan untuk meninjau kembali bentuk keserentakan pemilu. Apalagi, yang dibicarakan adalah kepentingan politik. Setiap partai pasti memperhitungkan kepentingan elektoranya. Yang terpenting, prosesnya segera dimulai. Fraksi-fraksi di komisi II harus segera memformulasi evaluasi dan rekomendasi atas penyelenggaraan pemilu 2019.

Baca Juga:  Jokowi Sebut Presiden Boleh Kampanye dan Memihak, Berikut Aturannya dalam UU Pemilu

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan revisi UU, adalah sifat terbuka dan partisipatif. Pembuat UU harus mau mendengar masukan dari banyak pihak. ’’Juga sebisa mungkin melibatkan penyelenggara pemilu. Jangan ditinggal,’’ lanjutnya. Selama ini, sejumlah pasal dalam UU Pemilu sulit diimplementasikan secara teknis karena penyelenggara kurang didengar masukannya.

Ketiga UU, baik pilkada, Pemilu, maupun Parpol, tidak boleh disusun dengan tergesa-gesa. Bila terlalu dipaksakan, bisa-bisa hasilnya tidak matang dan substansinya tidak berkualitas. Yang ada, malah mengulang kesalahan produk legislasi sebelumnya. Pembuat UU harus benar-benar fokus sejak awal agar produk regulasi yang dihasilkan benar-benar berkualitas. (far/byu/prokal)

Tags: kpu rimahfud mdmenkopolhukamuu pemilu
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Wali Kota Ajukan Stadion di Kaltim Ini Jadi Venue Piala Dunia U-20

Next Post

Berita Duka, Bek Kanan Timnas U-16 Alfin Lestaluhu Meninggal Dunia

Related Posts

DPR Setujui Anggota KPU Kaltim Iffa Rosita Jadi Komisioner KPU RI
Kaltim

DPR Setujui Anggota KPU Kaltim Iffa Rosita Jadi Komisioner KPU RI

10 September 2024, 15:10
Mahfud Sebut Hak Angket Tidak Akan Mengubah Hasil Pilpres 2024
Nasional

Mahfud Sebut Hak Angket Tidak Akan Mengubah Hasil Pilpres 2024

26 Februari 2024, 12:00
Jokowi Sebut Presiden Boleh Kampanye dan Memihak, Berikut Aturannya dalam UU Pemilu
Nasional

Jokowi Sebut Presiden Boleh Kampanye dan Memihak, Berikut Aturannya dalam UU Pemilu

24 Januari 2024, 15:30
DPR Tetapkan Anggota KPU dan Bawaslu Terpilih Periode 2022-2027
Nasional

DPR Tetapkan Anggota KPU dan Bawaslu Terpilih Periode 2022-2027

17 Februari 2022, 08:29
Awal Mei, Presiden Jokowi Teken Perppu Penundaan Pilkada 2020
Nasional

Awal Mei, Presiden Jokowi Teken Perppu Penundaan Pilkada 2020

30 April 2020, 07:00
KPU: Ada Opsi Pilkada Serentak 2020 Diundur Hingga September 2021
Nasional

KPU: Ada Opsi Pilkada Serentak 2020 Diundur Hingga September 2021

30 Maret 2020, 07:00

Terpopuler

  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemadaman Listrik Ganggu Usaha Kuliner Bontang, Mesin Kopi Rusak hingga Pesanan Batal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdikbud Bontang Beri Opsi PJJ, Sekolah Diminta Sesuaikan Kondisi Kabut Asap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.