Ketika Panggilan Berhaji Datangnya Mendadak
BERHAJI atau pun berumrah adalah memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk datang ke tanah suci Makkah Al-Mukarramah di Saudi Arabia.
Diperlukan biaya yang besar untuk sampai di Makkah itu. Mulai dari tiket pesawat, penginapan dan biaya hidup di tanah suci. Biaya akan semakin besar jika berangkatnya mendadak.
Namun jika Yang Maha Kuasa yang berkehendak, maka siapapun bisa memenuhi panggilan-Nya, meski pun tidak tajir, alias tak punya banyak duit.
Adalah Mad Tohir dan istrinya, contohnya. Perantau asal Jawa itu menjadi guru Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Palopo, 10 jam naik bus dari Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan.
“Saya ini seperti mimpi saja, bisa pergi haji mendadak seperti ini. Gaji guru seperti saya ini meskipun menabung seumur hidup, tidak mungkin cukup untuk membayar ongkosnya,” kata istri Mad Tohir, Suharmiyati yang fasih berbahasa Bugis dan Jawa.
Menurut Mad Tohir, dia dan istrinya diminta sang anak mendaftar haji di salah travel ONH Plus. “Petugas travelnya bilang, jika mendaftar sekarang, berangkatnya lima tahun yang akan datang,” kisahnya.
Lantas anak perempuannya, yang sukses sebagai eksekutif di salah satu perusahaan swasta, berinisiatif mendaftarkan ke travel haji di Makassar. Si anak maunya travel bisa mengusahakan mendaftar haji tahun ini, dan berangkat tahun ini juga.
Ternyata ada travel yang menyanggupi mengusahakan, dengan menggunakan Visa haji non kuota tetapi dijamin legal. Katanya menggunakan Visa furoda, visa haji perorangan yang diterbitkan secara resmi oleh Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta.
Mad Tohir pun bisa berhaji bersama istrinya, tanpa harus menunggu lima tahun lamanya. “Kata anak saya, jika berangkat lima tahun lagi, kuatir kesehatan saya akan menurun, karena umur semakin tua,” kata Mad Tohir dengan sumringah.
Semua proses hajinya berjalan lancar, dan sekarang Mad Tohir melalui grup WA haji furoda itu, mengabarkan sudah kembali lagi ke kampung halamannya di Lamassi, Palopo.
Begitu pula dengan Pak Obing beserta istrinya, ibu Pupu. Mereka berhaji dengan menggunakan Visa furoda. Mereka berangkat dari Jakarta pada tanggal 19 Agustus 2017, naik pesawat Oman Air, transit di Bandara Muscat, Oman, dan berakhir di Jeddah.
Pak Obing yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu, mengaku sehari-hari berkebun lombok di Serang, Provinsi Banten.
“Saya dan istri seperti mimpi saja bisa pergi haji sekarang,” kata pak Obing dengan logat Sunda yang kental. “Istri saya cuma bisa ngomong Sunda,” tambahnya.
Berbeda dengan Margiono. Pedagang sayur mayur asal Rejang Lebong, Bengkulu, itu berhaji dengan menggunakan Visa ziarah. “Saya mendaftar haji sebelum bulan Ramadhan 2017. Alhamdulillah bisa berangkat sekarang,” ungkapnya.
Margiono naik pesawat Srilangka Air, transit di Colombo, terus lanjut ke Riyadh, Saudi Arabia. Setelah menyelesaikan imigrasi di Riyadh, dia terbang ke Jedah. “Alhamdulillah ibadah haji saya lancar,” kata Margiono, yang pulangnya terbang langsung dari Madinah ke Jakarta, naik pesawat Saudia.
Para jamaah haji bervisa furoda, ziarah maupun pekerja ini ketika wuquf di Arafah maupun mabit di Mina, berhimpun di maktab 96, bersama jamaah haji dari mancanegara.
Di maktab 96 itu penulis bertemu dengan rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang bekerja di Korea Selatan. “Kami berangkat dari Korsel dengan visa furoda, diurus oleh travel yang dimiliki oleh orang Indonesia,” ujar salah seorang dari mereka, ketika ditemui di Arafah.
Di maktab 96 Mina, penulis bertemu dengan rombongan kepala suku asli Papua Barat, yang juga berhaji dengan visa furoda. “Kami mendapatkan undangan dari Yayasan Al-Manara, yang kantor pusatnya di Jeddah,” kata Ustad Fadlan Garamatan, ustad asli Papua, yang memimpin rombongan itu.
Ustad Fauzan Kamil LC. MA yang membimbing rombongan haji non-kuota itu, dalam salah satu tausiahnya, mengatakan, kita bisa memenuhi panggilan berhaji, apalagi berangkatnya mendadak, bukan semata karena punya uang yang banyak. Bisa juga berkat doa orang tua, sanak saudara, anak buah, teman maupun kerabat lainnya, “Karena itu doakanlah mereka, agar tahun depan bisa berangkat haji,” kata Ustad yang menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Madinah itu.
Para jamaah yang berangkat haji mendadak itu, tidak ada satu pun yang menggunakan visa jatah yang dimiliki Kementerian Agama Republik Indonesia.
Mereka ada yang menggunakan visa furoda (visa haji perorangan yang resmi dikeluarkan pemerintah Arab Saudi, biasa diartikan visa haji undangan dari pemerintah Saudi Arabia), visa ziarah, maupun visa amil (pekerja).
Selama di tanah suci mereka ada yang diurus travel, ada juga yang mengurus diri sendiri. Yang diurus travel terasa sama seperti berhaji dengan ONH Plus. (zam).







