• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

80 Persen Orangutan Tinggal di Luar Area Konservasi

by M Zulfikar Akbar
30 Januari 2019, 18:00
in Feature
Reading Time: 2 mins read
0
Orangutan ini harus berjuang hidup untuk sekadar mencari makan di lahan yang dirambah manusia. (Dok/Ecositrop for Kaltim Post)

Orangutan ini harus berjuang hidup untuk sekadar mencari makan di lahan yang dirambah manusia. (Dok/Ecositrop for Kaltim Post)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbulu cokelat, dan hampir serupa manusia. Katanya, orangutan perlu dilestarikan karena kondisi yang terancam. Namun nyatanya hingga kini, rumah mereka terus berkurang.

Nofiyatul Chalimah – Samarinda

KEHILANGAN tempat tinggal, begitu yang dialami para orangutan. Hanya ada sekitar 65 ribu orangutan di seluruh Kalimantan. Tak punya kuasa apalagi sertifikat tanah, para orangutan ini hanya berharap pada manusia yang mau berbelas kasih menjaga rumahnya. Namun, dari riset 12 tahun, nyatanya 70 hingga 80 persen orangutan tinggal di kawasan nonkonservasi yang rawan konflik.

“Jadi mereka tinggal di kebun sawit, tambang, permukiman, hingga HTI (hutan tanaman industri),” terang Scientific Coordinator Ecositrop (Ecology and Conservation Center for Tropical Studies) Yaya Rayadin kepada Kaltim Post, Selasa (29/1).

Baca Juga:  Daya Dukung Memenuhi, Sangkima Jadi Tempat Pilihan Lepasliarkan Orangutan

Tak mengherankan, mengingat kawasan konservasi pun tak sampai 10 persen. Yaya mengatakan, dari 3 juta hektare landscape Kutai, area konservasi tak sampai 300 ribu hektare. Padahal, lahan di luar area konservasi itu memungkinkan awalnya adalah rumah orangutan, namun dirambah untuk kepentingan pertambangan, perkebunan, industri, maupun permukiman.

Alumnus Hokkaido University, Jepang tersebut mengatakan, keberadaan orangutan bukan di hutan alam, menyengsarakan makhluk ini. Jika di hutan alam berat badan induk orangutan sekitar 40-50 kilogram, berbeda kisah di lain tempat. “Kami menemukan induk orangutan di kebun sawit itu berat badannya hanya 20 kilogram,” imbuh Yaya.

Tak mengherankan, sebab sawit adalah pangan alternatif, bukan utama. Jika ada orangutan yang memakan sawit, maka bisa dipastikan hutan sekitarnya rusak.

Baca Juga:  Viral Orangutan Menyeberang Jalan, BKSDA; Jangan Beri Makan

Malangnya, hingga kini tak ada aturan kebun sawit harus memiliki area konservasi. Hal ini, hanya bersifat anjuran. Sedangkan, untuk HTI memang telah ada anjuran untuk memiliki area konservasi, namun tak sedikit yang sekadar membangun area konservasi, tapi lemah menjaganya. Sehingga hutan terjamah tangan lain dan orangutan terpaksa pergi.

Meski begitu, perusahaan yang pasarnya konsumen internasional, mestinya memiliki perencanaan untuk konservasi orangutan.

“Biasanya, konsumen internasional akan meminta perencanaan perusahaan tersebut. Saat ini, beberapa bank yang akan memberi pinjaman ke perusahaan juga meminta strategi konservasi orangutan mereka. Apalagi, alat satgas untuk orangutan juga lebih murah kok daripada alat golf. Nah, tantangan juga datang dari masyarakat. Kalau perusahaan diserang kan tinggal laporan kalau rugi sekian ke atasan mereka. Kalau kebun masyarakat yang diserang kan, masyarakat bisa lapor rugi kemana?” jelas Yaya.

Baca Juga:  Habitat Orangutan di Kutai Timur Terancam, Fragmentasi Akibat Pertambangan Meningkat

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar Trigunajasa mengatakan, sudah banyak perusahaan yang meminta dilatih untuk penanggulangan konflik. Tahun lalu, sekitar 15 konflik dilaporkan. Paling banyak adalah laporan masyarakat. Dia menambahkan, urusan orangutan tak boleh sembarangan. Harus lebih peduli, profesional, dan koordinatif. “Kalau ada luka, apalagi sampai mati, itu urusannya ke ranah hukum,” pungkasnya. (*/rsh/k18/kpg)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: orangutan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Bawaslu Tahan 1.035 Eksemplar Tabloid Indonesia Barokah di Balikpapan

Next Post

Diduga Langgar Aturan Kampanye, Bawaslu Bakal Panggil Anggota Dewan

Related Posts

Orangutan dengan Anak Kembar di Kutim Diselamatkan dari Habitat Rusak
Nasional

Orangutan dengan Anak Kembar di Kutim Diselamatkan dari Habitat Rusak

5 Maret 2026, 14:22
Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat
Kaltim

Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat

4 Februari 2026, 15:17
Orang Utan di Areal Kilang
Bontang

Orang Utan di Areal Kilang

1 November 2025, 00:49
80 Persen Orangutan Tinggal di Luar Area Konservasi
Nasional

Ekspansi Tambang dan Perkebunan, Nasib Orang Utan Kian Mengkhawatirkan

24 April 2025, 15:12
Habitat Orangutan di Kutai Timur Terancam, Fragmentasi Akibat Pertambangan Meningkat
Kaltim

Habitat Orangutan di Kutai Timur Terancam, Fragmentasi Akibat Pertambangan Meningkat

1 Maret 2025, 18:10
Penyelamatan Orangutan di Kutim Jadi Cermin Kondisi Krisis Lingkungan, FRK: Narasi Konservasi Bisa Jadi Greenwashing
Kaltim

Penyelamatan Orangutan di Kutim Jadi Cermin Kondisi Krisis Lingkungan, FRK: Narasi Konservasi Bisa Jadi Greenwashing

23 Februari 2025, 15:09

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpol PP dan Dishub Kembali Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Trotoar Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resep Cumi Hitam, Lezat dan Memanjakan Lidah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1.700 Personel Kawal Demo 21 April di Samarinda, Kantor Gubernur dan DPRD Jadi Sasaran Aksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Amblas di KM 6 Bontang Ditambal Sementara, Perbaikan Total Tunggu Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.