• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Lika-liku Viko Januardhy Jadi Komisioner KPU Kaltim (1); Tiga Kali Lulus CPNS, Inisiator Judicial Review

by BontangPost
20 April 2017, 12:53
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Viko Januardhy (LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Viko Januardhy (LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Share on FacebookShare on Twitter

 

Masa depan Kaltim ada di tangan para pemudanya. Inilah yang disadari Viko Januardhy, dosen widyaiswara yang kini menjabat Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim. Sebelum menjadi bagian penyelenggara pemilihan umum (pemilu), Viko pernah berperan sebagai inisiator dalam menuntut keadilan bagi Banua Etam.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Sang ayah, Noorsyamsu Agang yang merupakan ketua KPU Kaltim pertama, adalah sosok inspiratif di mata Viko. Dari sang ayahlah Viko mengenal ilmu politik. Dia pun tertarik untuk mempelajari ilmu politik secara lebih dalam. Keinginannya ini ternyata mendapat dukungan penuh dari sang ayah yang semasa hidup berprofesi sebagai dosen.

“Ayah adalah idola dan inspirasi saya. Dari beliau saya mengenal ilmu politik. Di rumah banyak buku-buku tentang politik yang membuat saya tertarik belajar ilmu politik,” ujar Viko saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group) di ruangannya, Rabu (19/4) kemarin.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini lantas mengikuti jejak sang ayah kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Ketika menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Administrasi Negara, dia pun mengikuti jejak sang ayah dengan aktif berorganisasi. Setidaknya ada sembilan organisasi di kampus yang pernah diikutinya. Bukan sekadar anggota, Viko beberapa kali menjabat sebagai ketua di organisasi yang diikutinya.

“Saat baru tujuh bulan kuliah, saya sudah dipercaya menjadi ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) FISIP Unmul. Saya juga menjadi ketua Parlemen Mahasiswa FISIP Unmul tahun 2002-2003. Selain itu saya aktif di himpunan mahasiswa jurusan, senat, dan parlemen mahasiswa. Ayah saya dulu juga aktif di kampus, pernah jadi ketua dewan mahasiswa,” terangnya.

Baca Juga:  Jaang-Hasdam Dekati Nasdem

Selepas meraih gelar sarjana, Viko melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Saat masih mengejar gelar magister ini, Viko mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Kaltim tahun 2007. Dia lulus tes dan diterima bekerja di LAN. Namun dengan beberapa pertimbangan, termasuk ingin menuntaskan kuliahnya, Viko mengundurkan diri setelah sebulan bekerja di sana.

“Karena ketika bekerja di LAN saya tidak bisa fokus dalam melanjutkan kuliah. Keputusan mundur ini sempat dipertanyakan orang tua saya. Karena di saat orang-orang ingin menjadi PNS, saya justru memilih mundur,” kisah Viko.

Mundur dari LAN, Viko lantas melamar ke Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) Kaltim di Balikpapan. Dia diterima bekerja menjadi salah satu peneliti di institut besutan Jawa Pos tersebut sambil melanjutkan pendidikan pascasarjana. Sayangnya, sang ayah meninggal dunia pada September 2008, di saat Viko hampir menyelesaikan kuliah S2.

“Ayah belum sempat melihat saya lulus S2. Beliau meninggal karena strok. Saya begitu sedih karena beliau yang paling mendukung saya menempuh pendidikan,” sambungnya.

Sepeninggal sang ayah, Indah Eliana, ibunda Viko berpesan agar dia kembali mengikuti tes CPNS dan jangan mundur lagi. Mendengar keinginan itu Viko meneteskan air mata. Dengan niat membahagiakan sang ibu, Viko pun mengikuti seleksi penerimaan CPNS November 2008.

Bukan hanya satu, Viko mengikuti dua tes penerimaan CPNS secara berturut-turut di dua tempat berbeda. Yaitu di KPU Kaltim dan di Pemprov Kaltim.

Baca Juga:  2,5 Juta Hektare Lahan Terselamatkan

“Saya lulus dalam dua tes tersebut. Sehingga totalnya saya sudah tiga kali lulus dalam seleksi CPNS. Banyak yang tidak percaya kalau saya pernah tiga kali lulus CPNS,” ungkap Viko.

Setelah menimbang dan meminta pendapat ibunda, pehobi baca ini lantas memutuskan bergabung di Pemprov Kaltim. Tepatnya bekerja sebagai dosen widyaiswara di Badan Diklat Pemprov Kaltim. Dia ingin mengikuti jejak sang ayah sebagai dosen pengajar. Usut punya usut, kakek Viko pun juga seorang pengajar, guru SD dan SMP di Berau.

“Jadi memang ada darah guru dalam diri saya. Makanya saya lebih tertarik menerima pekerjaan di Badan Diklat,” simpulnya.

Namun saat baru akan bekerja sebagai widyaiswara, duka kembali menyelimutinya. Ibunda tercinta meninggal dunia menyusul sang ayah, April 2009. Kematian sang ibu ini membuatnya semakin terpukul. Pasalnya kala itu sang ibu belum sempat melihatnya bekerja sebagaimana yang diimpikan selama ini. Kehilangan dua orang terkasih dalam tempo yang singkat membuatnya sempat patah semangat.

“Saya akui sulit untuk bangkit kembali dengan cobaan berat tersebut. Tapi perlahan saya mulai kembali menjalani hidup saya. Setidaknya harapan ibu agar saya bisa menjadi PNS sudah terpenuhi,” papar Viko.

Hari-hari pun dilalui Viko sebagai tenaga pengajar dengan mata kuliah meliputi Wawasan Kebangsaan dan Sistem NKRI. Tapi bukan sekadar mengajar, Viko juga aktif bergerak untuk menjadikan Kaltim lebih baik. Salah satunya ketika dia menjadi inisiator judicial review terhadap Undang-undang (UU) Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah ke Mahkamah Konstitusi.

Baca Juga:  Ini Alasan DPR Panggil Timsel KPU-Bawaslu

“Saat itu saya dan rekan-rekan mempertanyakan pasal 14 ayat e dan f tentang pembagian hasil minyak bumi dan gas alam antara pusat dan daerah. Pembagian yang kecil dan tidak seimbang ke daerah membuat kami tergerak untuk memperjuangkannya,” bebernya.

Sebagai inisiator, Viko gencar berkomunikasi dengan Gubernur dan DPRD Kaltim guna mendukung perjuangannya tersebut. Mendapat dukungan dari eksekutif dan legislatif di Kaltim, perjuangan Viko pun berkembang. Dari yang awalnya tim inisiator, perjuangan Viko melebur dengan Majelis Rakyat Kaltim Bersatu (MRKB). Selama tiga tahun dari 2010 sampai 2012, Viko mengeluarkan segenap kemampuan demi memenangkan perjuangannya.

“Perjuangan saya ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap perlakuan pusat kepada Kaltim. Kami merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak-hak Kaltim, demi masa depan generasi penerus di Kaltim kelak,” sebutnya.

Total dalam berjuang, Viko sampai menjaminkan SK PNS-nya demi membiayai perjuangannya tersebut. Namun sayang setelah melalui sebelas kali sidang di MK, perjuangannya kandas karena MRKB dinyatakan kalah. Tentu Viko menjadi sedih, namun dia bangga sudah bisa mengawal perjuangan tersebut sampai tuntas.

“Kekalahan itu bukan akhir, malah menjadi awal perjuangan. Panggilan untuk anak-anak Kaltim agar lepas dari zona nyaman dan keterlenaan. Karena bila sumber daya alam ini semakin terbatas, akan sulit untuk membangun Kaltim di masa depan,” tegas Viko yang juga aktif sebagai Koordinator Pemuda Lemhanas RI Kaltim. (bersambung)

Tags: kisah inspiratifMetro Samarinda
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

WASPADA!!! Kaltim Rentan Praktik Human Trafficking

Next Post

Tahapan Pileg Dimulai Tahun Ini, Parpol Harus Bersiap

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.