• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Parpol Bingung Figur Alternatif,Pemilih Pragmatis, Materi Jadi Modal Utama Pilkada

by BontangPost
27 April 2017, 12:43
in Breaking News
Reading Time: 3 mins read
0
Ilustrasi

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

SAMARINDA – Masyarakat Kaltim tak disuguhkan figur alternatif dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018. Ungkapan “itu-itu saja” mewarnai bursa kandidat bakal calon gubernur (cagub). Adapun figur yang berpeluang maju, yakni Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar. Di samping itu, Isran Noor (mantan bupati Kutai Timur), Andi Sofyan Hasdam (mantan wali kota Bontang).

Ketua DPW PKB Kaltim Syafruddin menuturkan, di luar nama figur yang santer muncul dalam perburuan kursi gubernur, tidak ada pilihan nama lain yang siap. Tidak mungkin, terang dia, mendorong mobil yang mogok. “Kami juga mau ada figur alternatif. Minimal orang itu berprestasi, sehingga ada daya tarik yang bisa dijual ke masyarakat. Faktanya tidak muncul,” kata Syafruddin, kemarin (26/4). “Kalau ada, partai pasti welcome. Siap mengorbitkan,” sambungnya.

Dirinya yang juga sebagai anggota DPRD Kaltim setiap empat bulan menjalankan reses (serap aspirasi) ke daerah pemilihan. Yang disampaikan masyarakat, tidak keluar dari figur yang selama ini hendak maju pilgub. Yakni, Syaharie Jaang, Rita Widyasari, Isran Noor, dan Yusran Aspar. “Memang mereka lebih eksis. Ketika dihadapkan pilihan, pasti masyarakat memilih yang mereka tahu dan kenal,” tuturnya.

Dikatakan, tak bisa menyamakan Kaltim dengan DKI Jakarta.

Dari beberapa sisi, banyak perbedaan. Mulai anggaran, tingkat rasional pemilih, dan melek media massa. Tak adanya wajah fresh muncul, bukan menjadi kesalahan partai semata. Akademisi dan profesional lainnya juga mesti proaktif terlibat. “Untuk memunculkan seperti Ridwan Kamil di Bandung butuh proses waktu,” imbuhnya. Ketua DPW PAN Kaltim Darlis Pattalongi mengatakan, sebelum membuka pendaftaran, partai yang ia pimpin membangun komunikasi dengan beberapa tokoh.

Baca Juga:  Masa Tenang, Panwaslu Siaga

Itu upaya meyakinkan semua pihak bahwa partai berlambang matahari itu terbuka. Sepakat bahwa parpol tidak sekadar membuka penjaringan. Meski, tak bisa memaksa tokoh yang diajak berkomunikasi untuk mendaftar.

Bocoran dari internal PAN, salah satu ditemui tapi tidak mendaftar, yakni Sekprov Kaltim Rusmadi. Terbukti, hingga penutupan masa pendaftaran yang bersangkutan tidak muncul. “Tentu banyak pertimbangan kalau tidak mendaftar,” ucap Darlis.

Sebenarnya tak sulit memunculkan figur alternatif. Dengan kondisi Kaltim seperti sekarang, menantang orang yang tidak bersentuhan kepentingan praktis untuk mengimplementasikan ide dan gagasannya. Sebagai contoh, persoalan lingkungan. Tidak sepenuhnya yang berlatar belakang politikus memahami. Justru, kalangan profesional dan akademisi yang memiliki bekal ilmu tersebut.

“Cuma sekali lagi, orang ikut pilkada banyak pertimbangan. Tidak cukup ide dan gagasan saja. Elektabilitas dan materi juga menjadi tantangan,” katanya. Mantan anggota DPRD Kaltim itu menambahkan, tidak hanya partai yang bertanggung jawab. Paling pokok ialah masyarakat. Sebab, pada akhirnya masyarakat yang memilih. Bila pilihan masyarakat berat dengan pertimbangan pragmatis, semakin menjauhkan figur yang hanya memiliki ide dan gagasan untuk maju pilkada. “Jauh dari semangat kompetisi kalau pragmatisme dominan,” imbuhnya.

Sedianya, LSM dan dunia kampus juga bertanggung jawab memberikan pendidikan politik ke masyarakat. Bila hendak pilkada semakin berwarna, mesti diperjuangkan bersama agar pilihan masyarakat tak tertumpu dengan alasan pragmatis. Sementara itu, parpol tentu menghendaki calon yang diusungnya menang dalam pertarungan. Pasti tidak mungkin mendukung yang diprediksi akan kalah.

Baca Juga:  AWAS!!! Coklit Fiktif Bisa Dipidana

Sangat naif bila partai dituntut memunculkan calon dengan menghilangkan kemampuan finansial. “Kalau situasi pasar (masyarakat memilih) masih pragmatis, tidak salah menjadikan materi jadi alasan utama untuk menang. Jujur saja, sekarang ide dan gagasan nomor sekian,” sebut dia. Meski diakuinya, hal tersebut tak boleh terus dibiarkan langgeng berjalan. Seluruh pihak mesti menjadikan sebagai musuh bersama.

Pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Lutfi Wahyudi menuturkan, partai politik di Kaltim belum berusaha kuat menggali potensi dari tokoh dan calon pemimpin di daerah ini. Realitas yang terjadi, partai menunggu figur yang hendak mendaftar sebagai bakal calon gubernur. “Belum ada upaya memunculkan. Wajar saja, sekarang ini orang yang muncul itu-itu saja. Yang sudah dikenal masyarakat,” ujarnya.

Partai juga tidak cukup berani berspekulasi memunculkan figur alternatif yang belum dikenal. Saat sekarang, padahal, masih cukup waktu. Lagi-lagi, kata Lutfi, ini berkaitan dengan finansial. Tatkala tak memiliki itu, kecil kemungkinan partai untuk melirik figur potensial, namun tak memiliki kemampuan finansial cukup. Di samping memiliki isi kantong, popularitas dan elektabilitas bakal calon gubernur juga menjadi pertimbangan partai. “Mereka (partai) perlu amunisi untuk Pileg (Pemilihan Legislatif) 2019,” sebutnya.

Nah, kalau semuanya dimiliki si calon, partai bisa mendompleng untuk menaikkan elektabilitas. Artinya, dalam setiap penyelenggaraan pemilihan kepala daerah selalu dikaitkan dengan agenda politik lima tahunan partai, bukan bangsa. “Sifatnya memang pragmatis,” ucap dia. Sebelumnya, Golkar, PKB, PAN, PPP, dan NasDem sudah membuka penjaringan bakal cagub dan cawagub.

Baca Juga:  Dokumen Paslon Didominasi Fotokopi

Khusus Golkar, hanya memberi kesempatan posisi bakal cawagub. Tak ada nama fresh yang muncul. Nyaris, seluruh pendaftar ialah kepala daerah dan mantan kepala daerah. Adapun itu, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar. Di samping itu, Isran Noor (mantan bupati Kutai Timur), Andi Sofyan Hasdam (mantan wali kota Bontang), dan Didik Effendi (mantan wakil bupati Kutai Barat). Segelintir saja dari anggota DPR RI dan pensiunan PNS.

Belum menjadi bakal cagub dan cawagub, sudah ada ongkos politik yang mesti mereka keluarkan. PKB dan PAN mematok tarif pendaftaran sebesar Rp 25 juta. Tarif yang dipasang PPP sedikit lebih rendah, yakni Rp 20 juta. Biaya itu berlaku sama antara mendaftar sebagai bakal cagub dan cawagub. Rita, Jaang, Isran, serta Yusran sama-sama sudah mengeluarkan Rp 50 juta. Mereka sudah resmi mendaftar sebagai bakal cagub di PKB dan PAN.

Dana itu disebut-sebut digunakan untuk operasional penyelenggaraan penjaringan. Di samping itu, untuk menyiapkan panggung politik bagi pendaftar menyampaikan visi-misi dalam forum khusus partai masing-masing. Tak heran, bila maju sebagai calon kepala daerah berbiaya tinggi sulit terbantahkan. (ril/riz/kpg/gun)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Calon GubernurMetro Samarindapilgub kaltim 2018
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Cerita Selamat Ari Wibowo Jadi Anggota DPRD Kaltim; Berawal dari Guru Honorer, Maju Berbekal Keyakinan

Next Post

PDIP Utamakan Kader, Siapkan Mekanisme Penjaringan Cagub

Related Posts

Wali Kota Basri Masuk Bursa Calon Gubernur Kaltim dari PKB
Kaltim

Wali Kota Basri Masuk Bursa Calon Gubernur Kaltim dari PKB

17 September 2022, 19:00
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10
Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat
Kaltim

Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat

22 Desember 2018, 16:00
Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 
Kaltim

Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 

21 Desember 2018, 16:30

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Bontang Berulah Lagi, Uang Curian Rp20 Juta Ludes untuk Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Parkiran Semrawut di Tanjung Laut Bontang, Warga Keluhkan Akses Tertutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 30 Penginapan di Bontang Kuala, Baru 2 yang Bayar Pajak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SPMB Bontang 2026 Dibuka Mei, Jalur Afirmasi Dapat Kuota 25 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.