Selamat Ari Wibowo paham benar betapa sengsaranya hidup di daerah yang minim infrastruktur. Karena itu melalui perannya sebagai Anggota DPRD Kaltim, Selamat berupaya mewujudkan infrastruktur yang layak bagi daerah-daerah yang dia wakili.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Kondisi daerah yang minim infrastruktur menjadi salah satu dasar Selamat Ari Wibowo mencalonkan diri sebagai legislator di DPRD Kaltim. Kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Selamat mengisahkan tentang masa kecilnya sebagai anak transmigran di Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar).
“Waktu itu sarana dan prasarananya masih sangat memprihatinkan. Jalan darat ke Samarinda belum ada, mesti naik kapal lewat Mahakam,” kata Selamat saat ditemui di ruangannya, Rabu (26/4) kemarin.
Kondisi serba terbatas ini lekat menemaninya selama dia mengenyam pendidikan dasar hingga menengah atas. Memiliki keinginan menjadi guru, Selamat lantas melanjutkan pendidikan tinggi mengambil pendidikan ilmu ekonomi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda di tahun 2000.
“Saat itu mahasiswa laki-lakinya hanya enam, yang lainnya perempuan,” kenang pria kelahiran Blitar, 36 tahun lalu ini.
Di kampus, Selamat mulai aktif berorganisasi. Dia mengawali karier organisasinya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) FKIP Ekonomi Unmul. Setelahnya, dia dipercaya menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unmul. Sedangkan pada kegiatan luar kampus, dia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Samarinda.
“Kegiatan organisasi ini yang membawa saya ke dunia politik. Di tahun 2006, saya tergabung dalam Garda Bangsa (Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa) di bawah PKB bersama Syafruddin yang sekarang Ketua DPW PKB Kaltim,” ungkapnya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Selamat memutuskan pulang kampung ke Tenggarong Seberang. Saat itu dia memenuhi keinginan orang tua yang ingin Selamat mengabdikan diri menjadi guru di kampung halamannya. Selamat lantas menjadi guru honorer di SMAN 1 Tenggarong Seberang, mengajarkan mata pelajaran Ekonomi, Bahasa Indonesia, dan Sosiologi.
“Makanya saat itu saya pamit pada teman-teman di PKB untuk pulang mengabdi di kampung halaman,” tambah Selamat.
Namun di tahun 2008, ketika terjadi konflik di tubuh PKB, Selamat dihubungi Syafruddin untuk kembali ke Samarinda. Dia diminta bekerja sama demi menyelamatkan partai yang tengah dilanda konflik internal. Pasalnya waktu itu banyak pihak luar yang mau masuk menguasai PKB. Maka munculnya kesepakatan agar anak-anak muda PMII dan NU yang mengambil alih kepengurusan partai.
“Sejak itu saya mulai aktif di PKB untuk bersama-sama membesarkan partai yang kala itu tengah terpuruk akibat konflik,” sebutnya.
Dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2009, Selamat pertama kali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kaltim. Namun kondisi partai yang tengah berada di titik nadir membuat Selamat tak bisa berbuat banyak. Bukan hanya dia yang gagal meraih kursi, namun PKB Kaltim sama sekali tidak mendapat jatah kursi di Karang Paci, sebutan DPRD Kaltim.
“Perolehan kursi PKB merosot drastis. Dari yang awalnya di Pileg 2004 dapat 4 kursi, di tahun 2009 tidak dapat kursi satu pun,” jelas Selamat.
Kegagalan partai ini pun menjadi bahan pembelajaran oleh Selamat dan rekan-rekannya di PKB. Perlahan dengan kegigihan dan kerja sama tim, PKB kembali bangkit. Hasilnya dalam Pileg 2014, PKB berhasil menempatkan lima calegnya di Karang Paci. Salah satunya Selamat Ari Wibowo yang maju mewakili daerah pemilihan (Dapil) 4 Kaltim, meliputi Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kutai Barat (Kubar). Padahal sebelumnya Selamat bersama caleg-caleg PKB lainnya diremehkan bisa berbicara dalam pemilu.
“Karena saat itu modal materi kami sangat terbatas. Bahkan kami sempat dijuluki ICMI, kepanjangannya Ikatan Caleg Miskin Indonesia,” kata dia tersenyum simpul.
Dikisahkan Selamat, waktu itu dia bersama caleg-caleg lainnya menyadari akan susah bertarung dalam pemilu dengan modal yang minim. Namun begitu dia lantas menyakini bahwa modal materi bukanlah segalanya dalam memenangkan pemilu. Karena ada juga caleg yang meskipun punya banyak modal, tetap saja gagal menjadi lagislator.
“Jadi waktu itu saya berdoa kepada Tuhan, semoga apa yang saya usahakan bisa dikabulkan,” ujar Selamat.
Pun begitu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB turut memberikan motivasi kapada para caleg PKB Kaltim untuk tidak berkecil hati dengan kondisi yang tengah dialami. Dalam hal ini, DPP mengungkapkan, hampir semua legislator yang sukses di pusat dulunya juga bernasib sama. Yaitu hanya berasal dari santri biasa yang tidak punya apa-apa.
“Misalnya Bapak Yanuar Prihatin yang menulis buku 5 Kunci Pemenangan Pemilu. Itulah yang kemudian mengilhami kami untuk berjuang menghadapi pileg waktu itu,” tuturnya.
Selamat pun memaksimalkan apa yang bisa dilakukannya dalam berkampanye. Dia melakukan sosialisasi dengan mendatangi komunitas-komunitas masyarakat. Tak ada pengerahan massa, semuanya dilakukan secara sederhana dan apa adanya. Bahkan selebihnya proses sosialisasi dilakukan Selamat melalui obrolan-obrolan di warung kopi.
“Kami meyakini bahwa tanpa campur tangan Tuhan, pasti susah meraih yang dicita-citakan. Waktu itu banyak yang tidak menyangka saya bisa menjadi anggota DPRD Kaltim,” kata Selamat.
Menurut Selamat, banyak yang menyebut keberhasilannya itu sebagai suatu kebanggaan. Karena biasanya, mereka yang menjadi anggota dewan sudah mapan dari segi finansial. Yaitu mereka yang sebelumnya menjadi anggota DPRD di tingkat kabupaten/kota, atau yang sebelumnya sudah menjadi pengusaha.
“Sementara waktu itu selain belum mapan, saya juga belum pernah jadi anggota dewan di DPRD Kukar,” terangnya.
Sebenarnya Selamat sempat punya niat akan tetap mengajar sebagai guru bila terpilih menjadi legislator. Sayangnya, kesibukan kegiatan di DPRD Kaltim membuatnya tidak lagi punya waktu untuk mengajar. Dia pun mesti rela berhenti menjadi guru dan fokus dengan karier politiknya di DPRD Kaltim. Walaupun menurutnya, ada kepuasan batin tersendiri ketika dia bisa mengajarkan ilmu kepada anak-anak didiknya.
“Karena guru mendidik anak bangsa. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya bila ada murid saya yang berhasil,” kata Selamat.
Kini sebagai anggota DPRD, perannya meliputi pembahasan berbagai anggaran, program, dan peraturan. Hampir di setiap hari dia dihadapkan dengan pertentangan. Pun begitu setiap hari dia mesti bolak-balik dari Tenggarong Seberang ke Samarinda. Pasalnya sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, sudah menjadi kewajiban Selamat untuk merawat orang tuanya yang sudah sepuh di kampung halamannya tersebut.
“Tapi sekarang transportasinya sudah relatif mudah. Sekira satu jam dari Tenggarong Seberang ke Samarinda,” ungkapnya.
Namun begitu Selamat menjalankan tugasnya dengan tulus. Semua dilakukan untuk masyarakat Kaltim, khususnya dari daerah yang diwakilinya di Kukar dan Kubar. Sayangnya, persepsi masyarakat terhadap pekerjaannya sekarang ini masih banyak yang salah. Kata dia, masih ada masyarakat yang menganggap anggota DPRD menguasai hampir semua bidang persoalan.
“Padahal kami juga punya keterbatasan dalam bekerja. Tapi saya berusaha agar setiap keluhan masyarakat dari reses bisa saya sampaikan ke eksekutif untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.
Salah satu masalah yang banyak dikeluhkan yaitu terkait infrastruktur jalan. Di antaranya jalan dari Samarinda menuju Muara Kaman. Keluhan ini dilanjutkan Selamat ke Pemerintah Provinsi. Dengan turunnya anggaran dari provinsi, pembangunan jalan ini pun mendapatkan perhatian. Walaupun progresnya lambat, namun cukup menjawab keluhan masyarakat.
“Pembangunan jalan memang jadi satu di antara prioritas saya sebagai anggota dewan. Saya ingin ada pemerataan dalam hal pembangunan infrastruktur di Kaltim. Jangan di perkotaan, di daerah-daerah pedesaan juga mesti mendapat perhatian,” papar Selamat.
Prinsip hidup Selamat sendiri terbilang sederhana. Baginya yang paling utama adalam berusaha dan berdoa. Karena menurutnya, di dalam berusaha itu dia dituntut untuk bekerja keras. Sementara di dalam doa, ada kekuatan tersembunyi yang tidak tampak. Di situlah peran Tuhan Yang Maha Kuasa sangat besar terhadap kehidupannya. “Harus pandai mengucapkan syukur,” tandasnya. (***)
TENTANG SELAMAT
Nama: Selamat Ari Wibowo
TTL: Blitar, 5 Januari 1981
Ortu: Parto Kawit (ayah), Miatun (ibu)
Pendidikan:
- SDN 041 Tenggarong Seberang (lulus 1994)
- SMPN 5 Tenggarong Seberang (lulus 1997)
- SMAN 1 Tenggarong Seberang (lulus 2000)
- FKIP Ekonomi Unmul Samarinda (lulus 2006)
Alamat: Jalan Juanda Nomor 1, Air Putih, Samarinda Ulu







