• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
[the_ad_group id="8923"]
Home Breaking News

Serial Karang Mumus (03): Relokasi, Antara Menguasai dan Memiliki

by BontangPost
8 Februari 2017, 13:01
in Breaking News
Reading Time: 4 mins read
0
Ilustrasi(misman rsu/net)

Ilustrasi(misman rsu/net)

Share on FacebookShare on Twitter

Berita hoax soal kenaikan harga rokok semurah-murahnya menjadi Rp. 50 ribu yang disertai list daftar harga rokok baru menohok jantung perbincangan di tengah masyarakat. Sebagai masyarakat isu, kenaikan rokok yang mencapai 200% lebih itu membuat sebagian besar warga terjangkit penyakit GU atau Gila Urusan. Padahal usut punya usut berita heboh itu nyatanya hanya hasil dari comot sana comot sini yang dipadu dengan gaya jurnalisme bombastis dengan  tujuan meningkatkan klik di link beritanya.

Tidak pernah ada yang mengusulkan kenaikan harga rokok secara resmi hingga Rp 50 ribu. Angka itu muncul dari pertanyaan peneliti kepada responden yang adalah perokok. Kepanda mereka ditanyakan kira-kira akan berhenti membeli rokok jika harga rokok berapa, dan kisaran jawabannya adalah Rp 50 ribu. Dan apakah benar jika harga rokok mencapai angka itu mereka akan benar-benar berhenti beli rokok, tentu tidak ada jaminan.

Berita kenaikan harga rokok yang pantas disebut sebagai konspirasi ala Yahudi itu ternyata ampuh mengubur warta tentang penertiban yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Samarinda atas permukiman pinggir sungai yang ada di segmen setelah Jembatan Ruhui Rahayu. Konon upaya penertiban itu akan dilakukan di akhir bulan Agustus 2016.

Namun di antara teman-teman sekolah Mustofa, meski masih di bangku menengah pertama ternyata ada yang berbakat untuk menyeleksi berita. Si Bondan namanya, bocah yang sulit menelan berita hoax. Konon Bondan selalu menggunakan model yang dipakai Socrates yang dikenal sebagai Triple Filter Test. Namun Bondan menyebutnya sebagai 3 K yang adalah Kebenaran, Kebaikan dan Kegunaan.

Bondan tak akan berbincang atau menyebarkan segala sesuatu yang tak lolos dari uji 3 K. Maka soal kenaikan harga rokok Bondan tak mau ikut ramai, pasalnya dia bukan perokok dan sekali pernah mencoba, dia batuk-batuk dan gara gara tercium bau rokok dari mulut, Bapaknya menghadiahi tamparan persis di bibirnya.

Baca Juga:  Serial Karang Mumus (1O), Ada Mukidi di Karang Mumus

Selain itu dengan uji 3 K, berita kenaikan rokok tidak lulus tes. Pertama dari sisi Kebenaran, berita itu dianggap tidak benar karena muncul dan menyebar di media sosial. Dan tidak jelas siapa yang mengusulkan dan siapa yang memutuskan. Kenaikan segala sesuatu jika bukan karena situasi pasar, tentu akan ada pengumuman resmi dari pemerintah.

Dan dari sisi Kebaikan, menurut Bondan berita itu tidak baik karena menyebabkan keributan dalam masyarakat, masyarakat terpecah menjadi dua. Dan akhirnya tidak jelas apakah merokok itu baik atau tidak karena kedua belah pihak yang pro dan kontra saling mengajukan bukti yang diklaim sebagai valid. Informasi soal kematian yang dianggap diakibatkan oleh rokok misalnya dituduh sebagai hasil olahan data rumah sakit.

Nah dari sisi Kegunaan, berita itu dianggap tak berguna untuk memancing diskursus yang lebih sehat soal rokok dan kesehatan. Berita ini hanya berguna untuk para buzzer, pemburu klik link berita yang mengejar komisi lewat ad sense atau pay per click.

Tapi soal relokasi warga di bantara Sungai Karang Mumus menurut Bondan sudah lulus test 3 K. Makanya Bondan kemudian membicarakan itu dengan Mustofa.

“Mus, Mumus … kamu dah dengar berita relokasi warga kah?”

“Iya, sudah,”

Mumus sepertinya ogah-ogahan menanjawab pertanyaan Bondan.

“Kok kamu malas-malas begitu, memangnya rumahmu nggak tergusur?”

“Ah, cerita lama itu Bondan. Cerita relokasi berbalut pro kasih (program kali bersih) dan revitalisasi sungai itu dah dua puluhan tahun lampau,”

Perbincangan Bondan dan Mustofa serius benar, mirip acara Talk Show TV yang menghadirkan pembicara super duper itu.

Baca Juga:  Serial Karang Mumus (08): Makin Banyak Jenis Minuman Tapi Sisa Sedikit Air Bersih

“Tapi ini sudah di deadline lo Mumus, tanggal 31 Agustus 2016, harus bersih, bongkar sendiri dan tanpa ganti rugi, karena tanah itu tanah Pemerintah Kota,” terang Bondan.

“Sudah lah Bondan, di kota kita ini semua-semua rencana yang lebih tahu duluan media berita. Jadi masyarakat nggak tahu apa-apa. Jadi tunggu saja, betul apa ndak,”

Bondan mulai meragukan metode 3 K nya. Dan jika merunut ke belakang, sebelum ini Bondan juga membaca bahwa sudah siap 84 rumah untuk ditempati warga yang akan direlokasi.Tapi sampai sekarang belum juga ada pemindahan.

“Coba kamu baca ini Bondan,” kata Mustofa sambil menunjukkan Smartphone Adroid murahannya.

“Kamu bisa baca kan, kalau yang namanya relokasi itu sudah digagas dari jamannya Kadrie Oening, lalu dilanjutkan Waris Husein, Lukman Said, hingga Achmad Amins. Kalau yang sekarang sih ..wacana terus. Tetap jadi prioritas tapi ujung-ujungnya tak ada anggaran,” terang Mustofa

BONDAN MENGANGGUK-ANGGUK

“Tapi bagaimana dengan pernyataan bahwa 20 meter dari pinggir sungai tak boleh ada bangunan apapun?. Berarti banyak yang harus berangkat,”

“Ya pastilah, tapi yang bicara itu bisa kah menunjuk mana pinggir sungai. Pinggir sungai yang jelas itu yang sudah diturap, dibeton dari Muara Sungai Karang Mumus sampai sekitar Kehewanan. Di luar itu… mana pinggirnya?” tanya Mustofa

Bondan kembali mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan oleh Mustofa soal pinggiran sungai.  Tak ada tanda dimana batas pinggir sungai sebab sungai tertutup oleh rumah-rumah dan rerumputan.

“Jadi kalau mau menertibkan dan mengembalikan wilayah sungai yang pertama adalah tentukan batas sungai dan diberi tanda,” terang Mustofa yang tahu persis bahwa sepanjang aliran Sungai Karang Mumus yang kelihatan justru tanda patok tanah kaplingan.

“Betul juga kamu Mumus, bagaimana kita bisa membersihkan 20 meter dari tepi sungai kalau tepi sungainya saja tidak jelas,”

Baca Juga:  Serial Karang Mumus (25) Tetap Berkorban Meski Tak Ada Pujian

Pembicaraan antara Bondan dan Mustofa memasuki tema tingkat tinggi. Entah roh apa yang merasuk dalam diri kedua bocah itu sehingga mereka mampu bertukar kata layaknya ahli dan pengamat.

“Sudah lama Bondan, sungai ini dikuasai,”

“Maksudmu?”

“Ya dikuasai oleh berbagai kepentingan, lewat pendudukan, penyerobotan tapi juga pembelian,”

“Lo, Mus, kenapa kalau sudah membeli kok hanya menguasai tidak memiliki,”

“Ya, meski wilayah pinggiran sungai dijual-belikan secara berpuluh tahun lalu, tapi wilayah itu tetap milik sungai,” jawab Mustofa.

“Tapi sering dibilang sebagai tanah negara atau pemerintah,”

“Tidak, itu hanya sebutan saja, hanya dikuasai oleh negara atau pemerintah, tapi tetap milik sungai,”

“Apa artinya milik sungai?,” tanya Bondan pada Mustofa.

“Begini Ndan, sungai itu bukan sekedar aliran air. Dia satu kesatuan dengan lingkungan sekitarnya. Daerah tepi sungai itu ibarat jaket pelindung aliran sungai. Kalau sungai tak punya itu maka dia ibarat orang telanjang,” terang Mustofa panjang lebar.

“Betul juga kamu Mumus. Lihat sungai kita ini karena diduduki sampai mendekati tengah dan sungai tidak bisa protes maka airnya jadi hitam, bau busuk dan dangkal,”

“Iya, dan semua kehidupan di dalam atau sekitar sungai juga menghilang,” sahut Mustofa.

Angin semilir bertiup seiring dengan mendung yang mulai mengayut. Malam ini kemungkinan hujan akan turun dan mencuci air hitam yang tergenang di badan Sungai Karang Mumus saat surut. Bau semeribit yang tercium tak menganggu Mustofa dan Bondan yang bercengkerama di pinggir sungai. Bau busuk tak lagi jadi gangguan di penciuman mereka. Kebusukan yang tercium terus menerus kelak bahkan bisa dianggap sebagai wewangian.@yustinus_esha

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Serial Karang Mumus
ShareTweetSendShare
[the_ad id="77027"]
Previous Post

Jajaki Koalisi, PKB Usung Kader Luar

Next Post

PPP Sudah Satu Suara, DPC Bontang Benahi Kepengurusan

Related Posts

Serial Karang Mumus (30/Habis), Literasi Internet Sehat
Breaking News

Serial Karang Mumus (30/Habis), Literasi Internet Sehat

7 Maret 2017, 13:01
Breaking News

Serial Karang Mumus 27, Si Ikan Malas

4 Maret 2017, 13:01
Serial Karang Mumus (27), Peta Kekayaan Karang Mumus
Breaking News

Serial Karang Mumus (27), Peta Kekayaan Karang Mumus

3 Maret 2017, 13:01
Serial Karang Mumus (25) Tetap Berkorban Meski Tak Ada Pujian
Breaking News

Serial Karang Mumus (25) Tetap Berkorban Meski Tak Ada Pujian

2 Maret 2017, 13:00
Serial Karang Mumus (24 ), Cita Cita
Breaking News

Serial Karang Mumus (24 ), Cita Cita

1 Maret 2017, 13:01
Serial Karang Mumus (23) Tabiat Ilmu, Tabiat Air
Breaking News

Serial Karang Mumus (23) Tabiat Ilmu, Tabiat Air

28 Februari 2017, 13:00

Terpopuler

  • Capaian Pajak Sarang Walet di Bontang Masih Nihil

    Ironi Pajak Walet Bontang: Bangunan Ratusan, Setoran Nol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Reshuffle Kabinet Merah Putih, Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AH Kritik Analogi Gubernur Kaltim soal TGUPP yang Seret Nama Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.