Kisah Inspiratif Warga Bontang: Chahyo Hadi Wicaksono (178)
Roda kehidupan terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah yang dirasakan sosok Chahyo. Bekerja sebagai cleaning service (CS) pernah dilakoni. Berkat tekatnya yang kuat, akhirnya nasibnya berubah.
Bambang, Bontang
Usai menyelesaikan pendidikan di bangku Aliyah, Chahyo remaja memiliki keinginan yang besar untuk merantau. Kota pilihannya tertuju pada Bontang, lantaran kala itu dia memiliki paman yang tinggal di Kota dengan motto Kota Taman tersebut.
Namun keinginannya kurang disetujui orang tuanya, terutama dari sang ayah. Hal ini karena pada tahun 1979-1981 silam, sang ayah pernah merasakan sulitnya pergi ke Bontang.
“Mungkin karena saat itu medannya sulit dijangkau, sehingga Bapak tidak merekomendasikan saya merantau ke Bontang,” ujarnya.
Namun dari penuturan orang tuanya, terucap kata-kata “Kalau Bisa Jangan”. Dari itulah, akhirnya suami Ghena Sapta Martiana ini memiliki celah untuk melakukan diskusi dengan kedua orang tuanya mengapa alasannya sehingga dia tidak direkomendasikan untuk merantau ke Bontang. Chahyo pun memberikan penjelasan, dimana pun dia berada, maka rezekinya sudah diatur Allah SWT.
“Kalau seandainya kala itu orang tua melarang berangkat, saya tidak akan berangkat. Namun usai memberikan pemahaman, akhirnya saya mendapat restu orang tua merantau,” bebernya.
Pergi merantau tahun 2002, karena tak ingin menyusahkan pamannya, sehingga pertama kali Chahyo menginjakkan kaki di Bontang, dirinya bertekad mencari pekerjaan. Awal kerjaan yang pertama kali dia lakoni adalah cleaning service di Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang.
Berbagai tugas dia jalani seperti bersih-bersih kantor, mencuci motor, memotong rumput, hingga ikut memasang rambu-rambu lalu lintas di Bontang. “Intinya semua pekerjaan semua saya kerjakan saat itu,” ucapnya.
Melakoni pekerjaan itu kurang lebih setahun, di tahun 2003, dirinya mendapatkan informasi penting. Bermula dari iklan di koran yang saat itu mengumumkan jika ada program sekolah gratis, dirinya pun iseng-iseng mencoba program tersebut. “Saya tidak tahu jika program itu ternyata adalah kuliah. Saat dijalani, baru saya tahu jika pengumuman sekolah gratis itu adalah program kuliah,” ungkapnya.
Berbagai tahapan pun dia lalui untuk bisa mengikuti program tersebut, mulai dari mencari informasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bontang terkait persyaratannya, tes psikologi yang dilaksanakan di Unmul Samarinda, tes Samapta di Korem 091/ASN Samarinda, tes kesehatan di RSUD Wahab Sjahranie Samarinda, dan tes akademis di BKD Provinsi Kaltim.
Usai mengikuti semua tahapan dan dinyatakan lolos, akhirnya dirinya diberangkatkan ke Jatinangor Sumedang untuk menempuh pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor. Namun anehnya, selama menempuh pendidikan di bangku kuliah, Chahyo tidak pernah memberitahukan kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya baru tahu jika anaknya menempuh kuliah saat diundang dalam acara pengukuhan praja dari pihak kampus. Di acara pengukuhan ini, orang tua bertugas untuk memasangkan tanda pangkat kepada anak-anak mereka sebagai tanda telah lulus menempuh pendidikan.
“Jadi saat itu kami yang berjumlah 1.200 praja dibariskan di lapangan. Sementara orang tua bertugas mencari anaknya masing-masing. Saat menemukan saya, disitulah orang tua saya terharu bangga serta tidak pernah menyangka jika anaknya berhasil menempuh pendidikan kuliah,” terangnya.
Usai menempuh pendidikan itulah, tak lama Chahyo dikukuhkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Presiden SBY. Usai menjalani itu semua, dirinya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bontang.
Sudah merasakan ditempatkan di berbagai instansi, per 31 Desember 2016, dirinya akhirnya ditunjuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang untuk memimpin Kelurahan Bontang Baru. Baginya bisa memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat adalah tujuan utamanya.
“Kami juga di Bontang Baru memfokuskan untuk melakukan pembinaan ke anak-anak muda. Karena kami yakin, masa depan tentu akan ditentukan oleh masa sekarang. Jika saat ini masa depan generasi muda bagus, tentu di masa depan juga akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Ini juga sekaligus dalam rangka mendukung visi misi Pemkot Bontang,” pungkasnya (bersambung)
Tentang Chahyo
Nama : Chahyo Hadi Wicaksono
TTL : Kudus, 2 Januari 1984
Pekerjaan : Lurah Kelurahan Bontang Baru
Alamat : Jalan Kladi 1, Nomor 9 RT 4 Kelurahan Gunung Elai
Istri : Ghena Sapta Martiana
Anak : Aisyah Al-Humaira, Fatima Az-Zahra, Muhammad Amirul Hakim Al-Ghifary
Orang tua : Sugondo- Yuana Ernayanti
Pendidikan : Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Al-Tanbih Kudus
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’ahid Kudus
Madrasah Aliyah (MA) Negeri 2 Kudus
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
Riwayat Tugas
- Staf Pembantu Umum Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang 2002
- Staf Pembantu Bidang Mutasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bontang 2007
- Pelaksana harian (Plh) seksi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kelurahan Tanjung Laut 2007 – 2008
- Kasi Tata Pemerintahan Api-api 2008 – 2009
- Sekretaris Kelurahan Satimpo 2009 – 2010
- Sekretaris Gunung Telihan 2010 – 2012
- Sekretaris Gunung Elai 2012 – 2014
- Kasi Pengembangan Obyek Wisata (POW) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Bontang 2014 – 2016
- Lurah Bontang Baru 2016 – sekarang
Motto Hidup : Berfikir besar, Bekerja Untuk yang Besar, Syukuri hasilnya







