BONTANG – Jumlah pernikahan dini di Bontang terbilang cukup tinggi. Datanya mencapai 82 pasangan yang menikah dini akibat hamil duluan di tahun 2016. Hal tersebut disampaikan Psikolog Bontang Laela Shidiqqah di acara Pengukuhan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tingkat Kecamatan se-Kota Bontang di Auditorium Wali Kota Lama, Selasa (21/3) kemarin.
Dikatakan dia, banyaknya pasangan menikah dini akibat dari seringnya menonton film porno. Karena pornografi termasuk ke dalam narkotika lewat mata (narkolema). Narkolema ini dapat merusak 5 bagian otak, lebih parah dari narkotika yang dapat merusak 3 bagian otak.
“Ini jelas membuat saya syok dan harus menjadi perhatian bersama, mengapa hal ini muncul beragam kekerasan seksual terhadap anak,” jelas Laela, Selasa (21/3) kemarin.
Kekerasan seksual memang cukup tinggi. Tetapi ini harus menjadi perhatian agar jangan sampai terjadi lagi. Pernikahan yang disebabkan kehamilan duluan yang mencapai 82 pasang ini, artinya hubungan seksual di luar nikah cukup banyak. Mereka yang menyebabkan kehamilan lantas diselesaikan dengan pernikahan dan dilaporkan ke KUA. “Yang tidak dilaporkan tentu tak bisa terhitung,” ujarnya.
Laela menyatakan, data tersebut bukan hanya sekadar data, tetapi suatu hal yang perlu diwaspadai bersama. Pasalnya, perilaku seksual anak-anak remaja sudah cukup tinggi dengan hal-hal yang dilakukan.
Pihak P2TP2A juga telah melakukan beberapa upaya pencegahan berupa sosialisasi, penyuluhan di pengajian dan sekolah-sekolah.
Selain itu, dengan membentuknya P2TP2A di tingkat kecamatan, diharapkan kinerjanya bisa lebih intensif dan lebih sinergi. “Sehingga diharapkan bisa menjangkau daerah yang tak terjangkau oleh P2TP2A kota,” harapnya.
Pembuatan poster, iklan, serta informasi di layanan televisi juga diharapkan dapat membantu sebagai bentuk pencegahan. “Itu belum seberapa, karena perlu perhatian dan sinergitas dari berbagai pihak,” imbuhnya.
Tak hanya itu, data dari BP2KB Bontang tahun 2014 sampai tahun 2016 terdata bahwa jumlah kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Bontang ada peningkatan.
Untuk tahun 2014 kasusnya mencapai 84, tahun 2015 sebanyak 103 kasus dan tahun 2016 mencapai 121 kasus.
“Peningkatan kasus ini, bukan berarti kasusnya meningkat, tetapi menjadi referensi bahwa korban sudah berani melaporkan dan segera ditangani,” ujarnya.
Data tersebut pun, tergabung dari beberapa unit P2TP2A di Bontang. Mulai dari Polres, Polsek, Puskesmas, KUA, RSUD dan 4 rumah sakit swasta. Kasus yang ditangani P2TP2A pun mencapai 50 persen, karena sebagian telah selesai baik di Polres maupun KUA.
Kasus terbaru yang mengancam dan meresahkan masyarakat juga terkuaknya grup facebook paedofilia. Tersangkanya mulai dari usia remaja 16 tahun sampai 27 tahun.
Mereka aktif penggemar pornografi, di mana mereka melakukannya sejak SD. Data nasional tahun 2009, sebanyak 67 persen anak SD kelas 4-6 SD sudah menikmati pornografi. Tahun ini sudah mencapai 92 persen. “Ini merupakan bencana besar bagi anak-anak,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Forum Anak Kota Bontang, Muhammad Jaelani atau yang lebih dikenal dengan Fijay memaparkan hasil survei TRIAD KRR yakni 3 resiko yang dialami oleh remaja mulai dari seksualitas, HIV/AIDS dan napza. Hasil surveinya di Bontang cukup mencengangkan. Dipaparkan dia, untuk remaja usia SMP 24 persen sudah menonton film porno, usia SMA mencapai 46 persen. “Mereka juga ada yang pernah melakukan kegiatan seksual lainnya hingga berganti pasangan,” ungkapnya.
Untuk kasus sodomi, banyak dilakukan usia remaja hingga 21 tahun. Penyebabnya, karena pelaku sodomi pernah menjadi korban sodomi. Sementara lokasi yang sering dijadikan tempat melakukan hubungan seksual ialah paling banyak di rumah, lalu tempat wisata, hotel, penginapan dan tempat umum. “Banyak yang melakukannya di rumah saat orang tua mereka sedang bekerja,” ujarnya.
Sementara untuk kasus merokok, terbilang tinggi dibanding miras, dan ngelem. Namun demikian, sudah banyak anak SD yang terlibat ngelem.
Inilah yang membuat dirinya mempertanyakan dimana peran para orang tua, saat anak-anak atau remaja melakukan hal-hal tersebut. “Pertanyaannya, di mana kita semua?” tanya Fijay.
Perlakuan kenakalan remaja tersebut, lanjut Fijay, banyak dilakukan karena ketidaktahuan mereka tentang bahaya seks di luar nikah atau penggunaan napza termasuk HIV/AIDS.
Banyak dari anak-anak yang tidak mengerti Infeksi Menular Seksual (IMS), tes VCT untuk HIV/AIDS juga mereka tidak tahu. “Sehingga ada remaja SMP dan SMA yang sudah positif HIV, bahkan ada ODHA juga,” terang dia.
Untuk jumlah pernikahan dini akibat hamil duluan memang terbilang tinggi, Fijay menyebut semua itu merupakan dampak dari seringnya menonton film porno dan perilaku seksual lainnya. “Karena pornografi merupakan awal dari perlakuan seksualitas lainnya,” pungkasnya.(mga)






