SANGATTA – Tes urine untuk kalangan guru masih jarang dilakukan di Kutai Timur (Kutim). Bahkan nyaris tidak pernah terjadi. Karenanya, pimpinan baru Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim, Akhmadi Baharudin, mengaku tertarik atas wacana tes urine yang akan menyasar semua guru di Kutim. Karena selama ini, yang dilakukan tes urine hanya pegawai di kalangan Pemkab Kutim dan DPRD saja. Padahal, seluruhnya wajib mengikuti tes urine termasuk guru.
Tentunya, semua itu dilakukan untuk melihat apakah guru yang sedang memberikan pengajaran kepada anak didiknya bebas dari narkoba. Karena jika guru sudah bersentuhan dengan narkoba, maka jelas, sudah tidak laik untuk menjadi panutan bagi semua siswa dan siswinya. “Yang jelas, tes urine merupakan salah satu program pemerintah Kutim. Jadi mungkin saja kita akan lakukan,” ujar Akhmadi.
Karena pada prinsipnya, siapapun akan mendukung jika guru di Kutim wajib bebas dari narkoba. Sehingga tidak ada alasan menolak dilakukan tes urine. Itu semua untuk kebaikan guru, siswa dan tentunya Pemkab Kutim itu sendiri. Karena jangan sampai, hanya gara-gara oknum guru yang memakai narkoba, Pemkab Kutim menjadi buruk. Karenanya, semua guru wajib bersih dari narkoba. “Baik untuk karyawan Disdik maupun guru, wacana tes urine akan kita konsultasikan dengan bapak Bupati dan Wakil Bupati,” katanya.
Jika diaminkan bupati, maka pihaknya akan melaksanakan tes urine tersebut. Kemungkinan, akan dilakukan secara bertahap. Mengingat, banyaknya guru dan tentunya terbatasnya anggaran untuk melaksanakan secara besar-besaran. “Yang jelas, pada prinsipnya kita sangat dukung, akan melaksanakan selama ada dukungan dari Bupati. Karena, kita juga tersangkut anggaran. Mudahan saja, bisa kita laksanakan pada tahun 2017 ini,” harapnya.
Sementara itu,Kepala Sekolah SMA Negri Satu Sangatta Utara, Hasbi, juga mengaku mendukung penuh jika semua guru dites urine. Termasuk di sekolah yang dipimpinnya saat ini. Karena hal itu tentunya untuk kebaikan sekolah. Jangan sampai, sekolahnya menampung guru pecandu pemakai narkoba. “Setuju sekali. Itu bagus sekali. Jadi kita tidak masalah ada tes urine. Kami 100 persen mendukung jika guru dites urine,” katanya.
Bahkan dirinya mempersilahkan kepada guru yang menggunakan narkoba untuk dapat keluar dari sekolahnya. Karena hal itu akan membuat buruk nama sekolah. “Kalau pakai narkoba, keluar saja. Tidak layak jadi guru,” katanya. (dy)







