Kampung Bharu masih dipenuhi rumah-rumah panggung khas Melayu. Wartawan Jawa Pos M. HILMI SETIAWAN menelusurinya sampai ke bagian kampung yang menjadi surga kuliner Malaysia dan Indonesia akhir pekan lalu.
DENGAN ramah, Safar mempersilakan berkeliling di seputar rumah panggung itu. Pria dari Belawan, Medan, Sumatera Utara, tersebut hanya berpesan satu hal: jangan masuk ke bagian panggung.
”Cikgu Amir khawatir nanti rumahnya roboh,” katanya kepada Jawa Pos.
Cikgu Amir adalah majikan Safar, pemilik rumah adat khas Melayu di Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, tersebut. Pria 81 tahun yang berprofesi sebagai pengajar itu sedang bekerja saat Jawa Pos mampir ke sana Jumat lalu (11/1).
Ada 12 rumah khas Melayu di kampung tersebut. Namun, rumah Cikgu Amir bisa dibilang paling menonjol di kampung yang disebut sebagai kampung Melayu tersisa di Kuala Lumpur itu. Selain karena faktor usia yang sudah mencapai lebih dari satu abad, juga luas lahannya.
Dari jauh, rumah yang berdiri di lahan yang berukuran 8 x 100 meter tersebut terlihat seperti baru. Namun, ternyata itu karena baru dicat. Jika dilihat dari dekat, lubang rayap berada di mana-mana.
Khususnya di bagian daun jendela. Bahkan, beberapa daun jendela sudah tidak bisa ditutup rapat. Sebab, ada beberapa bagian yang terlepas di sisi-sisinya.
Tiang penyangga rumah cikgu sudah diganti menjadi beton cor. Sebab, kolong rumah dipakai untuk kontrakan sebanyak empat pintu.
Pada masanya dulu, bagian bawah rumah panggung Melayu dibiarkan begitu saja. Namun, sekarang kebanyakan bagian bawah sudah ditembok. Lalu dijadikan ruang keluarga, bahkan disewakan untuk kamar kos atau kontrakan.
Perubahan itu sekaligus menandai perubahan lanskap kampung-kampung khas Melayu, etnis mayoritas di Malaysia. Mengutip Biro Statistik Malaysia, per 2017 etnis Melayu mencapai 68,8 persen.
Namun, di ibu kota Kuala Lumpur, keberadaan kampung-kampung Melayu dengan ciri khas rumah-rumah panggung tradisional terus tergusur derap modernitas. Kampung Kerinchi dan Kampung Abdullah Hukum contohnya.
Kampung Bharu bisa dibilang sebagai the last man standing. Kampung itu hanya berjarak sekitar 800 meter dari Menara Kembar Petronas, ikon kebanggaan Malaysia.
Menjangkau kampung itu tidak terlalu sulit. Dari Stasiun KL Sentral, bisa menggunakan LRT (Rapid KL) ke arah Gombak. Kemudian turun di Stasiun Kampung Bharu. Jika dihitung dari stasiun KL Sentral, jaraknya hanya empat stasiun.
Dari Stasiun LRT Kampung Bharu, tinggal jalan kaki sekitar 1 km. Patokannya, berjalan ke arah Masjid Jami Kampung Bharu. Posisi permukiman warga Melayu di Kampung Bharu memanjang, mengikuti Jalan Raja Muda Musa selepas rumah susun (rusun) Kampung Bharu.
Menurut beberapa literatur, banyak tokoh terkenal yang lahir dari Kampung Bharu. Di antaranya, penyanyi legendaris Malaysia S.M. Salim. Kemudian, Dato Seri Suleiman Mohamad yang pernah menjadi wakil menteri penerangan.
Safar pernah mendengar cerita bahwa rumah cikgu yang menghadap ke utara itu sudah berumur 104 tahun. ”Awalnya, dulu daerah sini hutan,” katanya.
Alasan warga Melayu membangun rumah panggung adalah menghindari hewan buas. Sejak berdiri, rumah tersebut sudah direnovasi lima kali.
Menurut Safar, bagian lantai rumah Cikgu Amir sudah bukan papan kayu lagi. Melainkan telah menggunakan lantai beton dan dikeramik.
Pada hari-hari tertentu, misalnya akhir pekan, banyak wisatawan yang berkunjung. Untuk sekadar berfoto di pelataran rumah Cikgu Amir yang bisa menampung sampai 10 mobil. Sebab, rumah Cikgu Amir menjorok agak ke belakang.
Dari pelataran tersebut, dua kontras bisa disatukan: rumah panggung tradisional dan bangunan-bangunan modern bertingkat. Termasuk, Menara Kembar Petronas. ”Kalau lagi ramai, parkiran ini sampai penuh,” tuturnya.
Hamzah, pria 64 tahun yang sehari-hari berjualan koran persis di seberang rumah Cikgu Amir, mengenang, kampung-kampung Melayu tergusur sejak periode 1970-an. Itu seiring kian cepatnya derap pembangunan di negeri jiran Indonesia tersebut.
”Rumah saya tak jauh dari sini. Dekat Masjid Jami Kampung Bharu,” kata Hamzah, yang lahir dan besar di kawasan tersebut.
Eksistensi Kampung Bharu sebagai kampung khas Melayu juga entah bakal bertahan berapa lama. Saat Jawa Pos berbincang dengan Hamzah, bunyi pukulan palu dari proyek gedung bertingkat Legasi Kampong Bharu terus bersahutan. Seolah mengirim pesan kepada warga kampung, ”Kalian korban berikutnya.”
Hamzah menceritakan, ada beberapa rumah adat Melayu yang dibiarkan begitu saja. Sementara itu, para pemiliknya pindah ke kawasan lain. ”Dulu minum air di masjid jamik itu masih terasa segar. Sekarang beda,” katanya.
Dari kediaman Cikgu Amir, Jawa Pos melanjutkan perjalanan ke timur. Ternyata, selepas proyek pembangunan gedung bertingkat Legasi Kampong Bharu, ada beberapa rumah khas Melayu yang masih berdiri kukuh. Di antaranya, rumah yang ditinggali Azyzah Abdul Macid.
”Saya di sini menyewa. Sudah meyewa rumah ini lama sekali,” kata perempuan 64 tahun itu di sela-sela menjemur baju.
Biaya sewa rumah tersebut 800 ringgit (Rp 2,7 juta) setiap bulan. Ruangan di atas panggung digunakan untuk ruang keluarga dan kamar tidur. Sementara itu, bagian bawah digunakan sebagai ruang makan.
Lantai rumah panggung tersebut masih berupa papan-papan kayu. ”Saya lapisi tikar,” katanya.
Azyzah mengaku betah tinggal di sana. ”Tinggal di rumah panggung khas Melayu mengingatkan ketika masih kecil dahulu,” tutur dia.
Dulu di seberang rumahnya tersebut ada pasar yang sangat ramai. Juga, ada kedai kopi dan makanan khas Melayu. Salah satu makanan khas yang paling populer adalah nasi lemak.
Di Jakarta, nasi lemak itu mirip nasi uduk. Lauknya ikan teri dan telur, dilengkapi dengan mentimun dan kacang tanah goreng.
Namun, setelah ada pembangunan gedung bertingkat, pasar yang dahulu ramai, menjadi jujukan warga untuk berbelanja, sudah tidak ada lagi. ”Sekarang jadi apartemen,” katanya.
Azyzah menambahkan, sampai saat ini Kampung Bharu memiliki julukan sebagai surganya kuliner. Sebab, pada malam hari banyak warung yang menjajakan makanan. Bukan hanya makanan Malaysia. Ada pula kuliner Indonesia seperti masakan Padang. Juga, sajian khas dari India dan Timur Tengah.
”Sore hari menjelang magrib ramai sekali,” tuturnya.
Sayang, Jawa Pos tak bisa menunggu sampai sore tiba. Untuk melihat seberapa ramai pusat jajanan itu sekaligus menghayati denyut kampung Melayu yang tersisa tersebut di malam hari. Sebelum tergusur derap kemajuan Kuala Lumpur. (jpg)







