Selalu berusaha melakukan yang terbaik. Begitulah Rusmadi Wongso menjalani hidup. Sejak di bangku sekolah hingga menjadi pejabat aparatur sipil negara (ASN) tertinggi di Kaltim, prinsip ini tak pernah lepas dari genggamannya.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
MASA kanak-kanak dan remaja begitu berpengaruh dalam perjalanan hidup Rusmadi Wongso. Sedari kecil, pria kelahiran 30 Oktober 1962 ini telah akrab dengan kehidupan yang sulit. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Rusmadi tidak tinggal diam. Dia sudah ikut membantu orang tuanya dengan berjualan es lilin selepas pulang dari sekolahnya, SDN 13 Sidomulyo Samarinda.
“Saya lahir dan besar di Samarinda, di kawasan Sungai Dama,” kata Rusmadi yang saat kecil sempat bercita-cita menjadi pilot.
Meski hanya berprofesi sebagai tukang las, Misdie Wongso sang ayah tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Termasuk Rusmadi yang begitu bersemangat dalam menimba ilmu di bangku sekolah.
Kesungguhan yang dia terapkan di sekolah, membuatnya meraih sederetan prestasi yang membanggakan. Semasa SMP, Rusmadi terpilih sebagai pelajar teladan di sekolahnya, SMPN 2 Samarinda. Dia lantas terpilih menjadi juara kedua dalam lomba pelajar teladan tingkat Samarinda di tahun 1977.
“Bukan sekadar sekolah, saya selalu upayakan bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik waktu itu,” terangnya.
Di sekolah, Rusmadi juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Bahkan dia dipercaya menjadi ketua regu. Dari kegiatan di pramuka inilah, Rusmadi belajar banyak hal yang dibawanya hingga dewasa. Di antaranya kedisiplinan, saling menghargai satu sama lain, dan kerja sama bergotong royong.
Lulus dari SMAN 1 Samarinda, Rusmadi menggantungkan asa menjadi seorang guru. Baginya kala itu menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Karena selain bisa berbagi ilmu, guru juga ikut berperan dalam pembentukan karakter serta kepribadian anak-anak murid. Namun Rusmadi justru masuk ke jurusan ekonomi pertanian di Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
“Karena waktu itu Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan yang sedang populer,” ungkap Rusmadi.
Prestasi akademik yang mentereng kembali ditorehkannya di bangku kuliah. Tahun 1986 Rusmadi berhasil lulus sebagai salah satu lulusan terbaik Unmul. Bekal ilmu pertanian yang dimiliki lantas membawanya bekerja sebagai tenaga honor di Balai Informasi Pertanian di bawah Kantor Wilayah Kementerian Pertanian di Samarinda tahun 1987. Setahun di sana, peluang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) datang.
“Secara bersamaan, ada penerimaan PNS di Kementerian Pertanian dan di Unmul. Saya mengikuti penerimaan di Unmul dan lulus sebagai PNS di sana,” jelas suami dari Herli Warsita ini.
Cita-cita menjadi seorang pengajar akhirnya berhasil dia rasakan. Tahun 1988, Rusmadi mulai berkarier sebagai dosen di Fakultas Pertanian Unmul. Sembari melanjutkan pendidikan pascasarjananya di Universitas Brawijaya yang kala itu bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada (UGM). Kembali mencetak prestasi, gelar S2 tersebut diraih Rusmadi dengan predikat cumlaude tahun 1992.
Tidak berhenti di situ, semangat menuntut ilmu membawa Rusmadi ke Filipina. Di negeri berjuluk lumbung padi tersebut, Rusmadi menyelesaikan pendidikan S3 bergelar doctor of philosopy alias PhD tahun 2001. Gelar doktornya ini sendiri dilabeli honor of society of agriculture, Gamma Sigma Delta. “Saya memang suka belajar dan terbiasa disiplin sejak kecil,” tambahnya.
Kariernya sebagai akademisi di Unmul perlahan menanjak. Dari dosen biasa, menjadi Sekretaris Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah Unmul dalam rentang 1996-1998. Kemudian, menjadi Asisten Direktur Program Magister Pertanian dalam tempo 2002-2005.
Berikutnya, menjadi Pembantu Dekan Bidang Akademik, Fakultas Pertanian Unmul antara 2005 sampai 2008. Hingga pada akhirnya menjadi Dekan Fakultas Pertanian Unmul yang dijalaninya dalam rentang waktu 2008-2009.
Walau menjadi seorang dosen, ilmu yang dimiliki Rusmadi bukan hanya untuk diajarkan pada para mahasiswa. Melainkan, juga diterapkannya dalam membantu program-program pembangunan di Kaltim. “Saya sering diminta untuk membantu penyusunan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) di daerah-daerah yang ada di Kaltim,” ungkap Rusmadi.
Saat masih menjadi akademisi, Rusmadi juga terlibat dalam kegiatan non government organization (NGO). Salah satunya dalam program Building Institution for Good Governance atau disingkat BIGG. Dalam program yang diselenggarakan International City County Management (ICMA) ini, Rusmadi banyak bersentuhan dengan fungsi budgeting.
“Tepatnya menangani performance budgeting atau anggaran berbasis kinerja. Saat itu wilayah proyek ini di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan,” kisah pria yang akrab dipanggil Cak Rus ini.
Dalam program yang diikutinya selama 2004 hingga 2006 ini, Rusmadi kerap berhubungan dengan pihak legislatif dan eksekutif. Dari situ dia banyak belajar mengenai penyusunan anggaran yang di kemudian hari akrab menghiasi meja kerjanya.
Keterlibatan dalam proyek NGO mendorong Rusmadi untuk ikut mendirikan NGO. Tahun 2005, dia mendirikan NGO yang diberinya nama C_Force, kepanjangan dari Center for Community Empowerment and Economics. Di organisasi ini, Rusmadi bertindak sebagai direktur. Kata dia, pembentukan NGO ini dilandasi keinginannya ikut melakukan pemberdayaan pada masyarakat.
“NGO ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Kebetulan sebagai akademisi, saya bisa mempelajari persoalan-persoalan di masyarakat. Dari situ saya merasa masyarakat membutuhkan penguatan. Itulah kenapa saya mendirikan C_Force,” papar ayah dua anak ini.
NGO bentukannya ini kemudian mendapat proyek corporate social responsbility (CSR) di bidang pertambangan. Yang terselenggara berkat kerja sama dengan Partnership for Government Reform Indonesia (PGRI) melalui Uni Eropa. Dalam proyek ini, Rusmadi bersama C_Force mesti memastikan bahwa dana CSR dari perusahaan bisa digunakan secara efektif dan tidak tumpang tindih dengan program pemerintah.
“Untuk itu kami membentuk multi stakeholder forum, yang terdiri dari para pemangku kepentingan yang berkaitan di dalamnya. Apa yang kami lakukan ini mendapat apresiasi dari Menko Kesra, diganjar penghargaan CSR Award yang diberikan kepada Pak Awang Faroek selaku gubernur Kaltim,” urainya.
Tidak bisa dimungkiri, kiprah sebagai akademisi sekaligus pegiat NGO ini membuat nama Rusmadi banyak dikenal. Termasuk oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Usut punya usut, rupanya perkenalan Rusmadi dengan Awang Faroek sudah terjalin jauh sebelum itu. Baik Rusmadi dan Awang Faroek sama-sama aktif di kegiatan pramuka. Selain itu, Awang Faroek juga rupanya pernah menjadi dosen Rusmadi di bangku kuliah.
“Pak Awang Faroek itu dosen saya untuk mata kuliah kewiraan. Saya ingat beliau membuka kelasnya pagi-pagi sekali, pukul 06.00 Wita sudah dimulai. Mungkin karena di waktu tersebut pikiran masih fresh untuk menerima pelajaran,” kata Rusmadi bercerita.
Dengan latar belakang keilmuan ekonomi pertanian yang dimiliki, Rusmadi dianggap kompeten membantu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dalam pembangunan yang tengah digalakkan. Apalagi Awang Faroek selaku gubernur di masa awal kepemimpinannya memiliki visi dan misi menjadikan Kaltim sebagai pusat agroindustri.
Dari seorang akademisi, Rusmadi dipercaya gubernur menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim. Rusmadi ingat, tanggal 2 Februari 2009 menjadi hari pertamanya berkarier di birokrasi Pemprov Kaltim. Yang perlahan membawa pria kelahiran Samarinda, 55 tahun lalu ini menjadi pejabat ASN tertinggi di Banua Etam. (bersambung)







