• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Perjalanan Abdul Kahar Mim di Dunia Tenis Lapangan (2/Habis); Dirikan Kampus Tenis, Ditawari Jadi Warga Australia

by BontangPost
12 Juli 2017, 12:37
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Kahar Mim(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Kahar Mim(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi Abdul Kahar Mim, bermain dan melatih tenis lapangan bukan sekadar tentang menang atau kalah. Melainkan sebuah motivasi agar putra-putri daerah bisa bersaing di tingkat nasional, tidak kalah dengan para petenis dari Jawa.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

MASIH teringat jelas dalam memori Kahar saat namanya dicoret dari daftar pemain yang bakal membela Indonesia di Davis Cup. Yang membuatnya sedih, pencoretannya tersebut tidak disertai alasan yang jelas. Sementara, dalam setiap sesi penilaian fisik persiapan Davis Cup, Kahar selalu menjadi yang terbaik.

“Saya dicoret, digantikan dengan pemain asal Jakarta. Dari situ saya menilai bahwa pengurus menganaktirikan para pemain yang berasal dari luar Jawa,” kenang Kahar kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Kecewa, Kahar memutuskan mundur dari pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang telah membesarkan namanya. Ketidakcocokan dengan kepengurusan kala itu membuatnya terpaksa mengambil keputusan berat tersebut di penghujung 1991. Karier cemerlang Kahar sebagai pemain tenis nomor satu di pelatnas pun mesti diakhirinya.

Setelah mundur dari pelatnas, Kahar sempat vakum mengikuti turnamen tenis lapangan. Hingga kemudian di tahun 1992, sang ayah menyemangati untuk kembali bermain tenis. “Kata ayah, walau tidak lagi di pelatnas, saya mesti membuktikan bahwa saya masih bisa menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Dorongan sang ayah pun dijawab Kahar dengan kembali mengikuti turnamen-turnamen tenis. Beragam turnamen terbuka yang digelar di berbagai daerah di Indonesia diikutinya. Hasilnya tak mengecewakan, dalam rentang 1992-1993, dia sukses membawa pulang sembilan gelar juara pertama. Keberhasilannya ini sempat mendapat pujian banyak pelatih tenis Indonesia.

“Mereka bilang saya sangat tepat untuk masuk ke pelatnas. Tapi kenyataannya, pengurus pelatnas tetap tidak memanggil saya,” tutur Kahar.

Di tahun 1993, Kahar memutuskan untuk gantung raket. Medali emas ganda campuran PON XIII menjadi prestasi terakhirnya waktu itu. Tak lagi bermain tenis, Kahar memilih mendirikan Kampus Tenis di Jakarta. Mulailah dia melakoni karier sebagai pelatih tenis dengan porsi teori dan praktik yang seimbang.

Baca Juga:  Dari Keripik, Sekolahkan Anak Hingga S2

“Bukan sekadar langsung praktik, di Kampus Tenis saya juga membekali para murid dengan teori-teori dasar,” jelasnya. Adapun alasan Kahar mendirikan kampus tenis kala itu bukan hanya untuk menularkan ilmu tenis. Melainkan juga untuk untuk menyalurkan hobinya bermain dan melatih tenis.

Sempat menikmati dua tahun masa istirahat, Kahar mendapat tawaran untuk tampil di PON. Bukan dari KONI Kaltim, melainkan dari KONI Sulawesi Utara (Sulut). Faktor usia membuatnya dipilih bermain untuk nomor ganda. Walau begitu, Kahar masih bisa menorehkan prestasi. Bersama rekannya, dia diganjar medali perak.

“Saya bermain di ganda karena sudah kelelahan bila harus bermain tunggal. Ternyata saya masih bisa berprestasi,” kata Kahar.

Sederetan prestasi yang dicetak Kahar, membuatnya dilirik bekerja di sektor formal. Tahun 1996, dia diangkat menjadi pegawai di Bank Jabar. Kebetulan kala itu pimpinan bank gemar bermain tenis. Sehingga Kahar mendapat kelonggaran pulang lebih awal untuk mengurus Kampus Tenis miliknya. Namun saat terjadi pergantian kepemimpinan tahun 1998, dilema pun muncul.

“Pemimpin yang baru tidak suka olahraga tenis. Saya diminta pulang sesuai waktu yang ditentukan. Di situ saya dihadapkan pada dua pilihan, tetap bekerja di bank atau berhenti agar bisa tetap bermain tenis,” ceritanya.

Kecintaan Kahar pada akhirnya membuat dia memilih berhenti bekerja di bank. Kahar kembali fokus menjadi pelatih tenis. Rupanya nama besarnya kala itu belum sepenuhnya dilupakan. Tahun 1998, Australia memercayainya untuk melatih tim nasional junior kelompok usia 14 tahun.

Kemampuan melatih yang dimiliki Kahar rupanya membuat “Negeri Kanguru” jatuh hati. Sehingga tim Australia berminat memperpanjang kontraknya setelah masa setahun berlalu. Bahkan Kahar mendapat tawaran untuk pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Australi. Meski menggiurkan, faktanya tawaran ini dia tolak. Faktor keluarga menjadi pertimbangan Kahar waktu itu.

Baca Juga:  Sefteanus, Tergerak Jadi Hamba Tuhan Full-Time 

“Terlalu jauh dari keluarga, makanya saya tolak,” sebut Kahar yang mengaku sempat bercita-cita menjadi pilot.

Tahun 2003, Kahar kembali bekerja di sektor formal. Dia ditarik untuk bekerja di Pertamina Jakarta. Kebetulan saat itu Pertamina membutuhkannya untuk tampil sebagai pemain tenis dalam turnamen di internal perusahaan. Pimpinan perusahaan kala itu juga seorang penggemar olahraga tenis lapangan.

Namun peristiwa yang dia alami di Bank Jabar kembali terulang setelah dua tahun bekerja di Pertamina. Pergantian pemimpin membuatnya kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Tetap bekerja dengan posisi menjanjikan di perusahaan, atau kembali menjadi pelatih tenis.

“Masalahnya sama, ganti pimpinan. Nah, pimpinan yang baru tidak suka tenis. Saya lebih memilih tenis dan berhenti bekerja. Padahal pekerjaan saya waktu itu terbilang menjanjikan,” kisahnya.

Pada akhirnya, Kahar kembali lagi ke tanah kelahirannya. Tahun 2011, dia dipanggil ke Kaltim untuk melatih tim PON Kaltim 2012. Setelah melalui persiapan selama tujuh bulan, hasil pelatihan Kahar diuji. Dia berhasil membawa anak-anak didiknya meraih dua medali perunggu, masing-masing untuk nomor ganda putra dan beregu putra.

Usai PON, Kahar sempat melatih di Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim selama enam bulan. Dia juga menjalani profesi sebagai pelatih lepas. Ketika hendak kembali ke Jakarta di 2014, dia direkemondasikan oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Samarinda kala itu, Aji Syarif Hidayatullah menjadi pelatih tenis di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Samarinda.

“Sampai sekarang saya menjadi pelatih di Dispora dengan status tenaga honor. Di tahun ini, saya dipercaya Pelti (Persatuan Tenis Seluruh Indonesia) Samarinda menjadi pelatih kepala untuk kelas junior,” sebut pria kelahiran Samarinda, 51 tahun lalu ini.

Baca Juga:  Hujan Interupsi Warnai Laporan Akhir Pansus RSI, Pemprov Tetap Banding, Pemkot Tunggu Jaang

Sebagai pelatih, Kahar tidak membebani anak-anak didiknya untuk harus menang dalam turnamen. Baginya, bila anak didiknya bisa mempraktikkan apa yang telah diajarkan saat berlatih, itu sudah cukup membuatnya senang. Kalah menang menurutnya merupakan hasil yang perlu dipandang secara positif.

“Kalau mengalami kekalahan, bukan berarti permainan kami tidak bagus. Bisa saja karena lawan yang lebih bagus permainannya. Ini yang perlu dievaluasi apa kekurangannya. Sementara kalau menang, tetap dijadikan bahan evaluasi. Bagi saya kemenangan itu bonus,” ungkapnya.

Kata Kahar, untuk menjadi pemain tenis yang baik, mesti disiplin dalam berlatih. Serta rajin mengikuti turnamen-turnamen yang ada untuk menambah pengalaman. Berlatih pun tidak mesti memakan waktu lama sebagaimana dirinya saat di pelatnas. Melainkan disesuaikan dengan waktu yang ada bila memiliki kesibukan lainnya.

“Mengikuti banyak turnamen itu penting, karena dari situ bisa mempraktikkan apa yang dilatih selama ini,” sambung pehobi baca dan nonton film ini.

Kahar punya harapan, para pemain tenis yang merupakan putra-putri daerah asal Kaltim bisa meraih prestasi yang membanggakan. Dia selalu menyemangati anak-anak didiknya untuk bisa membuktikan bahwa tenis lapangan bukan hanya didominasi para pemain dari Jawa. Mantan pemain nomor satu Indonesia ini ingin Kaltim bisa kembali kembali berjaya sebagaimana di eranya dulu.

“Yaitu Kaltim yang bisa berprestasi dengan para pemain asli putra-putri daerah. Tentunya perlu mendapat dukungan dari pemerintah dan sponsor untuk bisa mewujudkan hal tersebut,” pungkas pria yang ikut membawa Indonesia masuk 16 besar grup dunia Davis Cup ini. (***)

TENTANG KAHAR

Nama: Abdul Kahar Mim

TTL: Samarinda, 6 November 1966

Pendidikan:

  • SD Muhammadiyah Samarinda
  • SMP Negeri 1 Samarinda
  • SMA Negeri 2 Samarinda
  • Universitas Terbuka

Alamat: Perum Sambutan Idaman Permai, Blok H1 Nomor 38 RT 30 Pelita 7, Sambutan, Samarinda

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kisah inspiratifMetro Samarinda
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Herwan Siap Jadi Wakil, Tidak Ada Paksaan dari Hanura

Next Post

Perjalanan Hidup Rusmadi Wongso, Sekretaris Provinsi Kaltim (1); Jadi Terbaik sejak Muda, Terapkan Ilmu Bantu Masyarakat

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10

Terpopuler

  • Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Bontang Gelar Mutasi Besok, Nama Pejabat Masih Dirahasiakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpol PP dan Dishub Kembali Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Trotoar Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1.700 Personel Kawal Demo 21 April di Samarinda, Kantor Gubernur dan DPRD Jadi Sasaran Aksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.