Sebelum menjadi komisioner di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kaltim, Tri Heriyanto menjalani aktivitasnya sebagai seorang dai. Panggilan jiwa untuk menyebarkan ilmu agama yang membawanya menginjakkan kaki di Banua Etam.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Cita-cita Tri saat muda ingin menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berbagai persiapan dia lakukan demi bisa memenuhi keinginannya tersebut. Salah satunya dengan bergabung di Resimen Mahasiswa (Menwa) di kampusnya, di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Pasalnya di kegiatan ekstra kampus tersebut, Tri mendapat pelatihan ala militer.
“Saat aktif di Menwa, saya pernah ditugaskan selama tiga bulan di Timor Timur (sekarang Timor Leste), saat masih menjadi bagian Indonesia. Jadi sudah seperti tentara betulan,” kenang Tri saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Jumat (28/4) kemarin.
Setelah lulus kuliah tahun 1997, Tri pun langsung melamar menjadi anggota TNI. Dia mendaftar melalui jalur perwira sumber sarjana. Bila berhasil lulus, Tri bakal menyandang pangkat letnan dua. Berbekal pengalaman di Menwa, sejumlah tahapan seleksi berhasil dilaluinya dengan manis. Sayangnya, dia gagal di tahap terakhir.
“Saya gagal di pantukhir (penentuan tahap akhir). Setelah itu, saya tidak pernah lagi mendaftar tentara,” kata Tri.
Tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan, Tri lantas mulai berwiraswasta. Di tahun 2000, dia mulai menjalankan usaha mebel di kampung halamannya, Boyolali, Jawa Tengah. Pada awalnya usaha mebel ini berjalan baik dan sangat menjanjikan. Namun karena kekeliruan manajemen, perlahan usahanya mengalami kolaps.
Di saat bersamaan, ada program dai daerah terpencil dari Kementerian Agama (Kemenag) RI. Sebagai sarjana akidah-filsafat Agama Islam, Tri terpanggil untuk mengikuti program tersebut. Dia lantas memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kaltim. Kabupaten Paser menjadi daerah tujuannya untuk menyebarkan ilmu Agama Islam.
”Saya ingin menularkan ilmu yang saya peroleh di kampus. Walaupun waktu itu saya sendiri belum pernah ke Paser atau daerah-daerah lainnya di Kaltim,” terangnya.
Namun keinginan mulia tersebut sempat mendapat halangan dari sang ayah, Kusmin. Oleh sang ayah, Tri sempat dicegah untuk berangkat ke Kaltim. Kemungkinan sang ayah khawatir memikirkan Tri yang hidup tanpa sanak keluarga di perantauan. Apalagi lokasi yang dituju Tri merupakan daerah terpencil.
“Tapi saya bisa meyakinkan ayah dan ibu saya, kalau saya akan baik-baik saja dan tak lama berada di Kaltim. Saya yakinkan kalau setiap waktu saya bisa kembali ke Boyolali. Mereka pasrah melepas kepergian saya,” ungkap Tri.
Dia masih ingat jelas saat pertama kali menjejakkan kaki di Paser, Juli 2005. Bukan melalui jalur udara, melainkan melewati jalur laut melintasi Banjarmasin hingga tiba di Tanah Grogot. Setibanya di Paser, Tri langsung menjalankan tugas sebagai dai di desa terpencil dalam program yang digagas Pemkab Paser melalui Kementerian Agama (Kemenag).
Tiga tahun menjadi dai, Tri pulang kampung ke Boyolali. Dia terperanjat tatkala mendapati sang ayah tengah sakit. Padahal ketika ditinggalkan dulu, sang ayah masih terlihat segar bugar. Masih bisa berkomunikasi dengan baik dan berbicara dengan lancar. Rupa-rupanya sang ayah terkena strok.
“Saya terduduk dan menangis ketika tiba di rumah. Saya melihat ayah terbaring. Ayah kena stroke. Beliau tak bisa berkomunikasi lisan,” kenang anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Yang membuat Tri semakin sedih, sang ayah hanya bisa berkomunikasi melalui kode-kode tangan. Dia pun berbicara menggunakan bahasa isyarat dengan sang ayah. Dengan kondisi sang ayah yang begitu memprihatinkan, Tri sempat berpikir untuk tidak kembali ke Kaltim. Namun tanggung jawab tugas telah menantinya di Paser.
“Saya sebenarnya tidak tega meninggalkan ayah dalam kondisi sakit. Tapi tugas lain menunggu saya di Paser,” ujarnya.
Sekembalinya ke Paser, Tri mulai terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan pemilu. Dia terpilih menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Paser di tahun 2009. Keinginan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilu mendasarinya berkiprah di lembaga pengawas pemilu.
“Saya mulai terlibat dalam pengawasan pemilu di tahun 2008. Saat itu saya menjadi anggota Panwascam (Panitia Pengawas Kecamatan) di Kecamatan Kuaro, Paser,” jelas pria kelahiran Boyolali, 47 tahun lalu ini.
Dalam perjalanan dinas dari Denpasar, Tri mampir ke kediaman orang tuanya di Boyolali. Saat itu dia mendapati sang ayah dalam kondisi kritis. Tri lantas memutuskan tinggal sementara waktu di Boyolali untuki menemani sang ayah. Dia pun terus memanjatkan doa agar sang ayah mendapat kesembuhan dari Tuhan.
“Tapi Tuhan berkehendak lain, ayah saya meninggal. Saya bersyukur berada di samping beliau saat mengembuskan napas terakhir,” tambah Tri.
Kembali ke Paser, Tri melanjutkan tugasnya mengawasi pelaksanaan pemilu. Dalam rentang 2009 hingga 2010, dia aktif menjadi anggota Panwaslu Paser. Dia bertugas mengawasi jalannya Pemilu Legislatif (Pileg), Pemilu Presiden (Pilpres), dan Pemilu Bupati (Pilbup) Paser kala itu.
“Di awal 2012, saya ikut dalam seleksi penerimaan Bawaslu Kaltim. Saya terpilih menjadi komisioner di Bawaslu Kaltim periode 2012-2017. Sebagai koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antarlembaga,” tandas pria yang juga menjabat Wakil Ketua GP Ansor Kaltim ini. (bersambung)







